MATI — Peningkatan laju kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global menuntut lembaga pendidikan tinggi untuk mengambil peran aktif dalam membentuk karakter mahasiswa yang peduli lingkungan. Menjawab kebutuhan tersebut, Jessalyn C. Verzosa dari Davao Oriental State University melakukan penelitian evaluatif pada tahun 2026 mengenai sejauh mana mata kuliah perkuliahan mampu mengubah sikap dan perilaku ekologis mahasiswa. Studi ilmiah yang diterbitkan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menjadi bukti penting bahwa pendidikan keberlanjutan terstruktur di perguruan tinggi berhasil mendorong aksi nyata pelestarian lingkungan.
Penurunan kualitas lingkungan, pencemaran, dan penyusutan sumber daya alam merupakan ancaman nyata yang membutuhkan respons pendidikan berbasis aksi. Di Filipina, mata kuliah Sains, Teknologi, dan Masyarakat bertajuk STS 11 People and the Earth's Ecosystem dirancang untuk menjembatani wawasan teoritis dengan tanggung jawab etis mahasiswa. Tantangan terbesar dalam pendidikan lingkungan selama ini adalah adanya celah antara pengetahuan dan tindakan, di mana pemahaman akademis sering kali berhenti pada ranah kognitif tanpa terwujud dalam kebiasaan hidup sehari-hari.
Guna mengukur perubahan tersebut secara akurat, peneliti dari Davao Oriental State University menerapkan desain penelitian deskriptif-korelasional dengan pendekatan survei pre-assessment dan post-assessment. Riset ini melibatkan 202 mahasiswa yang terdaftar pada mata kuliah STS 11 semester kedua tahun akademik 2024-2025 di Davao Oriental State University. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner teruji yang mengukur empat indikator sikap lingkungan serta empat indikator praktik keberlanjutan sebelum dan sesudah mengikuti perkuliahan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Pearson r.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan positif pada seluruh indikator yang diuji. Skor rata-rata keseluruhan sikap lingkungan mahasiswa meningkat dari 3,68 sebelum perkuliahan menjadi 3,99 setelah menyelesaikan mata kuliah. Peningkatan paling signifikan terjadi pada domain pengetahuan lingkungan dan pemahaman teknologi, yang melesat dari angka 3,04 menjadi 3,80. Aspek tanggung jawab pribadi dan komitmen berperilaku juga mengalami kenaikan dari 3,64 menjadi 3,96, membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya paham isu lingkungan tetapi juga merasa wajib untuk bertindak.
Pada ranah perilaku nyata, skor rata-rata praktik keberlanjutan mahasiswa mengalami kenaikan dari 3,78 menjadi 3,88. Praktik pengurangan sampah menjadi kebiasaan dengan skor tertinggi mencapai 3,99 pada tahap akhir. Selain itu, tindakan konservasi energi dan air mencatatkan kenaikan tertinggi dari 3,64 menjadi 3,86. Uji korelasi Pearson r menghasilkan koefisien sebesar 0,91 dengan nilai R2 mencapai 0,8234. Angka ini menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat, di mana sikap lingkungan kontributif secara langsung hingga 82,34 persen terhadap pembentukan praktik hidup berkelanjutan.
Implikasi riset ini memberikan pijakan strategis bagi pengembangan kurikulum perguruan tinggi dan kebijakan pendidikan keberlanjutan. Pembelajaran interaktif, diskusi partisipatif, dan proyek reflektif terbukti efektif membangun kepercayaan diri mahasiswa untuk mengadopsi gaya hidup hijau. Pihak manajemen universitas dan pembuat kebijakan pendidikan disarankan untuk terus memperluas pembelajaran berbasis pengalaman dan immersion komunitas guna memastikan kebiasaan ramah lingkungan ini terus bertahan dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Jessalyn C. Verzosa — Davao Oriental State University
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Environmental Attitudes and Sustainability Practices: Evaluating the Impact of the Course 'People and the Earth's Ecosystem' on Students
Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: [https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.211]
URL Resmi: [https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr]
0 Komentar