Surabaya – Keberhasilan taruna pendidikan vokasi penerbangan dalam membangun karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kompetensi karier dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dunia kerja. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Linda Winiasri, Ekohariadi, dan Ratna Suhartini dari Universitas Negeri Surabaya, yang dipublikasikan pada tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taruna yang memiliki pemahaman karier yang baik serta mampu beradaptasi dengan perubahan industri cenderung lebih aktif merencanakan, mengembangkan, dan mempersiapkan kariernya sejak masih menempuh pendidikan.
Perubahan dunia kerja global membuat proses transisi dari bangku pendidikan menuju dunia profesional semakin kompleks. Industri kini tidak hanya membutuhkan lulusan yang menguasai keterampilan teknis, tetapi juga individu yang mampu berpikir adaptif, mengambil keputusan secara mandiri, membangun jejaring profesional, serta terus mengembangkan diri. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan vokasi penerbangan yang harus menyiapkan taruna agar siap menghadapi perkembangan teknologi, regulasi keselamatan penerbangan, dan persaingan kerja yang semakin ketat. Bagi taruna non-Polbit yang tidak selalu memperoleh jaminan penempatan kerja setelah lulus, kesiapan mengelola karier menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan memasuki dunia kerja.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan taruna dalam mengembangkan kariernya, para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory. Penelitian melibatkan 310 taruna aktif Diploma III non-Polbit dari Politeknik Penerbangan Surabaya dan Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi yang dipilih dari populasi sebanyak 361 taruna. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert enam poin, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) guna menguji hubungan antara kompetensi karier, adaptabilitas karier, dan keterlibatan karier.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel berada pada kategori tinggi. Kompetensi karier memperoleh nilai rata-rata 4,78, adaptabilitas karier 4,77, sedangkan keterlibatan karier mencapai 4,73. Temuan tersebut menunjukkan bahwa secara umum para taruna telah memiliki kemampuan yang cukup baik dalam memahami karier, menghadapi perubahan, dan melakukan berbagai aktivitas pengembangan karier. Meski demikian, variasi jawaban responden mengindikasikan bahwa penguatan program pengembangan karier masih tetap diperlukan agar seluruh taruna memiliki kesiapan yang lebih merata.
Analisis statistik memperlihatkan bahwa kompetensi karier memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan karier dengan nilai koefisien sebesar 0,340, nilai t sebesar 6,636, dan p kurang dari 0,001. Sementara itu, adaptabilitas karier menunjukkan pengaruh yang lebih besar, yaitu dengan koefisien 0,376, nilai t sebesar 7,730, dan p kurang dari 0,001. Kedua variabel tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan 37,2 persen variasi keterlibatan karier taruna. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin baik kemampuan seseorang memahami, mengelola, dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan karier, semakin tinggi pula keterlibatannya dalam berbagai aktivitas yang mendukung masa depan profesionalnya.
Menurut Linda Winiasri dan tim, kompetensi karier membantu taruna mengenali potensi diri, memahami kebutuhan industri penerbangan, membangun jaringan profesional, serta menyusun strategi memasuki dunia kerja. Kemampuan tersebut mendorong taruna untuk aktif mengikuti seminar karier, mencari informasi rekrutmen, memperoleh sertifikasi tambahan, berdiskusi dengan alumni, hingga memperluas relasi dengan pelaku industri. Dengan kata lain, kompetensi karier tidak hanya meningkatkan pengetahuan mengenai dunia kerja, tetapi juga mendorong munculnya tindakan nyata dalam mempersiapkan masa depan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa adaptabilitas karier merupakan faktor yang sedikit lebih kuat dibandingkan kompetensi karier dalam membentuk keterlibatan karier. Taruna yang memiliki orientasi terhadap masa depan, rasa ingin tahu terhadap peluang kerja, kemampuan mengendalikan keputusan karier, serta kepercayaan diri menghadapi tantangan terbukti lebih aktif dalam mengembangkan dirinya. Mereka cenderung lebih siap menghadapi perubahan teknologi, regulasi, sertifikasi, maupun dinamika industri penerbangan yang terus berkembang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan psikologis memiliki peran yang sama pentingnya dengan penguasaan keterampilan teknis dalam membangun karier yang berkelanjutan.
Penulis menilai hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi lembaga pendidikan vokasi penerbangan. Program pengembangan karier sebaiknya tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat kemampuan adaptasi, perencanaan karier, eksplorasi peluang kerja, jejaring profesional, serta pendampingan karier secara berkelanjutan. Workshop perencanaan karier, simulasi wawancara kerja, mentoring bersama alumni, kunjungan industri, hingga pemetaan jalur sertifikasi dinilai dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi persaingan kerja di sektor penerbangan. Dengan demikian, institusi pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga proaktif dalam mengelola perjalanan kariernya di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Profil Penulis
Linda Winiasri, Ekohariadi, dan Ratna Suhartini — Universitas Negeri Surabaya, Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Effect of Career Competence and Career Adaptability on Career Engagement Among Cadets in Aviation Vocational Higher Education
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.224
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar