Film Animasi I Am What I Am 1 Merepresentasikan Budaya Tiongkok melalui Tujuh Simbol Tradisional

Created by AI

FORMOSA NEWS - Medan - Film animasi I Am What I Am 1 tidak hanya menghadirkan kisah perjuangan dan persahabatan, tetapi juga merepresentasikan budaya Tiongkok melalui tujuh simbol tradisional. Temuan ini diungkapkan Ririn Ayu Indah Manalu, Alemina Br. Perangin-angin, dan Jessy dari Universitas Sumatera Utara dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026. Dengan menggunakan kajian semiotika Roland Barthes, penelitian tersebut menunjukkan bahwa lampion, angpao, alat musik tradisional, qipao, aksara 福 (fu), barongsai, dan simbol singa membawa pesan tentang harapan, keberuntungan, solidaritas, keberanian, kerja sama, dan pelestarian budaya.

Penelitian berjudul “Representation of Chinese Culture in the Animation Film I Am What I Am 1: Semiotic Study” atau “Representasi Budaya Tiongkok dalam Film Animasi I Am What I Am 1: Kajian Semiotika” menyoroti bagaimana film dapat menjadi media penting dalam memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.

Film animasi karya sutradara Sun Haipeng tersebut tidak menempatkan budaya Tiongkok hanya sebagai latar visual. Unsur budaya justru menjadi bagian penting dalam membangun identitas tokoh, suasana cerita, serta pesan sosial yang disampaikan kepada penonton.

Film Menjadi Media Pengenalan Budaya

Budaya tidak hanya hadir dalam bentuk pakaian, benda, musik, atau tradisi. Di dalamnya terdapat nilai, kepercayaan, norma, dan cara masyarakat memaknai kehidupan.

Dalam konteks masyarakat Tiongkok, berbagai tradisi yang berkaitan dengan keluarga, solidaritas sosial, keberuntungan, keberanian, dan penghormatan terhadap warisan leluhur masih memiliki peran penting. Film kemudian menjadi salah satu media yang mampu menyampaikan nilai-nilai tersebut melalui gambar, suara, dialog, karakter, dan alur cerita.

Ririn Ayu Indah Manalu, Alemina Br. Perangin-angin, dan Jessy dari Universitas Sumatera Utara melihat bahwa I Am What I Am 1 menarik untuk dikaji karena menampilkan sejumlah simbol budaya Tiongkok secara konsisten.

Dengan pendekatan semiotika Roland Barthes, para peneliti menganalisis setiap simbol melalui tiga lapisan makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Makna denotasi merujuk pada apa yang tampak secara langsung. Konotasi berkaitan dengan makna budaya dan sosial yang lebih luas, sedangkan mitos mengungkap kepercayaan atau ideologi yang telah berkembang dan diwariskan dalam masyarakat.

Tujuh Simbol Budaya Menjadi Fokus Analisis

Penelitian tersebut menemukan tujuh simbol budaya utama dalam film:

  • lampion merah;

  • angpao;

  • alat musik tradisional Tiongkok;

  • pakaian tradisional qipao;

  • aksara 福 (fu);

  • barongsai; dan

  • simbol singa.

Ketujuh simbol tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual. Setiap simbol membawa makna yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan nilai budaya masyarakat Tiongkok.

Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa film merepresentasikan budaya sebagai sesuatu yang terus hidup dan diwariskan, bukan sebagai peninggalan masa lalu yang terpisah dari kehidupan modern.

Lampion Merepresentasikan Harapan dan Keberuntungan

Lampion merah menjadi salah satu simbol budaya yang paling mudah dikenali dalam film. Secara langsung, lampion berfungsi sebagai penerangan dan dekorasi.

Namun, dalam budaya Tiongkok, lampion merah memiliki makna yang lebih luas. Warna merah sering dikaitkan dengan keberuntungan, kebahagiaan, keberanian, energi positif, dan kemakmuran.

Dalam film, lampion juga merepresentasikan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Makna ini sejalan dengan perjalanan tokoh utama yang harus menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan untuk mencapai impiannya.

Pada tingkat mitos, lampion juga berkaitan dengan kepercayaan bahwa cahaya dan warna merah dapat mengusir energi negatif serta mendatangkan keberuntungan. Film kemudian memperkenalkan makna tersebut kepada penonton melalui simbol visual yang sederhana tetapi kuat.

Angpao Menjadi Simbol Berkah dan Solidaritas

Simbol lain yang dianalisis adalah angpao. Amplop merah yang biasanya berisi uang tersebut secara umum dikenal sebagai bagian dari tradisi perayaan masyarakat Tionghoa.

Namun, maknanya tidak berhenti pada pemberian uang. Angpao juga merepresentasikan kasih sayang, perhatian, doa, keberkahan, dan hubungan sosial.

