Industri air minum dalam kemasan saat ini menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya volume sampah plastik dan semakin tingginya perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan. Data yang dikutip dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa limbah plastik di Indonesia terus meningkat, sehingga mendorong perusahaan untuk menerapkan konsep green marketing melalui pengembangan produk ramah lingkungan maupun kampanye iklan yang mengangkat isu keberlanjutan.
Meski demikian, konsumen tidak selalu mempercayai setiap klaim "ramah lingkungan" yang disampaikan perusahaan. Banyak masyarakat masih meragukan apakah produk tersebut benar-benar memiliki manfaat bagi lingkungan atau hanya sekadar strategi pemasaran (greenwashing). Kondisi inilah yang mendorong Sabrina Firda Amelia dan Moch Rizal meneliti faktor-faktor yang benar-benar memengaruhi niat konsumen membeli produk air minum kemasan ramah lingkungan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 279 responden di wilayah DKI Jakarta yang mengetahui atau pernah mengonsumsi produk air minum kemasan berkonsep ramah lingkungan. Data dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan skala Likert enam poin, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.0. Pendekatan ini digunakan untuk melihat hubungan antara kualitas produk hijau, iklan hijau, kepedulian lingkungan, dan minat beli konsumen.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa green advertising atau iklan ramah lingkungan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen. Sebaliknya, green product atau karakteristik produk yang diklaim ramah lingkungan justru tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan konsumen untuk membeli.
Dengan kata lain, konsumen lebih tertarik ketika perusahaan mampu menyampaikan pesan lingkungan melalui komunikasi pemasaran yang jelas, menarik, dan mudah dipahami dibandingkan hanya menawarkan produk dengan label ramah lingkungan.
Penelitian ini juga menguji apakah tingkat kepedulian seseorang terhadap lingkungan (environmental concern) dapat memperkuat pengaruh produk hijau maupun iklan hijau terhadap minat beli. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor tersebut tidak terbukti menjadi variabel moderasi. Artinya, baik konsumen yang memiliki kepedulian lingkungan tinggi maupun rendah tetap menunjukkan pola respons yang hampir sama terhadap kedua strategi pemasaran tersebut.
Secara statistik, penelitian menemukan bahwa pengaruh green advertising terhadap purchase intention memiliki nilai signifikansi p = 0,009, sehingga dinyatakan berpengaruh nyata. Sebaliknya, green product memperoleh nilai p = 0,696, yang menunjukkan tidak adanya pengaruh signifikan terhadap minat beli. Selain itu, interaksi environmental concern dengan green product maupun green advertising juga tidak menunjukkan pengaruh yang berarti.
Menurut Sabrina Firda Amelia dan Moch Rizal dari Muhammadiyah University of Technology Jakarta, hasil tersebut menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran memegang peranan yang lebih besar dibandingkan atribut produk itu sendiri. Konsumen memerlukan informasi yang mudah dipahami, kredibel, dan mampu menjelaskan manfaat lingkungan secara nyata sebelum memutuskan membeli suatu produk.
Temuan ini juga mengindikasikan bahwa perusahaan tidak cukup hanya mengembangkan kemasan ramah lingkungan atau mengurangi penggunaan plastik. Upaya tersebut perlu disertai komunikasi yang transparan, edukatif, dan konsisten agar masyarakat memahami manfaat produk serta percaya bahwa perusahaan benar-benar menjalankan praktik bisnis berkelanjutan, bukan sekadar memanfaatkan isu lingkungan sebagai alat promosi.
Bagi pelaku industri AMDK, penelitian ini menjadi masukan penting dalam menyusun strategi pemasaran. Perusahaan disarankan mengintegrasikan inovasi produk dengan kampanye komunikasi yang efektif sehingga pesan keberlanjutan dapat diterima konsumen secara utuh. Pendekatan ini dinilai lebih berpotensi meningkatkan minat beli sekaligus membangun citra perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Di sisi lain, hasil penelitian juga menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen dalam meningkatkan literasi masyarakat mengenai produk ramah lingkungan. Edukasi yang lebih baik dapat membantu masyarakat membedakan antara klaim lingkungan yang benar-benar didukung praktik nyata dengan klaim yang hanya bersifat promosi.
Penelitian ini turut membuka peluang penelitian lanjutan. Karena kepedulian lingkungan tidak terbukti memperkuat hubungan antara strategi pemasaran hijau dan minat beli, peneliti merekomendasikan agar studi berikutnya menguji variabel lain, seperti green knowledge (pengetahuan lingkungan) dan green awareness (kesadaran lingkungan). Kedua faktor tersebut diperkirakan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam membentuk perilaku konsumen terhadap produk ramah lingkungan.
Profil Penulis
Sabrina Firda Amelia merupakan peneliti dari Muhammadiyah University of Technology Jakarta yang menaruh perhatian pada bidang pemasaran, perilaku konsumen, dan pemasaran berkelanjutan (green marketing). Penelitian ini ditulis bersama Moch Rizal, dosen dan peneliti dari universitas yang sama dengan fokus kajian pada manajemen pemasaran dan perilaku konsumen dalam konteks keberlanjutan.
Sumber Penelitian
Amelia, Sabrina Firda & Rizal, Moch. (2026). Environmental Concern as a Moderating Variable on the Influence of Green Products and Green Advertising on Purchase Intention of Bottled Drinking Water Products. Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 7, 2026. DOI: 10.55927/fjmr.v5i7.122.
0 Komentar