Lamun Pantai Pananualeng Sangihe Masih Terjaga, Peneliti Temukan Ekosistem Pesisir dalam Kondisi Baik

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sulawesi Utara - Kondisi ekosistem lamun di Pantai Pananualeng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih tergolong baik dan mampu mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir. Temuan ini disampaikan oleh Yeni Indriani bersama tim peneliti dari Program Studi Teknologi Penangkapan Ikan dan Kemaritiman, Politeknik Negeri Nusa Utara, melalui penelitian lapangan yang dilakukan pada Oktober 2025 dan dipublikasikan pada tahun 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA). Penelitian tersebut memberikan informasi dasar yang penting bagi upaya konservasi lamun sekaligus pengelolaan wisata bahari yang berkelanjutan di wilayah kepulauan.

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di dasar perairan laut dangkal. Meski sering kurang mendapat perhatian dibandingkan terumbu karang atau hutan mangrove, padang lamun memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Habitat ini menjadi tempat mencari makan, berkembang biak, dan berlindung bagi berbagai jenis ikan, moluska, krustasea, hingga biota dasar laut. Selain itu, lamun juga membantu menahan sedimen, menjaga kejernihan air, menyerap karbon biru, dan mengurangi dampak abrasi pantai.

Pantai Pananualeng dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pesisir di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang memiliki hamparan pasir putih dan perairan dangkal yang jernih. Namun, sebelum penelitian ini dilakukan, informasi ilmiah mengenai kondisi vegetasi lamun di kawasan tersebut masih sangat terbatas. Padahal, data dasar mengenai kondisi ekosistem sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa aktivitas wisata tidak mengancam kelestarian lingkungan pesisir.

Untuk memperoleh gambaran kondisi ekosistem, tim peneliti melakukan pengamatan pada tiga lokasi yang mewakili sisi kiri, tengah, dan kanan Pantai Pananualeng. Pengamatan dilakukan menggunakan metode transek dan petak contoh untuk mencatat jenis lamun, tingkat penutupan, kepadatan, serta dominasi setiap spesies. Pada saat yang sama, kualitas air juga diukur melalui parameter suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), tingkat keasaman (pH), serta kandungan nitrat, nitrit, dan amonia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki empat spesies lamun, yaitu:

  • Thalassia hemprichii
  • Enhalus acoroides
  • Halodule pinifolia
  • Cymodocea rotundata

Di antara keempat spesies tersebut, Thalassia hemprichii menjadi spesies yang paling dominan pada seluruh lokasi pengamatan berdasarkan nilai Importance Value Index (IVI). Dominasi ini menunjukkan bahwa kondisi habitat di Pantai Pananualeng masih sangat sesuai untuk mendukung pertumbuhan lamun serta menjaga stabilitas komunitas vegetasi bawah laut. Sementara itu, Enhalus acoroides menempati posisi kedua sebagai spesies dengan kontribusi ekologis terbesar, sedangkan Halodule pinifolia dan Cymodocea rotundata tetap berperan dalam mempertahankan keanekaragaman ekosistem lamun.

Selain komposisi vegetasi, kualitas perairan juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Seluruh parameter lingkungan masih berada dalam kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan lamun dan kehidupan biota laut.

Beberapa hasil pengukuran meliputi:

  • Suhu perairan berkisar 29–31°C
  • Salinitas 31–33 ppt
  • Oksigen terlarut (DO) 5,8–6,5 mg/L
  • pH 8,0–8,2
  • Kandungan nitrat, nitrit, dan amonia tidak terdeteksi

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan pencemaran di kawasan Pantai Pananualeng masih sangat rendah. Tidak ditemukannya senyawa nitrogen seperti nitrat dan amonia menjadi indikator bahwa perairan belum mengalami eutrofikasi atau peningkatan nutrien yang dapat memicu ledakan alga dan mengganggu pertumbuhan lamun.

Menurut Yeni Indriani dan tim dari Politeknik Negeri Nusa Utara, dominasi Thalassia hemprichii menunjukkan bahwa padang lamun di Pantai Pananualeng masih memiliki kemampuan tinggi dalam menyediakan habitat bagi berbagai organisme laut, menjaga produktivitas ekosistem, serta mempertahankan keanekaragaman hayati pesisir. Peneliti juga menjelaskan bahwa keberadaan Enhalus acoroides pada seluruh lokasi pengamatan memperkuat indikasi bahwa habitat masih mampu mendukung spesies lamun berukuran besar yang berperan penting dalam menstabilkan sedimen dasar laut dan melindungi pantai dari gangguan gelombang.

Temuan ini memiliki implikasi yang luas bagi pengelolaan kawasan pesisir. Data dasar mengenai kondisi lamun dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan konservasi, mengembangkan wisata bahari yang ramah lingkungan, serta melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara berkala. Dengan menjaga ekosistem lamun tetap sehat, kawasan Pantai Pananualeng tidak hanya mempertahankan daya tarik wisatanya, tetapi juga melindungi sumber daya perikanan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap ekosistem pesisir dapat meningkat seiring berkembangnya aktivitas wisata, pembangunan kawasan pantai, maupun perubahan iklim. Oleh karena itu, pemantauan rutin terhadap kondisi lamun dan kualitas perairan perlu terus dilakukan agar perubahan lingkungan dapat dideteksi sejak dini sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Meskipun memberikan gambaran awal yang penting, penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena pengamatan dilakukan hanya pada tiga stasiun dan dalam satu periode pengamatan, yaitu Oktober 2025. Penulis merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah lokasi yang lebih banyak, pengamatan pada musim yang berbeda, serta penambahan parameter lingkungan agar dinamika ekosistem lamun di Pantai Pananualeng dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Profil Penulis

Yeni Indriani merupakan dosen dan peneliti pada Program Studi Teknologi Penangkapan Ikan dan Kemaritiman, Politeknik Negeri Nusa Utara, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Penelitian yang dilakukan bersama Magdalin Ulaan, Numisye I. Mose, Yessi A. P. Manganang, dan Jetti T. Saselah berfokus pada ekologi pesisir, kualitas lingkungan perairan, pengelolaan sumber daya kelautan, serta konservasi ekosistem pesisir, khususnya lamun dan habitat laut tropis.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Ecological Study of Aquatic Vegetation in the Pananualeng Beach Area, Sangihe Islands Regency
Penulis: Yeni Indriani, Magdalin Ulaan, Numisye I. Mose, Yessi A. P. Manganang, Jetti T. Saselah
Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)
Volume: 5, Nomor 2
Tahun: 2026

Posting Komentar

0 Komentar