Kecemasan Matematika dan Kepercayaan Diri Tidak Selalu Menentukan Prestasi Belajar Siswa

Ilustrasi by AI

Filipina – Kecemasan terhadap matematika dan tingkat kepercayaan diri siswa tidak selalu menjadi penentu utama keberhasilan akademik dalam mata pelajaran matematika. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Mary Joy L. Doroin, Jeralyn T. Cabagtong, Mijan De Silva, Marjorie B. Corocoto, Jenny A. De Oro, dan Andrea T. Tenedero dari University of Eastern Philippines, Graduate Studies, yang dipublikasikan pada tahun 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun siswa mengalami tingkat kecemasan dan kepercayaan diri pada kategori sedang, keduanya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik matematika. Sebaliknya, kualitas pembelajaran dan lingkungan belajar yang mendukung justru menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap keberhasilan siswa.

Matematika masih menjadi salah satu mata pelajaran yang paling menantang bagi banyak siswa. Selain harus memahami konsep dan perhitungan yang semakin kompleks di setiap jenjang pendidikan, siswa juga kerap menghadapi tekanan psikologis berupa rasa takut gagal, cemas saat ujian, maupun keraguan terhadap kemampuan dirinya sendiri. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kecemasan matematika dapat menghambat proses belajar, sementara kepercayaan diri sering dikaitkan dengan peningkatan prestasi akademik. Namun, hubungan kedua faktor tersebut terhadap hasil belajar belum selalu menunjukkan temuan yang konsisten sehingga masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Untuk menjawab persoalan tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan deskriptif-korelasional dengan melibatkan 32 siswa kelas IV hingga VI di Cagaasan Elementary School pada tahun ajaran 2025–2026. Seluruh siswa dijadikan responden melalui teknik universal sampling. Data mengenai kecemasan matematika dan kepercayaan diri diperoleh melalui kuesioner yang telah dimodifikasi dari penelitian sebelumnya, sedangkan data prestasi akademik diambil dari nilai resmi sekolah. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antarvariabel penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan matematika siswa berada pada kategori sedang, dengan nilai rata-rata 3,49. Sumber kecemasan terbesar muncul ketika siswa tidak mampu menyelesaikan soal matematika tepat waktu, menghadapi ujian, atau diminta mengerjakan soal di depan kelas. Sebaliknya, soal-soal penjumlahan sederhana justru tidak banyak menimbulkan rasa takut. Temuan ini menunjukkan bahwa kecemasan matematika lebih banyak dipicu oleh tekanan situasional, seperti batas waktu dan ketakutan terhadap kegagalan, dibandingkan oleh materi matematika itu sendiri.

Penelitian juga menemukan bahwa kepercayaan diri siswa terhadap matematika berada pada kategori sedang, dengan nilai rata-rata 2,89. Sebagian besar siswa merasa matematika merupakan mata pelajaran yang mereka sukai dan yakin dapat memperoleh nilai yang baik. Namun, mereka masih ragu terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal yang lebih kompleks atau menganggap dirinya sebagai siswa yang unggul dalam matematika. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan diri siswa belum sepenuhnya berkembang secara konsisten dalam berbagai situasi pembelajaran.

Menariknya, prestasi akademik siswa justru tergolong sangat baik. Sebanyak 68,75 persen responden memperoleh nilai rata-rata 90–100 dengan kategori Outstanding, sementara 25 persen lainnya berada pada kategori Very Satisfactory. Tidak ada satu pun siswa yang memperoleh nilai di bawah standar kelulusan. Hasil ini memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa tetap mampu mencapai prestasi tinggi meskipun mengalami kecemasan matematika dan hanya memiliki tingkat kepercayaan diri yang sedang.

Analisis statistik menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, dan tingkat kelas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kecemasan matematika, kepercayaan diri, maupun prestasi akademik siswa. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa kecemasan matematika tidak berhubungan secara signifikan dengan prestasi akademik (p = 0,180), demikian pula kepercayaan diri tidak memiliki hubungan signifikan dengan prestasi matematika (p = 0,120). Temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa tetap mampu memperoleh hasil belajar yang tinggi meskipun mengalami rasa cemas atau belum memiliki keyakinan diri yang optimal.

Menurut Mary Joy L. Doroin dan tim, keberhasilan siswa dalam matematika lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kualitas strategi pembelajaran, dukungan guru, lingkungan kelas yang positif, motivasi belajar, serta ketahanan diri (resilience). Oleh karena itu, upaya meningkatkan prestasi matematika tidak cukup hanya berfokus pada pengurangan kecemasan atau peningkatan kepercayaan diri, tetapi juga perlu menciptakan proses pembelajaran yang inklusif, memberikan umpan balik yang membangun, serta menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong siswa berani mencoba, berdiskusi, dan belajar dari kesalahan tanpa rasa takut.

Profil Penulis

Mary Joy L. Doroin, Jeralyn T. Cabagtong, Mijan De Silva, Marjorie B. Corocoto, Jenny A. De Oro, dan Andrea T. Tenedero — University of Eastern Philippines, Graduate Studies.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Math Anxiety and Self-Confidence: Their Influence on Students' Academic Performance in Mathematics

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i7.235

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar