Artikel berjudul “Green Economy Development Through Educational Tourism in the English Village of Pare, Kediri” menyoroti bagaimana Kampung Inggris dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata edukasi yang tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kampung Inggris dikenal sebagai salah satu pusat pembelajaran bahasa yang paling populer di Indonesia. Kawasan ini berkembang dari keberadaan lembaga kursus bahasa Inggris menjadi destinasi pendidikan yang menarik ribuan pengunjung setiap hari. Pada periode normal, jumlah pengunjung rata-rata mencapai sekitar 5.000 orang per hari, sedangkan saat liburan sekolah dapat meningkat hingga sekitar 15.000 orang per hari.
Besarnya arus pengunjung menciptakan dampak ekonomi yang luas. Masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari lembaga kursus, tetapi juga dari usaha penginapan, makanan, transportasi, penyewaan tempat tinggal, perdagangan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Dari Kawasan Pertanian Menjadi Pusat Wisata Edukasi
Perubahan Kampung Inggris berlangsung secara bertahap. Dahulu, sebagian besar masyarakat di kawasan Pare bekerja sebagai petani, peternak, dan pedagang. Perkembangan lembaga kursus bahasa kemudian mengubah struktur ekonomi masyarakat.
Banyak warga mulai beralih menjadi pelaku usaha dengan menyediakan rumah kos, penginapan, makanan, pakaian, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari bagi para peserta kursus. Pertumbuhan lembaga pendidikan bahasa juga mendorong munculnya berbagai bisnis baru di sekitar kawasan.
Kampung Inggris sendiri merujuk terutama pada wilayah Desa Tulungrejo dan Desa Pelem. Perkembangannya bermula dari berdirinya Basic English Course (BEC) pada 15 Juni 1977 yang didirikan oleh Kalend Osen. Lembaga tersebut kemudian menjadi salah satu pelopor berkembangnya berbagai lembaga kursus bahasa di Pare.
Seiring waktu, kawasan ini tidak lagi hanya dikenal sebagai tempat belajar bahasa Inggris. Kampung Inggris berkembang menjadi bentuk wisata edukasi atau educational tourism yang menggabungkan kegiatan pembelajaran dengan pengalaman wisata.
Penelitian Menggunakan Studi Kasus dan Diskusi Kelompok
Untuk memahami pengembangan ekonomi hijau di Kampung Inggris, Auny Vidiyan Imsawati, Supardal, Adji Suradji Muhammad, dan Yeyen Subandi menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.
Para peneliti mengeksplorasi peran pemerintah Desa Tulungrejo, masyarakat, Forum Kampung Bahasa (FKB), lembaga kursus, serta pelaku usaha dalam pengembangan wisata edukasi yang ramah lingkungan.
Analisis juga mempertimbangkan implementasi kebijakan pariwisata dan pembangunan daerah. Salah satu kebijakan penting yang menjadi konteks pengembangan kawasan adalah Peraturan Daerah Kabupaten Kediri Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Kediri.
Melalui analisis tersebut, para peneliti melihat bagaimana kebijakan, sumber daya, koordinasi kelembagaan, dan partisipasi masyarakat memengaruhi pengembangan ekonomi hijau di Kampung Inggris.
Ekonomi Hijau Belum Berkembang Secara Optimal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Inggris memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui wisata edukasi. Namun, Forum Kampung Bahasa dan Pemerintah Desa Tulungrejo dinilai belum optimal dalam mengembangkan model ekonomi hijau secara menyeluruh.
Beberapa bentuk pengembangan yang telah dilakukan antara lain:
pembangunan dan perbaikan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan;
pengembangan ruang terbuka hijau;
pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan;
penguatan UMKM lokal;
pengembangan pariwisata berbasis pendidikan;
pemanfaatan energi bersih untuk pelaku usaha; dan
penguatan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, serta dunia usaha.
Program Green Powerhub yang diperkenalkan PLN UID Jawa Timur juga disebut sebagai salah satu contoh upaya mendorong pelaku UMKM beralih menggunakan sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Menurut Auny Vidiyan Imsawati dan rekan-rekannya, ekonomi hijau di Kampung Inggris tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Konsep tersebut juga mencakup pengembangan ekonomi lokal yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Tantangan: Koordinasi dan Perubahan Perilaku
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan ekonomi hijau di Kampung Inggris menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu masalah utama adalah koordinasi antarlembaga pemerintah yang belum sepenuhnya berjalan secara harmonis. Berbagai sektor, seperti pariwisata, lingkungan, pembangunan daerah, pendidikan, dan pemerintahan desa, perlu bekerja dalam satu arah agar pengembangan kawasan tidak berjalan secara terpisah.
Tantangan lainnya adalah perubahan perilaku masyarakat dan pelaku usaha. Peralihan menuju ekonomi hijau membutuhkan proses sosialisasi yang panjang karena pelaku usaha perlu menyesuaikan kebiasaan, teknologi, dan cara pengelolaan bisnis.
Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya kepatuhan lembaga kursus dan pelaku usaha terhadap peraturan pemerintah daerah dan pemerintah desa. Hal ini penting karena pertumbuhan kawasan yang cepat melibatkan banyak pendatang dan investor baru yang membuka lembaga kursus, tempat tinggal, restoran, serta kafe.
Para peneliti menilai bahwa pertumbuhan tersebut perlu tetap diarahkan agar tidak mengurangi peran masyarakat lokal dalam perkembangan ekonomi Kampung Inggris.
Potensi Menjadi Model Wisata Edukasi Berkelanjutan
Pengembangan ekonomi hijau melalui wisata edukasi dapat memberikan manfaat yang luas bagi Kampung Inggris. Infrastruktur yang lebih baik, pengelolaan sampah yang lebih efektif, penggunaan energi bersih, dan penguatan UMKM berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Lingkungan yang lebih bersih dan nyaman juga dapat meningkatkan daya tarik Kampung Inggris sebagai destinasi pendidikan. Hal ini berpotensi mendatangkan lebih banyak peserta kursus dan wisatawan, sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat.
Auny Vidiyan Imsawati dan para peneliti dari STPMD APMD Yogyakarta serta Universitas Respati Yogyakarta menekankan bahwa pengembangan ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha perlu terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan.
Dengan kolaborasi yang lebih kuat, Kampung Inggris Pare berpeluang menjadi contoh pengembangan wisata edukasi berkelanjutan di Indonesia. Model tersebut dapat menggabungkan pendidikan, pariwisata, pertumbuhan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan lingkungan dalam satu ekosistem pembangunan.
Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi hijau di Kampung Inggris tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengunjung atau jumlah lembaga kursus. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan kawasan tersebut menjaga lingkungan, memperkuat usaha masyarakat lokal, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, dan membangun kerja sama yang berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat.
Profil Penulis
Auny Vidiyan Imsawati merupakan penulis utama dari STPMD APMD Yogyakarta dengan fokus kajian pada kebijakan publik, pembangunan daerah, pariwisata edukasi, dan ekonomi hijau.
Supardal merupakan akademisi dari STPMD APMD Yogyakarta yang berkontribusi dalam kajian kebijakan dan pembangunan masyarakat.
Adji Suradji Muhammad merupakan akademisi dari STPMD APMD Yogyakarta dengan bidang kajian yang berkaitan dengan administrasi publik, pemerintahan, dan pembangunan daerah.
Yeyen Subandi merupakan akademisi dari Universitas Respati Yogyakarta yang turut berkontribusi dalam kajian sosial, kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan.
0 Komentar