Dalam film, angpao menunjukkan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial. Nilai yang ditampilkan bukan semata-mata jumlah uang yang diberikan, melainkan harapan baik yang menyertai pemberian tersebut.

Penelitian Ririn Ayu Indah Manalu dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa angpao dapat dipahami sebagai simbol solidaritas sosial sekaligus sarana pewarisan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Musik Tradisional Menggambarkan Kekuatan Kolektif

Pertunjukan barongsai dalam film tidak dapat dipisahkan dari kehadiran tambur, simbal, dan suona. Bunyi alat musik tersebut mengatur ritme gerakan sekaligus membangun suasana perayaan.

Pada tingkat makna budaya, dentuman musik tradisional merepresentasikan semangat, kekuatan, keberanian, dan energi kolektif. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyatukan masyarakat.

Temuan ini berkaitan dengan perjalanan tokoh utama yang tidak dapat mencapai keberhasilan seorang diri. Dukungan teman dan kerja sama menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan.

Dengan demikian, musik tradisional dalam film juga menjadi simbol bahwa pencapaian individu dapat dibangun melalui kolaborasi dan solidaritas sosial.

Qipao Menegaskan Identitas Perempuan Tionghoa

Qipao menjadi simbol budaya yang merepresentasikan identitas perempuan Tionghoa. Pakaian tradisional dengan kerah tinggi dan desain khas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai busana.

Dalam film, qipao membawa makna keanggunan, kesopanan, kehormatan, dan keterikatan terhadap tradisi. Pakaian tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya dapat diekspresikan melalui berbagai aspek kehidupan sehari-hari.

Analisis semiotika juga menunjukkan bahwa qipao berkaitan dengan konstruksi sosial mengenai perempuan ideal dalam budaya Tiongkok. Representasi perempuan yang anggun, sopan, berwibawa, dan memiliki pengendalian diri merupakan makna yang terus dibentuk melalui budaya dan media.

Film Animasi Dapat Menjadi Media Pelestarian Budaya

Para peneliti dari Universitas Sumatera Utara menyimpulkan bahwa I Am What I Am 1 memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar hiburan.

Melalui simbol-simbol budaya yang ditampilkan, film tersebut memperkenalkan nilai-nilai tradisional kepada penonton dari berbagai latar belakang. Media animasi dapat menjembatani budaya dengan generasi muda karena menyampaikan pesan melalui visual, karakter, musik, dan cerita yang mudah diakses.

Temuan ini juga memiliki implikasi bagi industri kreatif. Penggunaan simbol budaya lokal dalam film, animasi, dan produk audiovisual dapat menjadi strategi untuk memperkenalkan identitas budaya kepada masyarakat internasional.

Bagi dunia pendidikan, film animasi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran budaya. Penonton tidak hanya melihat bentuk fisik sebuah tradisi, tetapi juga dapat memahami nilai sosial dan kepercayaan yang melatarbelakanginya.

Ririn Ayu Indah Manalu, Alemina Br. Perangin-angin, dan Jessy menunjukkan bahwa budaya dapat terus diwariskan melalui media modern tanpa kehilangan makna dasarnya. Ketika simbol tradisional ditempatkan dalam cerita yang relevan dengan kehidupan masa kini, budaya dapat menjadi lebih dekat dengan generasi baru.

Pada akhirnya, I Am What I Am 1 menunjukkan bahwa film animasi dapat berperan sebagai ruang untuk memperkenalkan, merepresentasikan, dan melestarikan budaya. Lampion, angpao, musik tradisional, qipao, aksara fu, barongsai, dan simbol singa tidak hanya memperkuat identitas visual film, tetapi juga membawa pesan tentang harapan, keberuntungan, kebersamaan, keberanian, dan pentingnya menjaga warisan budaya.

Profil Penulis

Ririn Ayu Indah Manalu merupakan penulis utama dan peneliti dari Universitas Sumatera Utara dengan minat kajian pada budaya Tiongkok, semiotika, representasi budaya, film, dan media.

Alemina Br. Perangin-angin merupakan akademisi dari Universitas Sumatera Utara yang berkontribusi dalam kajian bahasa, budaya, sastra, dan komunikasi.

Jessy merupakan akademisi dari Universitas Sumatera Utara yang berkontribusi dalam penelitian terkait kajian budaya, bahasa, dan media.

Sumber Penelitian

Judul: Representation of Chinese Culture in the Animation Film I Am What I Am 1: Semiotic Study / Representasi Budaya Tiongkok dalam Film Animasi I Am What I Am 1: Kajian Semiotika
Penulis: Ririn Ayu Indah Manalu, Alemina Br. Perangin-angin, dan Jessy
Afiliasi: Universitas Sumatera Utara
Jurnal: Jurnal Sosial, Politik dan Budaya (SOSPOLBUD)
Tahun publikasi: 2026
ISSN-E: 2962-2417
DOI: 10.55927/sospolbud.v5i2.16716

Posting Komentar

0 Komentar