Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur—
Privasi,
Kepercayaan, dan Batas Digital: Studi Hubungan Romantis Dewasa Awal yang
Dimediasi WhatsApp. Penelitian ini dilakukan oleh Dessy Trisilowaty dan Nurul
Ummi Apriliyani dari Universitas Trunojoyo Madura, yang dipublikasikan dalam East
Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) pada awal 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Dessy Trisilowaty
dan Nurul Ummi Apriliyani mengungkapkan bahwa fitur digital seperti last seen,
centang biru, foto profil, dan status WhatsApp tidak hanya berfungsi sebagai
alat komunikasi, tetapi juga menjadi simbol emosional yang memengaruhi dinamika
hubungan asmara.
WhatsApp dan Dilema Privasi di Era
Digital
Kemajuan
teknologi komunikasi membuat interaksi jarak jauh menjadi mudah dan instan.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul dilema baru: bagaimana menjaga
keseimbangan antara keterbukaan dan privasi.
Trisilowaty
dan Apriliyani menjelaskan bahwa individu dewasa awal—sekitar usia 18 hingga 25
tahun—berada pada fase penting dalam pembentukan identitas dan relasi romantis.
Pada tahap ini, kebutuhan akan validasi emosional, perhatian, dan rasa aman
sering kali tinggi. Akibatnya, fitur digital yang memberikan informasi
aktivitas secara real-time dapat memperbesar sensitivitas dalam hubungan.
Misalnya,
ketika seseorang terlihat online tetapi tidak segera membalas pesan, pasangan
bisa menafsirkan hal tersebut sebagai tanda diabaikan. Di sisi lain, pengguna
yang mematikan fitur tertentu mungkin hanya ingin mengurangi tekanan sosial
atau menjaga ruang pribadi.
Fenomena
ini menunjukkan bahwa teknologi komunikasi tidak netral; makna yang muncul
selalu terkait dengan interpretasi sosial dan emosional.
Metodologi:
Mendengar Pengalaman Nyata Pengguna
Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan 10 informan
yang terdiri dari empat pasangan dan dua informan tambahan. Fokus utamanya adalah
memahami bagaimana individu dewasa awal mengelola privasi komunikasi dalam
hubungan romantis melalui fitur WhatsApp.
Alih-alih
mengukur angka statistik, studi ini menelusuri pengalaman subjektif para
responden: bagaimana mereka membaca simbol digital, bernegosiasi tentang batas
privasi, serta menghadapi konflik yang muncul akibat interpretasi berbeda.
Pendekatan
ini memungkinkan peneliti melihat dinamika hubungan secara lebih mendalam,
termasuk emosi, harapan, dan tekanan sosial yang tidak selalu terlihat dalam
penelitian kuantitatif.
Temuan
Utama: Fitur Digital Jadi “Bahasa Emosional” Baru
Penelitian
menemukan bahwa fitur WhatsApp telah berkembang menjadi simbol relasional yang
kompleks. Berikut beberapa temuan utama:
- Last seen dan centang biru
sering dianggap sebagai indikator perhatian dan prioritas dalam hubungan.
Ketika pesan dibaca tetapi tidak segera dibalas, beberapa responden merasa
ditolak atau diabaikan.
- Perubahan pengaturan privasi
seperti menonaktifkan centang biru atau menyembunyikan aktivitas sering
ditafsirkan sebagai tanda menyembunyikan sesuatu, meskipun sebenarnya
dilakukan untuk menjaga kenyamanan pribadi.
- Foto profil dan status
menjadi sinyal emosional yang diamati pasangan. Perubahan kecil dapat
memicu spekulasi mengenai kondisi hubungan.
- Pengawasan digital
seperti memeriksa aktivitas online pasangan dapat menciptakan tekanan
psikologis dan meningkatkan konflik.
- Kesepakatan bersama tentang privasi
terbukti menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas hubungan.
Menurut para
peneliti, fitur WhatsApp kini berfungsi sebagai “artefak relasional”—alat
komunikasi sekaligus simbol yang membentuk persepsi tentang keintiman dan
kepercayaan.
Paradoks
Transparansi dan Otonomi Pribadi
Salah satu
temuan paling menarik adalah adanya paradoks antara transparansi dan kebebasan
pribadi. Banyak pasangan menganggap keterbukaan sebagai tanda kepercayaan.
Namun ketika transparansi menjadi tuntutan berlebihan—misalnya harus selalu
online atau membalas cepat—hal tersebut justru berubah menjadi bentuk kontrol
relasional.
Dalam
kerangka teori Communication Privacy Management (CPM), kondisi ini disebut
sebagai “privacy boundary turbulence”, yaitu konflik yang muncul ketika batas
privasi tidak disepakati bersama. Tanpa komunikasi yang jelas, tindakan
sederhana seperti mematikan fitur dapat disalahartikan sebagai tanda
ketidakjujuran.Trisilowaty dan Apriliyani menekankan bahwa privasi bukan
berarti menyembunyikan sesuatu, tetapi proses negosiasi berkelanjutan antara
kebutuhan akan kedekatan dan ruang pribadi.
Dampak
bagi Masyarakat dan Dunia Digital
Hasil
penelitian ini memberikan wawasan penting bagi berbagai pihak:
1. Pasangan
muda dan pengguna digital
Kesadaran bahwa simbol digital memiliki makna emosional dapat membantu individu
berkomunikasi lebih terbuka tentang ekspektasi dan batas privasi.
2. Pendidikan
dan literasi digital
Studi ini menunjukkan pentingnya edukasi tentang etika komunikasi digital dan
manajemen privasi, terutama bagi generasi muda.
3. Pengembang
teknologi
Platform komunikasi dapat mempertimbangkan desain fitur yang lebih mendukung
keseimbangan antara konektivitas dan kesehatan mental pengguna.
Menurut
para peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura, hubungan yang sehat bukan
ditentukan oleh tingkat transparansi absolut, tetapi oleh kesepakatan bersama
mengenai batas komunikasi digital.
Profil
penulis
•
Dessy TrisilowatyUniversitas
Trunojoyo Madura.
•
Nurul Ummi Apriliyani– Universitas
Trunojoyo Madura.
Sumber
penelitian
Trisilowaty, D., & Apriliyani, N.
U. (2026). Privacy, Trust, and Digital Boundaries: A Study of
WhatsApp-Mediated Romantic Relationships Among Emerging Adults.
East Asian
Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 537–550.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.4
0 Komentar