![]() |
| Illustration by Ai |
Kinerja keselamatan kerja pekerja di industri pengolahan kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh iklim keselamatan atau safety climate yang terbentuk di lingkungan kerja. Temuan ini diungkap oleh Thalia Ika Putri Siregar, Umi Salmah, dan Eka Lestari Mahyuni dari Universitas Sumatera Utara (USU) dalam penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA). Studi ini menyoroti bagaimana komitmen manajemen, komunikasi keselamatan, praktik keselamatan, dan pelatihan keselamatan berperan dalam membentuk perilaku aman pekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan, Sumatera Utara.
Temuan tersebut penting karena industri pengolahan kelapa
sawit merupakan salah satu sektor dengan risiko kecelakaan kerja yang tinggi.
Aktivitas produksi melibatkan mesin bertekanan tinggi, suhu panas, kebisingan,
serta berbagai potensi bahaya lainnya yang menuntut pekerja untuk selalu
mematuhi prosedur keselamatan kerja.
Menurut para peneliti, keberadaan aturan dan fasilitas
keselamatan saja belum cukup menjamin pekerja akan berperilaku aman. Faktor
yang lebih menentukan adalah bagaimana pekerja memandang komitmen perusahaan
terhadap keselamatan dan bagaimana budaya keselamatan diterapkan dalam
aktivitas sehari-hari.
Penelitian dilakukan di PKS Rambutan milik PT Perkebunan
Nusantara IV Regional I yang berlokasi di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Studi
berlangsung sejak Maret 2026 dengan melibatkan 88 pekerja dari bagian
pengolahan, sortasi, dan teknik yang memiliki tingkat risiko kerja tinggi. Data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis
menggunakan metode statistik untuk mengukur hubungan antara iklim keselamatan
dan kinerja keselamatan pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi keselamatan kerja
di lokasi penelitian masih menghadapi berbagai tantangan. Sebanyak 58 persen
responden menilai iklim keselamatan di tempat kerja masih berada pada kategori
kurang baik. Sementara itu, 56,8 persen pekerja juga tercatat memiliki kinerja
keselamatan yang kurang baik.
Peneliti menemukan bahwa seluruh komponen utama iklim
keselamatan memiliki hubungan signifikan dengan kinerja keselamatan pekerja.
Beberapa temuan utama antara lain:
- Komitmen
manajemen berpengaruh signifikan terhadap kinerja keselamatan pekerja
dengan nilai signifikansi 0,036.
- Komunikasi
keselamatan berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,002.
- Praktik
keselamatan berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,001.
- Pelatihan
keselamatan berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi kurang dari
0,001.
- Secara
keseluruhan, iklim keselamatan memiliki pengaruh yang sangat signifikan
terhadap kinerja keselamatan pekerja dengan nilai signifikansi kurang dari
0,001.
Dari seluruh faktor yang diteliti, pelatihan keselamatan
muncul sebagai faktor paling dominan. Analisis regresi menunjukkan bahwa
pekerja yang memperoleh pelatihan keselamatan yang kurang baik memiliki risiko
4,575 kali lebih besar untuk menunjukkan kinerja keselamatan yang buruk
dibandingkan pekerja yang mendapatkan pelatihan yang baik.
Komunikasi keselamatan juga memberikan pengaruh yang kuat.
Pekerja dengan komunikasi keselamatan yang kurang efektif memiliki risiko 3,487
kali lebih besar mengalami kinerja keselamatan yang rendah. Sementara itu,
praktik keselamatan yang kurang baik meningkatkan risiko kinerja keselamatan
yang buruk hingga 2,780 kali.
Penelitian ini mengungkap sejumlah kondisi lapangan yang
masih perlu diperbaiki. Di antaranya adalah pengawasan penggunaan alat
pelindung diri yang belum konsisten, komunikasi keselamatan yang hanya
dilakukan saat apel pagi tanpa pembahasan risiko secara mendalam, minimnya
pelatihan keselamatan khusus, serta rendahnya pelaporan insiden nyaris celaka (near
miss) oleh pekerja.
Menurut Thalia Ika Putri Siregar dan tim dari Universitas
Sumatera Utara, peningkatan keselamatan kerja tidak cukup hanya dengan
menyediakan aturan dan fasilitas. Perusahaan perlu membangun budaya keselamatan
yang kuat melalui komunikasi yang terbuka, pelatihan yang berkelanjutan,
pengawasan yang konsisten, serta keterlibatan aktif pekerja dalam program
keselamatan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pekerja yang memperoleh
komunikasi keselamatan yang baik, praktik keselamatan yang konsisten, dan
pelatihan keselamatan yang memadai memiliki peluang mencapai kinerja
keselamatan yang baik hingga 85,3 persen. Temuan ini memperlihatkan bahwa
investasi pada aspek keselamatan kerja bukan hanya mengurangi risiko
kecelakaan, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan kerja secara
keseluruhan.
Bagi industri kelapa sawit dan sektor manufaktur lainnya,
hasil penelitian ini memberikan pesan yang jelas: membangun budaya keselamatan
kerja harus menjadi prioritas utama. Lingkungan kerja yang aman tidak hanya
melindungi pekerja, tetapi juga mendukung produktivitas, keberlanjutan usaha,
dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya terkait
pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Profil Penulis
Thalia Ika Putri Siregar adalah peneliti dari
Universitas Sumatera Utara yang menekuni bidang kesehatan dan keselamatan kerja
(K3), perilaku keselamatan kerja, serta manajemen risiko industri.
Dr. Umi Salmah merupakan akademisi Universitas
Sumatera Utara yang memiliki keahlian dalam kesehatan masyarakat, keselamatan
dan kesehatan kerja, serta pengembangan kebijakan kesehatan kerja.
Dr. Eka Lestari Mahyuni adalah dosen dan peneliti
Universitas Sumatera Utara yang fokus pada bidang kesehatan lingkungan,
kesehatan kerja, dan keselamatan industri.
Sumber Penelitian
Link Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/mudima
Link Artikel: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i6.94

0 Komentar