Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Asian Journal of Applied Education (AJAE) Volume 5 Nomor 3 Tahun 2026. Temuan ini menjadi penting karena keterampilan berpikir kreatif merupakan salah satu kompetensi utama yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka dan menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Materi larutan penyangga selama ini dikenal sebagai salah satu topik kimia yang cukup sulit dipahami siswa. Konsepnya melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari definisi, komponen penyusun, mekanisme kerja, perhitungan pH, hingga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Banyak siswa mengalami kesulitan menghubungkan berbagai konsep tersebut sehingga proses pembelajaran sering kali terasa rumit dan kurang menarik.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di SMA Negeri 22 Surabaya, sebanyak 91,4 persen siswa mengaku kesulitan memahami materi larutan penyangga. Sebanyak 88,6 persen siswa juga mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep-konsep yang saling berkaitan. Selain itu, 94,3 persen siswa belum pernah menggunakan strategi mind mapping dalam pembelajaran kimia.
Melihat kondisi tersebut, tim peneliti mengembangkan Student Activity Sheet (SAS) atau lembar aktivitas peserta didik yang mengintegrasikan strategi mind mapping dengan model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS). Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar secara mandiri, tetapi juga berdiskusi dengan pasangan dan berbagi hasil pemikiran mereka kepada kelompok yang lebih besar.
Strategi mind mapping sendiri merupakan teknik visual yang membantu siswa mengorganisasi informasi menggunakan kata kunci, warna, simbol, dan gambar. Metode ini memungkinkan siswa melihat hubungan antar konsep secara lebih jelas sehingga memudahkan proses memahami dan mengingat materi pembelajaran.
Penelitian dilakukan terhadap 36 siswa kelas XI SMA Negeri 22 Surabaya. Pengembangan perangkat pembelajaran mengikuti model 4D yang terdiri atas tahap Define, Design, Develop, dan Disseminate, dengan fokus utama pada tahap pengembangan dan uji coba produk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembar aktivitas yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan yang sangat tinggi. Validasi yang dilakukan oleh tiga ahli menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran tersebut memenuhi standar kualitas baik dari sisi materi maupun desain pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya, guru mampu menerapkan seluruh tahapan pembelajaran dengan tingkat keterlaksanaan mencapai 97,83 persen. Aktivitas siswa selama pembelajaran juga sangat tinggi dengan rata-rata 98,82 persen, menunjukkan bahwa siswa terlibat aktif dalam setiap proses belajar.
Selain itu, respons siswa terhadap penggunaan lembar aktivitas berbasis mind mapping mencapai 96,67 persen dalam kategori sangat praktis. Sebagian besar siswa merasa pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah dipahami, dan membantu mereka menghubungkan berbagai konsep kimia yang sebelumnya dianggap sulit.
Peningkatan kemampuan siswa terlihat jelas pada hasil tes sebelum dan sesudah pembelajaran. Pada kemampuan membuat mind map, skor rata-rata siswa meningkat dari 38,15 menjadi 84,75. Nilai peningkatan atau N-Gain mencapai 0,76, yang termasuk kategori tinggi.
Sementara itu, kemampuan berpikir kreatif siswa juga mengalami peningkatan signifikan. Nilai rata-rata sebelum pembelajaran berada pada angka 38,75 dan meningkat menjadi 83,47 setelah menggunakan lembar aktivitas berbasis mind mapping. Nilai N-Gain sebesar 0,72 menunjukkan peningkatan yang termasuk kategori tinggi.
Menurut Fernanda Febrya Ayu Putri dan Mitarlis, peningkatan tersebut terjadi karena strategi mind mapping memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan empat aspek utama berpikir kreatif, yaitu kelancaran menghasilkan ide (fluency), fleksibilitas berpikir (flexibility), kemampuan mengembangkan gagasan (elaboration), dan orisinalitas (originality).
Melalui peta pikiran yang dibuat sendiri, siswa dapat menyusun konsep secara sistematis, menemukan hubungan antar materi, serta mengekspresikan ide dalam bentuk yang lebih kreatif. Penggunaan warna, simbol, dan gambar juga mendorong siswa untuk lebih aktif dalam mengonstruksi pengetahuan mereka.
Temuan ini memberikan implikasi penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sains dan kimia. Guru dapat memanfaatkan strategi mind mapping sebagai alternatif untuk mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi yang kompleks. Pendekatan ini juga sejalan dengan arah Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta didik.
Selain meningkatkan hasil belajar, penggunaan lembar aktivitas berbasis mind mapping berpotensi membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik maupun dunia kerja di masa depan. Kemampuan menghasilkan ide baru, memecahkan masalah, dan menghubungkan berbagai informasi menjadi kompetensi yang semakin relevan di era transformasi digital.
Penelitian ini juga membuka peluang pengembangan perangkat pembelajaran serupa pada materi kimia lainnya maupun pada mata pelajaran yang berbeda. Dengan demikian, strategi visual seperti mind mapping dapat menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Profil Penulis
Fernanda Febrya Ayu Putri merupakan peneliti dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang memiliki minat penelitian pada pengembangan perangkat pembelajaran kimia, strategi pembelajaran inovatif, dan pengembangan keterampilan berpikir kreatif siswa.
Prof. Dr. Mitarlis, S.Pd., M.Si. adalah Guru Besar dan dosen Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Surabaya. Bidang keahliannya meliputi pendidikan kimia, pengembangan media pembelajaran, desain pembelajaran inovatif, serta peningkatan keterampilan berpikir siswa melalui pendekatan pembelajaran modern.
Sumber Penelitian
Putri, Fernanda Febrya Ayu & Mitarlis. (2026). “Development of Student Activity Sheets (SAS) Using Mind Mapping Strategy to Enhance Creative Thinking Skills in the Topic of Buffer Solutions.” Asian Journal of Applied Education (AJAE), Vol. 5 No. 3, 2026, halaman 425–436.
0 Komentar