Media Sosial Hidupkan Kembali Minat Generasi Muda terhadap Puisi di Era Digital

Ilustrasi by AI

Isabela – Media sosial terbukti berperan besar dalam membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap puisi melalui penyajian konten yang lebih interaktif, kreatif, dan mudah diakses. Temuan tersebut dipublikasikan oleh Verna G. Alberto dari Sinaoangan Norte Elementary School dan Celso C. Dumalig dari Pangal Sur High School, Department of Education, Philippines, dalam International Journal of Scientific Multidisciplinary Research edisi Juli 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa platform seperti TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter tidak hanya memperluas akses terhadap karya sastra, tetapi juga meningkatkan motivasi, kreativitas, serta apresiasi siswa terhadap puisi, baik dalam bentuk digital maupun tradisional.

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menikmati karya sastra. Jika sebelumnya puisi lebih banyak ditemukan dalam buku, antologi, atau ruang kelas, kini karya-karya tersebut hadir di berbagai platform media sosial dengan format yang lebih menarik, mulai dari video pendek, ilustrasi visual, hingga pertunjukan puisi secara daring. Perubahan ini menjadikan puisi lebih dekat dengan kehidupan generasi muda yang sehari-harinya akrab dengan teknologi digital. Melalui media sosial, siswa tidak lagi hanya menjadi pembaca, tetapi juga pencipta, penampil, sekaligus penyebar karya sastra kepada masyarakat luas.

Untuk mengetahui bagaimana media sosial memengaruhi keterlibatan siswa terhadap puisi, para peneliti menggunakan pendekatan deskriptif-korelasional. Penelitian melibatkan 100 mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Filipina yang aktif menggunakan media sosial dan mengikuti mata kuliah terkait sastra. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah divalidasi dan pertanyaan terbuka, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Pearson Correlation, ANOVA, serta analisis tematik untuk memperoleh gambaran kuantitatif dan kualitatif mengenai pengalaman responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok menjadi platform yang paling banyak digunakan untuk menikmati puisi dengan persentase 78%, disusul Facebook (70%), Instagram (62%), YouTube (55%), dan Twitter/X (28%). Dominasi TikTok menunjukkan bahwa penyajian puisi dalam bentuk video pendek yang dipadukan dengan musik, visual, dan narasi lebih mampu menarik perhatian generasi muda dibandingkan format teks konvensional. Data pada tabel halaman ketujuh juga memperlihatkan bahwa siswa memanfaatkan media sosial secara rutin untuk mengakses berbagai karya puisi, meskipun tingkat keterlibatan mereka masih berada pada kategori sedang.

Bentuk keterlibatan siswa terhadap puisi di media sosial ternyata masih didominasi aktivitas membaca. Sebanyak 82% responden menyatakan mereka lebih sering membaca puisi yang diunggah pengguna lain, sedangkan 71% menikmati pertunjukan puisi dalam bentuk video. Aktivitas yang lebih aktif seperti memberikan komentar, membagikan karya, menulis puisi sendiri, maupun mengikuti tantangan puisi memiliki persentase yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial telah berhasil meningkatkan paparan terhadap puisi, namun partisipasi kreatif siswa masih perlu terus didorong melalui berbagai program pembelajaran dan komunitas sastra digital.

Penelitian juga menemukan bahwa media sosial memberikan pengaruh positif terhadap motivasi dan ekspresi diri siswa. Nilai rata-rata persepsi responden mencapai 3,93, yang menunjukkan bahwa siswa setuju media sosial mampu meningkatkan rasa percaya diri, memotivasi mereka untuk menulis puisi, serta menjadi sarana mengekspresikan emosi dan identitas diri. Berbagai fitur seperti likes, komentar, dan berbagi konten memberikan dorongan psikologis bagi siswa untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis puisi.

Selain meningkatkan motivasi, media sosial juga memberikan dampak positif terhadap aspek kognitif dan emosional dalam pembelajaran sastra. Responden mengaku lebih mudah memahami teknik penulisan puisi, lebih mampu menghayati makna dan emosi yang terkandung dalam karya sastra, serta semakin menghargai keindahan bahasa setelah memanfaatkan berbagai platform digital. Meskipun demikian, para peneliti juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial dapat memunculkan kecenderungan membaca secara dangkal apabila tidak diimbangi dengan aktivitas refleksi dan analisis yang lebih mendalam.

Dari sisi pendidikan, penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki nilai edukatif yang tinggi dalam pembelajaran puisi. Integrasi media sosial ke dalam proses belajar dinilai mampu memperluas wawasan siswa di luar materi kelas, membantu memahami ritme, ekspresi, dan gaya bahasa melalui konten multimedia, serta meningkatkan kemampuan menulis kreatif melalui proyek-proyek puisi digital. Responden juga menyatakan bahwa interaksi dengan penyair maupun teman sebaya melalui media sosial membuat pembelajaran sastra menjadi lebih menarik, relevan, dan menyenangkan.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa puisi digital tidak menggantikan puisi tradisional. Sebaliknya, kedua bentuk tersebut saling melengkapi. Paparan terhadap puisi digital justru meningkatkan minat siswa untuk membaca karya-karya klasik dan memahami teknik penulisan puisi yang lebih mendalam. Mayoritas responden percaya bahwa puisi digital mempermudah akses dan meningkatkan ketertarikan awal, sedangkan puisi tradisional tetap memberikan kedalaman makna dan nilai sastra yang tidak tergantikan.

Analisis tematik juga mengungkap bahwa media sosial memperluas akses siswa terhadap penyair dari berbagai negara, mendorong mereka untuk menulis puisi sendiri, serta menjadikan konten viral sebagai pintu masuk untuk mengenal sastra. Namun demikian, responden juga mengungkap beberapa tantangan seperti banjir informasi, kekhawatiran terhadap komentar negatif, serta kecenderungan pengguna hanya memberikan tanda suka tanpa benar-benar memahami isi puisi. Oleh karena itu, guru disarankan memanfaatkan media sosial secara terarah melalui proyek kreatif, diskusi sastra, analisis karya, dan publikasi digital agar siswa memperoleh manfaat yang lebih optimal.

Menurut Verna G. Alberto dan Celso C. Dumalig, media sosial telah membuka peluang baru bagi dunia pendidikan untuk menghidupkan kembali minat siswa terhadap puisi. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi digital tidak menjadi ancaman bagi sastra, melainkan sarana untuk memperluas apresiasi, meningkatkan kreativitas, serta membangun komunitas belajar yang lebih kolaboratif. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan meningkatnya pemahaman, apresiasi, motivasi berkarya, dan ketertarikan terhadap puisi tradisional.

Profil Penulis

Verna G. Alberto – Sinaoangan Norte Elementary School, Department of Education, San Agustin, Isabela, Philippines

Celso C. Dumalig – Pangal Sur High School, Department of Education, Echague, Isabela, Philippines

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Poetry in the Digital Age: An Exploration of How Social Media Platforms Are Revitalizing Interest in Poetry Among Secondary Students

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.103

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar