Temuan tersebut berasal dari penelitian E Hanis Nurwidati, Farida Nugrahani, Agata Margareti, Prih Haryati, Tubandi, dan Anom Wija Pratama dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo. Penelitian yang dilakukan pada 2025 mengkaji persepsi guru Bahasa Indonesia terhadap penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran menulis di era literasi digital. Hasilnya menunjukkan bahwa guru cenderung menerima kehadiran kecerdasan buatan generatif, tetapi menekankan bahwa teknologi tersebut harus digunakan sebagai alat bantu berpikir, bukan sebagai “penulis pengganti” bagi siswa.
ChatGPT Mengubah Cara Siswa Memulai Proses Menulis
Kemunculan ChatGPT membawa perubahan besar dalam pembelajaran menulis. Siswa kini dapat memperoleh ide, meminta bantuan menyusun kerangka, mendapatkan masukan terhadap draf, hingga memperbaiki struktur bahasa hanya melalui percakapan dengan sistem kecerdasan buatan.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru bagi guru. Pembelajaran menulis tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan teks akhir. Proses tersebut mencakup kemampuan menemukan gagasan, mengorganisasi informasi, menyusun argumen, menulis draf, mengevaluasi, dan merevisi tulisan.
Karena itu, penggunaan ChatGPT secara langsung untuk menghasilkan seluruh tulisan dapat mengurangi keterlibatan siswa dalam proses berpikir. Guru yang diwawancarai dalam penelitian ini melihat bahwa tantangan utama bukan semata-mata apakah siswa menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran.
“ChatGPT harus menjadi alat bantu yang berada dalam kendali siswa dan guru, bukan teknologi yang mengambil alih seluruh proses berpikir,” menjadi garis besar pandangan para guru yang diteliti.
Tiga Guru Menunjukkan Pemahaman yang Berbeda
Penelitian ini melibatkan tiga guru Bahasa Indonesia sebagai informan utama. Mereka memiliki tingkat pengalaman dan pemahaman teknologi yang berbeda, sehingga memberikan gambaran beragam mengenai penerimaan ChatGPT di lingkungan sekolah.
Guru dengan pemahaman AI yang lebih tinggi melihat ChatGPT sebagai “asisten penulis virtual” yang dapat digunakan untuk brainstorming dan pengembangan gagasan. Namun, siswa tetap harus menjadi pihak yang mengendalikan proses penulisan.
Guru lain memanfaatkan ChatGPT sebagai alat pembanding. Siswa diminta membandingkan tulisan mereka sendiri dengan teks yang dihasilkan AI. Dari proses tersebut, siswa dapat mengidentifikasi perbedaan struktur, kualitas argumen, pilihan kata, serta kelemahan dalam tulisannya sendiri.
Sementara itu, guru yang masih memiliki keterbatasan pengalaman dalam menggunakan AI mengakui bahwa dirinya masih perlu belajar. Meski demikian, terdapat kesamaan pandangan bahwa ChatGPT tidak boleh digunakan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap ChatGPT cenderung bersifat fungsional dan praktis. Guru lebih banyak memperhatikan manfaat dan risiko penggunaan AI dalam pembelajaran daripada aspek teknis mengenai cara kerja algoritma kecerdasan buatan.
Efisiensi Prapenulisan Menjadi Manfaat Terbesar
Salah satu manfaat utama ChatGPT yang dirasakan guru adalah kemampuannya mempercepat tahap prapenulisan.
Sebelum menggunakan bantuan AI, siswa dapat menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk menentukan topik, menemukan ide, atau menyusun kerangka tulisan. Dengan panduan yang tepat, ChatGPT dapat membantu menghasilkan alternatif gagasan dan struktur awal tulisan.
Dalam penelitian tersebut, efisiensi waktu pada tahap prapenulisan memperoleh skor persepsi tertinggi, yaitu 4,4. Guru menilai teknologi ini dapat memangkas waktu yang biasanya digunakan siswa untuk mencari ide dan menyusun kerangka.
Dengan demikian, waktu pembelajaran dapat lebih banyak digunakan untuk mengembangkan argumen, memperdalam isi tulisan, dan melakukan revisi.
Manfaat lain yang mendapat perhatian adalah umpan balik secara cepat. Guru dapat meminta siswa menggunakan ChatGPT untuk memperoleh masukan awal terhadap paragraf atau draf tulisan. Setelah itu, siswa tidak langsung menerima semua saran AI, tetapi mendiskusikan dan mengevaluasi apakah saran tersebut benar-benar sesuai dengan tujuan penulisan.
Pola ini membuat ChatGPT berfungsi sebagai pendukung proses revisi, bukan sebagai penentu akhir kualitas tulisan.
Ketergantungan Siswa Menjadi Kekhawatiran Terbesar
Di balik manfaatnya, guru juga melihat sejumlah risiko. Ketergantungan siswa menjadi kekhawatiran yang paling dominan dengan proporsi 32 persen.
Guru khawatir siswa menjadi kehilangan kemampuan untuk memulai tulisan secara mandiri. Jika setiap tugas menulis selalu diawali dengan meminta AI menghasilkan teks, siswa berpotensi kehilangan kesempatan untuk berlatih menghadapi kesulitan dalam menemukan ide dan mengembangkan gagasan.
