Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Edukasi Keuangan Gereja Efektif Benteng Anak Muda dari Jerat Pinjol Ilegal dan Perilaku Konsumtif. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Fery Tobing, Riwandari Juniasti, Feliks Setia Wau, Selvia De Wana, dan Roma Ulina Sinaga dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 7 Tahun 2026 menyoroti bahwa program pemberdayaan berbasis komunitas keagamaan di Gereja HKBP Rawamangun berhasil meningkatkan literasi keuangan digital serta memperkuat kewaspadaan generasi muda terhadap risiko finansial di era serba digital.
Pesatnya perkembangan teknologi finansial (fintech) telah mempermudah berbagai transaksi keuangan, mulai dari pembayaran digital hingga pinjaman instan. Namun, kemudahan ini kerap menjadi jebakan bagi generasi muda yang memiliki tingkat literasi keuangan terbatas. Akses internet yang sangat terbuka, godaan gaya hidup konsumtif akibat tren media sosial, serta minimnya pemahaman penganggaran mandiri membuat remaja menjadi sasaran empuk platform fintech tidak resmi yang berpotensi merugikan secara finansial maupun psikologis. Guna mengatasi permasalahan tersebut, para peneliti dari Program Studi Analisis Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Kristen Indonesia merancang dan mengevaluasi program edukasi terstruktur bagi remaja di Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur. Penelitian ini menjadi sangat krusial karena menunjukkan bagaimana institusi sosial-keagamaan dapat mengambil peran aktif dalam melindungi generasi muda dari ancaman kejahatan digital yang kian marak.
Pendekatan Sederhana dan Interaktif dalam Pembelajaran Finansial
Untuk mengukur efektivitas program edukasi ini, tim peneliti UKI menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif yang dipadukan dengan desain kuantitatif sebelum dan sesudah pelatihan (one-group pre-test and post-test). Seluruh peserta yang merupakan pemuda gereja diberikan penilaian awal terkait pemahaman keuangan mereka, kemudian mengikuti serangkaian pelatihan interaktif, dan diakhiri dengan evaluasi akhir. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara partisipatif dan praktis agar materi tidak terkesan kaku atau akademis. Para peserta diajak melakukan simulasi penganggaran bulanan dari uang saku masing-masing, membedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan sesaat, serta menganalisis studi kasus nyata mengenai modus operandi pinjaman online ilegal. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, wawancara mendalam, serta observasi langsung selama kegiatan berlangsung.
Temuan Utama: Kesadaran Risiko Pinjol Ilegal Melonjak Tajam
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman digital dan kebiasaan finansial peserta setelah mengikuti pelatihan. Beberapa poin perubahan utama yang berhasil dicatat meliputi:
Dampak Strategis dan Replikasi Model Komunitas
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi masyarakat, dunia pendidikan, dan pembuat kebijakan publik. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa komunitas keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembinaan spiritual, tetapi juga sangat efektif sebagai sarana pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial bagi warga masyarakat. Model pelatihan ini sangat berpotensi untuk direplikasi oleh organisasi kepemudaan, sekolah, maupun lembaga pemerintah seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam memperluas jangkauan literasi keuangan nasional hingga ke tingkat akar rumput.
Profil Singkat Peneliti
Fery Tobing, S.E., M.M. — Dosen dan Peneliti di Fakultas Vokasi UKI, ahli dalam bidang manajemen keuangan dan analisis investasi.
Riwandari Juniasti, S.E., M.M. — Akademisi UKI dengan keahlian di bidang perencanaan keuangan personal dan literasi finansial masyarakat.
Feliks Setia Wau, S.E., M.M. (Corresponding Author) — Dosen Fakultas Vokasi UKI, berfokus pada riset pemberdayaan masyarakat dan manajemen risiko keuangan. (Email: feliks.wau@uki.ac.id)
Selvia De Wana, S.E., M.Si. — Peneliti UKI spesialisasi riset perilaku konsumen dan ekonomi digital.
Roma Ulina Sinaga, S.E., M.Ak. — Dosen Akuntansi dan Keuangan Vokasi UKI dengan fokus pada edukasi keuangan berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Fery Tobing, Riwandari Juniasti, Feliks Setia Wau, Selvia De Wana, Roma Ulina Sinaga. Empowering Youth of the HKBP Rawamangun Church through Financial Planning Education, Control of Consumer Behavior, and Mitigation of Illegal Fintech Risk. Asian Journal of Community Services (AJCS), Vol. 5, No. 6, Tahun 2026, Halaman 387–404
DOI:https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i7.39
URL:https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs
Pesatnya perkembangan teknologi finansial (fintech) telah mempermudah berbagai transaksi keuangan, mulai dari pembayaran digital hingga pinjaman instan. Namun, kemudahan ini kerap menjadi jebakan bagi generasi muda yang memiliki tingkat literasi keuangan terbatas. Akses internet yang sangat terbuka, godaan gaya hidup konsumtif akibat tren media sosial, serta minimnya pemahaman penganggaran mandiri membuat remaja menjadi sasaran empuk platform fintech tidak resmi yang berpotensi merugikan secara finansial maupun psikologis. Guna mengatasi permasalahan tersebut, para peneliti dari Program Studi Analisis Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Kristen Indonesia merancang dan mengevaluasi program edukasi terstruktur bagi remaja di Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur. Penelitian ini menjadi sangat krusial karena menunjukkan bagaimana institusi sosial-keagamaan dapat mengambil peran aktif dalam melindungi generasi muda dari ancaman kejahatan digital yang kian marak.
