Malang – Emosi moral seperti empati, rasa bersalah, rasa malu, dan kebanggaan moral tidak muncul secara otomatis sejak lahir, tetapi berkembang melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh usia, kematangan kognitif, lingkungan keluarga, sekolah, hingga budaya. Temuan tersebut diungkap oleh Prada Nia Noprianti, Iswinarti, dan Yuni Nurhamida dari Universitas Muhammadiyah Malang dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Melalui kajian literatur sistematis, penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan emosi moral merupakan hasil interaksi dinamis antara faktor internal dan lingkungan sosial yang membentuk karakter anak sejak usia dini.
Emosi moral merupakan bagian penting dari perkembangan psikologis anak dan remaja karena menjadi penghubung antara pemahaman mengenai benar dan salah dengan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak merasa bersalah setelah melanggar aturan, menunjukkan empati terhadap teman yang sedang sedih, atau merasa bangga karena telah berbuat baik, emosi tersebut berperan sebagai pengarah perilaku sosial yang positif. Berbeda dengan emosi dasar seperti marah atau takut, emosi moral berkembang melalui pengalaman sosial, interaksi dengan orang lain, serta proses belajar mengenai nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Untuk memahami bagaimana emosi moral terbentuk, para peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA. Peneliti menelusuri 200 artikel ilmiah melalui Google Scholar menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan emosi moral pada anak dan remaja. Setelah melalui proses penyaringan berdasarkan judul, abstrak, isi artikel, serta kriteria inklusi, hanya 13 penelitian yang memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut. Diagram PRISMA pada artikel menunjukkan bagaimana proses seleksi dilakukan secara bertahap hingga diperoleh kumpulan penelitian yang paling relevan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa usia dan kematangan kognitif menjadi fondasi utama perkembangan emosi moral. Seiring bertambahnya usia, anak semakin mampu memahami hubungan sebab-akibat dari suatu tindakan, melihat suatu peristiwa dari sudut pandang orang lain, serta memahami konsekuensi moral atas perilakunya. Kemampuan tersebut membuat anak mulai merasakan emosi seperti rasa bersalah ketika melanggar norma sosial atau kebanggaan setelah melakukan tindakan yang dianggap benar.
Selain faktor usia, empati menjadi unsur yang paling berpengaruh dalam membentuk emosi moral. Anak yang mampu memahami dan merasakan perasaan orang lain cenderung lebih mudah menunjukkan perilaku prososial, seperti menolong teman, berbagi, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti orang lain. Penelitian ini juga menegaskan bahwa empati tidak hanya dipengaruhi oleh karakter individu, tetapi berkembang melalui interaksi dengan keluarga, pengalaman sosial, serta kualitas hubungan dengan orang tua.
Faktor penting lainnya adalah kemampuan mengelola emosi (emotion regulation). Anak yang mampu mengendalikan emosi negatif secara sehat lebih mudah mengubah rasa bersalah menjadi dorongan untuk memperbaiki kesalahan dan belajar dari pengalaman. Sebaliknya, kesulitan mengelola emosi dapat menghambat munculnya empati serta meningkatkan risiko munculnya respons emosional yang kurang adaptif. Dengan kata lain, bukan hanya jenis emosi yang penting, tetapi juga bagaimana anak belajar mengelolanya sejak dini.
Penelitian ini juga menemukan bahwa karakteristik individu seperti kepekaan terhadap keadilan (justice sensitivity), kepribadian, pengendalian diri, serta identitas moral turut memengaruhi perkembangan emosi moral. Anak dan remaja yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap ketidakadilan cenderung memberikan respons emosional yang lebih kuat ketika menyaksikan pelanggaran norma. Pada masa remaja, nilai-nilai moral mulai menjadi bagian dari identitas diri sehingga emosi moral tidak lagi sekadar reaksi sesaat, tetapi menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan pembentukan karakter.
Lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor eksternal yang paling menentukan. Hubungan yang hangat, penuh dukungan, dan responsif antara orang tua dan anak terbukti mampu meningkatkan empati serta membantu anak menginternalisasi nilai-nilai moral. Sebaliknya, pola asuh yang keras, penuh tekanan, atau kurang memberikan dukungan emosional dapat menghambat perkembangan emosi moral. Peneliti juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan pola asuh yang menjelaskan alasan di balik suatu aturan agar anak memahami konsekuensi moral dari setiap tindakan.
Tidak hanya keluarga, sekolah dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting. Interaksi dengan teman sebaya, diskusi mengenai persoalan moral, permainan yang mengajarkan kerja sama, hingga program pembelajaran sosial-emosional di sekolah terbukti membantu anak mengembangkan empati, pengendalian emosi, dan perilaku prososial. Selain itu, budaya tempat anak tumbuh juga memengaruhi cara mereka mengekspresikan emosi moral. Budaya kolektivistik cenderung menekankan rasa malu dan empati demi menjaga keharmonisan kelompok, sedangkan budaya individualistik lebih menonjolkan rasa bersalah yang berkaitan dengan tanggung jawab pribadi.
Kajian ini juga mengungkap bahwa pengalaman negatif, seperti kekerasan dan penelantaran, dapat menghambat perkembangan emosi moral dan meningkatkan risiko munculnya respons emosional yang kurang sehat. Sebaliknya, pengalaman positif yang mendorong refleksi moral, rasa syukur, dan kemampuan memaafkan terbukti berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis sekaligus memperkuat hubungan sosial anak dan remaja.
Menurut Prada Nia Noprianti dan tim peneliti, pembentukan emosi moral memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Orang tua, guru, dan lingkungan sosial perlu bekerja sama menciptakan suasana yang hangat, aman, dan mendukung perkembangan empati serta kemampuan mengelola emosi. Penelitian ini merekomendasikan agar orang tua menerapkan pola asuh yang responsif dan konsisten, menghindari kekerasan dalam pengasuhan, serta membangun komunikasi terbuka dengan anak. Kolaborasi yang baik antara keluarga dan sekolah juga dinilai penting untuk membantu anak menginternalisasi nilai-nilai moral sejak usia dini.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa emosi moral bukanlah kemampuan yang terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Dengan memberikan lingkungan yang mendukung, anak dan remaja memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi individu yang berempati, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan moral secara bijaksana.
Profil Penulis
Prada Nia Noprianti – Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia.
Iswinarti – Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia.
Yuni Nurhamida – Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia.
Sumber Penelitian
Judul: Factors Forming Moral Emotions in Children and Adolescents: A Systematic Literature Review.
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 7, 2026.
0 Komentar