Kekhawatiran berikutnya adalah keterbatasan literasi digital guru sebesar 24 persen. Sebagian guru masih menghadapi kesulitan dalam menentukan batas penggunaan AI yang wajar serta mengevaluasi apakah tulisan siswa benar-benar mencerminkan kemampuan mereka sendiri.
Kendala infrastruktur internet juga menjadi persoalan, dengan proporsi 18 persen. Kondisi konektivitas yang tidak selalu stabil dapat memengaruhi konsistensi penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Selain itu, integritas akademik menjadi isu penting. ChatGPT dapat menghasilkan teks dalam waktu singkat, sehingga siswa memiliki peluang untuk menyerahkan tulisan yang tidak sepenuhnya berasal dari proses berpikir mereka sendiri.
Empat Strategi Agar AI Tidak Menggantikan Siswa
Untuk mengurangi risiko tersebut, guru mengembangkan empat strategi utama dalam menggunakan ChatGPT.
Pertama, guided prompting. Guru menyusun prompt atau instruksi yang spesifik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan cara ini, siswa tidak sekadar meminta AI menulis sebuah teks, tetapi menggunakannya untuk memperoleh bantuan yang terarah.
Kedua, comparative writing. Siswa membandingkan tulisan mereka sendiri dengan teks yang dihasilkan ChatGPT. Kegiatan ini membantu siswa memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing tulisan.
Ketiga, error analysis. Siswa diminta menemukan kesalahan dalam teks yang dihasilkan AI. Strategi ini penting karena ChatGPT tidak selalu menghasilkan informasi yang benar, argumen yang logis, atau struktur bahasa yang sempurna.
Keempat, reflective journaling. Siswa mendokumentasikan bagaimana mereka menggunakan ChatGPT selama proses menulis. Mereka dapat menjelaskan alasan menggunakan AI, bantuan yang diperoleh, serta keputusan yang diambil dalam menyusun dan merevisi tulisan.
Keempat strategi tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tidak harus dilakukan dengan cara melarang teknologi secara total. Sebaliknya, guru dapat mengarahkan siswa untuk menggunakan AI secara kritis, transparan, dan bertanggung jawab.
Guru Merekomendasikan AI untuk Ide dan Revisi
Penelitian ini juga menemukan perbedaan antara penggunaan ChatGPT yang direkomendasikan guru dan praktik penggunaannya oleh siswa.
Guru merekomendasikan penggunaan ChatGPT paling tinggi pada tahap prapenulisan atau brainstorming, dengan skor 4,5, serta tahap revisi dan penyuntingan dengan skor 4,3. Sebaliknya, penggunaan pada tahap finalisasi teks direkomendasikan lebih rendah, yaitu 2,8.
Siswa justru cenderung menggunakan ChatGPT secara lebih intensif pada tahap penulisan draf, dengan skor 3,9. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sebagian siswa masih menggunakan AI untuk menghasilkan teks secara langsung, sementara guru lebih menginginkan AI berperan sebagai mitra berpikir.
Menurut para peneliti dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, kondisi tersebut menegaskan pentingnya peran guru dalam merancang aktivitas pembelajaran berbasis AI. Teknologi yang sama dapat memberikan manfaat berbeda bergantung pada bagaimana tugas dan aturan penggunaannya dirancang.
Implikasi bagi Pendidikan di Era AI
Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi sekolah dan pembuat kebijakan pendidikan. Integrasi AI dalam pembelajaran menulis tidak cukup hanya dengan menyediakan akses teknologi.
Guru membutuhkan pelatihan yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan ChatGPT, tetapi juga cara merancang aktivitas pembelajaran, menyusun prompt, mengevaluasi keluaran AI, mengajarkan verifikasi informasi, serta menjaga integritas akademik.
Sekolah juga perlu memiliki pedoman yang jelas mengenai kapan dan bagaimana AI boleh digunakan dalam tugas menulis. Siswa perlu memahami bahwa penggunaan ChatGPT harus disertai tanggung jawab akademik dan tidak boleh menghilangkan proses berpikir mandiri.
Bagi pembelajaran Bahasa Indonesia, ChatGPT dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk memperluas kesempatan siswa mendapatkan umpan balik dan mengembangkan ide. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh jika siswa tetap menjadi pelaku utama dalam proses menulis.
Dengan demikian, pesan utama penelitian ini cukup jelas: ChatGPT sebaiknya digunakan untuk membantu siswa berpikir lebih baik, bukan untuk berpikir menggantikan siswa.
Profil Penulis
Penelitian ini ditulis oleh E Hanis Nurwidati, Farida Nugrahani, Agata Margareti, Prih Haryati, Tubandi, dan Anom Wija Pratama dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo. Para penulis berfokus pada bidang pendidikan, pembelajaran Bahasa Indonesia, literasi digital, pemanfaatan teknologi pendidikan, serta integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran.
Sumber Penelitian
Artikel ini bersumber dari penelitian berjudul “Indonesian Language Teachers' Perceptions of ChatGPT Use in Writing Instruction in the Digital Literacy Era” atau “Persepsi Guru Bahasa Indonesia terhadap Penggunaan ChatGPT dalam Pembelajaran Menulis di Era Literasi Digital”.
Artikel diterbitkan pada 2026 dalam Asian Journal of Applied Education (AJAE) dengan DOI 10.55927/ajae.v5i3.16815.
Sumber resmi jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
0 Komentar