Pendekatan Sederhana dan Interaktif dalam Pembelajaran Finansial
Untuk mengukur efektivitas program edukasi ini, tim peneliti UKI menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif yang dipadukan dengan desain kuantitatif sebelum dan sesudah pelatihan (one-group pre-test and post-test). Seluruh peserta yang merupakan pemuda gereja diberikan penilaian awal terkait pemahaman keuangan mereka, kemudian mengikuti serangkaian pelatihan interaktif, dan diakhiri dengan evaluasi akhir. Pendekatan pembelajaran dilakukan secara partisipatif dan praktis agar materi tidak terkesan kaku atau akademis. Para peserta diajak melakukan simulasi penganggaran bulanan dari uang saku masing-masing, membedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan sesaat, serta menganalisis studi kasus nyata mengenai modus operandi pinjaman online ilegal. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, wawancara mendalam, serta observasi langsung selama kegiatan berlangsung.
Temuan Utama: Kesadaran Risiko Pinjol Ilegal Melonjak Tajam
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman digital dan kebiasaan finansial peserta setelah mengikuti pelatihan. Beberapa poin perubahan utama yang berhasil dicatat meliputi:
- Lonjakan Kemampuan Mengidentifikasi Pinjol Ilegal: Pemahaman peserta dalam membedakan layanan fintech legal (terdaftar dan diawasi OJK) dengan fintech ilegal mengalami kenaikan skor paling signifikan, yaitu dari rata-rata 3,23 menjadi 3,96 skala Likert.
- Kewaspadaan Terhadap Penyalahgunaan Data Pribadi: Kesadaran peserta mengenai bahaya pencurian dan penyalahgunaan data pribadi oleh platform ilegal meningkat tajam dari skor 3,57 menjadi 4,12.
- Kedisiplinan Mengelola Uang Saku: Kebiasaan mencatat penerimaan dan pengeluaran harian meningkat dari skor 3,83 menjadi 4,12, yang diiringi dengan peningkatan konsistensi dalam menabung secara rutin (naik dari 3,71 ke 3,80).
- Penurunan Belanja Impulsif: Keberhasilan menahan diri dari pembelian barang yang tidak terencana membaik, ditunjukkan oleh penurunan skor belanja tanpa rencana dari 2,89 menjadi 2,68, serta penurunan kerentanan terhadap godaan diskon online dari 3,57 menjadi 3,28.
Dampak Strategis dan Replikasi Model Komunitas
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi masyarakat, dunia pendidikan, dan pembuat kebijakan publik. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa komunitas keagamaan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembinaan spiritual, tetapi juga sangat efektif sebagai sarana pemberdayaan ekonomi dan perlindungan sosial bagi warga masyarakat. Model pelatihan ini sangat berpotensi untuk direplikasi oleh organisasi kepemudaan, sekolah, maupun lembaga pemerintah seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam memperluas jangkauan literasi keuangan nasional hingga ke tingkat akar rumput.
Profil Singkat Peneliti
Fery Tobing, S.E., M.M. — Dosen dan Peneliti di Fakultas Vokasi UKI, ahli dalam bidang manajemen keuangan dan analisis investasi.
Riwandari Juniasti, S.E., M.M. — Akademisi UKI dengan keahlian di bidang perencanaan keuangan personal dan literasi finansial masyarakat.
Feliks Setia Wau, S.E., M.M. (Corresponding Author) — Dosen Fakultas Vokasi UKI, berfokus pada riset pemberdayaan masyarakat dan manajemen risiko keuangan. (Email: feliks.wau@uki.ac.id)
Selvia De Wana, S.E., M.Si. — Peneliti UKI spesialisasi riset perilaku konsumen dan ekonomi digital.
Roma Ulina Sinaga, S.E., M.Ak. — Dosen Akuntansi dan Keuangan Vokasi UKI dengan fokus pada edukasi keuangan berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Fery Tobing, Riwandari Juniasti, Feliks Setia Wau, Selvia De Wana, Roma Ulina Sinaga. Empowering Youth of the HKBP Rawamangun Church through Financial Planning Education, Control of Consumer Behavior, and Mitigation of Illegal Fintech Risk. Asian Journal of Community Services (AJCS), Vol. 5, No. 6, Tahun 2026, Halaman 387–404
DOI:
URL:

0 Komentar