Kepemimpinan Digital, Keseimbangan Hidup, dan Otonomi Kerja Tingkatkan Keterlibatan Kerja Generasi Z

Ilustrasi by AI

Yogyakarta – Kepemimpinan transformasional digital, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance), serta otonomi kerja terbukti berperan penting dalam meningkatkan keterlibatan kerja (employee engagement) mahasiswa Generasi Z yang bekerja secara remote maupun hybrid. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Razin Saka Wiksa dan Andriyastuti Suratman dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, yang dipublikasikan pada tahun 2026. Penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi menjadi jembatan penting yang memperkuat pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap keterlibatan kerja, sehingga organisasi perlu membangun budaya kerja digital yang berbasis kepercayaan, fleksibilitas, dan kolaborasi.

Perkembangan teknologi digital dan perubahan pola kerja pascapandemi telah mendorong semakin banyak organisasi menerapkan sistem kerja jarak jauh maupun hibrida. Perubahan ini membawa tantangan baru dalam mengelola sumber daya manusia, khususnya bagi Generasi Z yang masih berstatus mahasiswa namun telah aktif bekerja. Selain membutuhkan pemimpin yang mampu memanfaatkan teknologi digital secara efektif, kelompok ini juga memerlukan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan serta kebebasan mengatur cara bekerja agar tetap produktif dan memiliki keterikatan yang tinggi terhadap organisasi.

Untuk mengkaji hubungan antarvariabel tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif kausal dengan menyebarkan kuesioner daring kepada 216 mahasiswa Generasi Z di Indonesia yang bekerja secara remote atau hybrid selama minimal dua bulan. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan analisis data dilakukan melalui analisis jalur (path analysis) menggunakan perangkat lunak SPSS untuk menguji pengaruh kepemimpinan transformasional digital, work-life balance, otonomi kerja, budaya organisasi, dan keterlibatan kerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan kerja, dengan koefisien regresi 0,288 dan nilai t sebesar 8,520. Pemimpin yang mampu membangun visi digital, memberikan dukungan melalui teknologi, serta mendorong inovasi terbukti mampu meningkatkan semangat dan keterlibatan mahasiswa pekerja dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu, kepemimpinan digital juga memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan budaya organisasi yang lebih adaptif dan berbasis kepercayaan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa work-life balance berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan kerja dengan koefisien 0,552 dan nilai t sebesar 7,783. Fleksibilitas dalam mengatur waktu antara pekerjaan, perkuliahan, dan kehidupan pribadi membantu mahasiswa mengurangi kelelahan serta menjaga motivasi bekerja. Di sisi lain, keseimbangan tersebut turut membentuk budaya organisasi yang lebih sehat karena organisasi dinilai menghargai kesejahteraan karyawan dan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang suportif.

Faktor yang memberikan pengaruh paling besar adalah otonomi kerja. Analisis menunjukkan bahwa variabel ini memiliki koefisien sebesar 0,579 terhadap keterlibatan kerja dan 1,019 terhadap budaya organisasi, dengan nilai t masing-masing sebesar 13,784 dan 18,449. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin besar kebebasan yang diberikan kepada pekerja untuk mengatur jadwal, metode, dan cara menyelesaikan pekerjaannya, semakin tinggi pula rasa tanggung jawab, motivasi intrinsik, serta keterlibatan mereka terhadap organisasi.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan kerja, dengan koefisien 0,372 dan nilai t sebesar 10,232. Budaya organisasi yang transparan, komunikatif, inklusif, dan berorientasi pada hasil mampu memperkuat hubungan emosional antara mahasiswa pekerja dengan organisasi. Secara keseluruhan, kepemimpinan digital, work-life balance, dan otonomi kerja mampu menjelaskan 47,5% variasi keterlibatan kerja responden, sementara budaya organisasi memberikan kontribusi mediasi yang signifikan dalam hubungan tersebut.

Menurut Razin Saka Wiksa dan Andriyastuti Suratman, temuan penelitian ini memperluas penerapan Job Demands-Resources Theory pada konteks pekerja Generasi Z yang bekerja secara jarak jauh. Penelitian menegaskan bahwa otonomi kerja merupakan sumber daya utama yang mampu mengoptimalkan manfaat kepemimpinan digital dan work-life balance melalui budaya organisasi yang positif. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk membangun ekosistem kerja berbasis kepercayaan, memberikan keleluasaan dalam pengambilan keputusan, serta memperkuat budaya organisasi yang mendukung kolaborasi digital agar keterlibatan kerja karyawan Generasi Z dapat terus meningkat.

Profil Penulis

Razin Saka Wiksa dan Andriyastuti Suratman — Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Influence of Digital Transformational Leadership, Work-Life Balance, and Autonomy Work towards Employee Engagement with Culture Organization as Variables Mediation for Students Working Generation Z with Remote Work

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.234

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar