Korelasi Antara Kualitas Tidur dan Tingkat Stres dengan Prestasi Belajar pada Remaja di Mts Saintek Nurul Qur'an Hdwr pada tahun 2026

Gambar Ilustrasi AI

Kualitas Tidur dan Tingkat Stres Berhubungan dengan Prestasi Belajar Remaja di Pesantren

YOGYAKARTA – Kualitas tidur yang buruk dan tingkat stres yang tinggi berkaitan dengan menurunnya prestasi belajar remaja di lingkungan pesantren. Temuan ini dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) tahun 2026 melalui penelitian yang dilakukan oleh Tantiana Isnaningsih dan Hanna Firlyana dari Program Studi Kesehatan Masyarakat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesehatan fisik dan mental merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan belajar siswa, sehingga perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan proses pembelajaran di kelas.

Temuan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas pendidikan dan kesehatan mental remaja di Indonesia. Berbagai laporan internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA), menunjukkan adanya penurunan capaian akademik siswa setelah pandemi COVID-19. Pada saat yang sama, berbagai survei nasional juga mencatat tingginya angka gangguan tidur dan masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia.

Lingkungan sekolah berasrama atau pesantren memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sekolah umum. Selain mengikuti kegiatan akademik, para santri juga menjalani aktivitas keagamaan yang padat sejak dini hari hingga malam. Jadwal yang padat tersebut berpotensi mengurangi waktu istirahat dan meningkatkan tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan manajemen waktu dan pola hidup sehat.

Dalam kondisi tersebut, Tantiana Isnaningsih dan Hanna Firlyana meneliti hubungan antara kualitas tidur, tingkat stres, dan prestasi belajar siswa di MTs Saintek Nurul Qur'an HDWR.

Penelitian Melibatkan Seluruh Siswa

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan seluruh siswa MTs Saintek Nurul Qur'an HDWR yang berjumlah 38 orang. Dengan melibatkan seluruh populasi sekolah, peneliti memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi siswa.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur kualitas tidur dan tingkat stres, kemudian dibandingkan dengan data prestasi belajar siswa. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis statistik untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang bermakna antara ketiga variabel tersebut.

Metode ini memungkinkan peneliti melihat bagaimana kebiasaan tidur dan kondisi psikologis sehari-hari dapat memengaruhi keberhasilan belajar remaja.

Mayoritas Siswa Mengalami Tidur Kurang Berkualitas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas tidur yang kurang baik masih menjadi masalah utama di kalangan siswa.

Beberapa temuan penting meliputi:

  • 78,9% siswa memiliki kualitas tidur yang buruk.
  • 55,3% siswa mengalami stres tingkat sedang, sedangkan 15,8% mengalami stres berat.
  • 89,5% siswa berada pada kategori prestasi belajar sedang.
  • Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan prestasi belajar dengan nilai p = 0,016.
  • Penelitian juga menemukan hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan prestasi belajar dengan nilai p = 0,039.

Siswa yang memiliki kualitas tidur lebih baik cenderung memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang mengalami gangguan tidur. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat stres yang dialami siswa, semakin besar kecenderungan prestasi belajarnya menurun.

Hasil tersebut sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa tidur yang cukup membantu meningkatkan konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan memahami materi pelajaran. Sebaliknya, stres yang berlebihan dapat mengganggu fokus, menurunkan kemampuan berpikir, dan menghambat proses belajar.

Tidur Berkualitas Membantu Otak Belajar Lebih Efektif

Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Saat tidur, otak melakukan proses penting seperti memperkuat ingatan, memproses informasi yang diperoleh sepanjang hari, memperbaiki fungsi tubuh, serta memulihkan energi.

Remaja yang memperoleh tidur berkualitas umumnya lebih mudah berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran, mampu menyelesaikan tugas dengan lebih baik, dan memiliki daya tahan belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, kurang tidur dapat menyebabkan kelelahan, menurunkan motivasi belajar, serta mengurangi kemampuan memahami materi baru.

Di lingkungan pesantren, jadwal kegiatan yang padat membuat pengaturan waktu tidur menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, menjaga kualitas tidur dapat menjadi salah satu langkah sederhana namun efektif untuk meningkatkan prestasi akademik.

Pengelolaan Stres Sama Pentingnya dengan Prestasi Akademik

Selain tidur, penelitian juga menegaskan pentingnya pengelolaan stres pada remaja. Tekanan akademik, tugas sekolah, hafalan, hubungan sosial dengan teman sebaya, hingga pengaturan waktu merupakan sumber stres yang umum dialami siswa.

Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat stres yang lebih tinggi cenderung memperoleh hasil belajar yang lebih rendah. Kondisi tersebut diduga terjadi karena stres memengaruhi kemampuan berkonsentrasi, mengingat informasi, dan menyelesaikan tugas akademik secara optimal.

Melalui hasil penelitian ini, sekolah didorong untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental dan kesejahteraan siswa sebagai bagian dari proses pendidikan.

Dampak bagi Dunia Pendidikan

Hasil penelitian memberikan sejumlah rekomendasi yang dapat diterapkan oleh sekolah, orang tua, maupun pembuat kebijakan pendidikan.

Sekolah dapat mengembangkan program edukasi mengenai pentingnya tidur yang cukup, menerapkan kegiatan promosi kesehatan mental, serta membantu siswa mengelola stres melalui layanan konseling atau pendampingan. Di lingkungan pesantren, pengaturan jadwal harian yang lebih seimbang juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mendukung kesehatan dan prestasi belajar siswa.

Bagi orang tua, hasil penelitian ini mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan tidur yang sehat serta memberikan dukungan emosional kepada anak ketika menghadapi tekanan akademik.

Sementara itu, bagi pemerintah dan pengambil kebijakan pendidikan, penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan metode pembelajaran, tetapi juga pada kondisi kesehatan fisik dan mental peserta didik.

Sebagaimana dipaparkan oleh Tantiana Isnaningsih dan Hanna Firlyana dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, kualitas tidur yang baik dan pengelolaan stres yang efektif merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan belajar remaja. Dengan kata lain, menjaga kesejahteraan siswa merupakan investasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Profil Penulis

  1. Tantiana Isnaningsih merupakan peneliti dari Program Studi Kesehatan Masyarakat yang memiliki keahlian di bidang kesehatan masyarakat, kesehatan remaja, promosi kesehatan, dan perilaku kesehatan. Dalam penelitian ini, ia bertindak sebagai penulis korespondensi.
  2. Hanna Firlyana adalah akademisi dari Program Studi Kesehatan Masyarakat yang menaruh perhatian pada penelitian mengenai kesehatan remaja, kesehatan mental, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pendidikan dari perspektif kesehatan masyarakat.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar