Faktor yang Membuat Karyawan Generasi Z Lebih Terlibat dalam Pekerjaan Terungkap

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Perusahaan yang ingin mempertahankan karyawan Generasi Z tidak cukup hanya menawarkan gaji yang kompetitif. Dukungan organisasi, kepemimpinan yang memberdayakan, lingkungan kerja yang nyaman, pekerjaan yang bermakna, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi serta pekerjaan menjadi faktor utama yang membuat generasi muda lebih terlibat dalam pekerjaannya.

Kesimpulan tersebut disampaikan oleh Mahatma Elok Nurani dan Suhadianto dari Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya melalui penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR). Penelitian ini penting karena Generasi Z kini menjadi kelompok usia yang semakin mendominasi dunia kerja sehingga organisasi perlu memahami strategi terbaik untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam bekerja.

Perubahan komposisi tenaga kerja membawa tantangan baru bagi perusahaan. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z tumbuh bersama perkembangan internet, media sosial, dan teknologi digital. Mereka lebih menghargai fleksibilitas kerja, kesempatan berkembang, keseimbangan hidup, serta pekerjaan yang memiliki makna. Kondisi tersebut membuat pendekatan pengelolaan sumber daya manusia perlu menyesuaikan karakteristik generasi baru ini.

Dalam dunia manajemen sumber daya manusia, keterlibatan kerja atau work engagement menjadi salah satu indikator penting keberhasilan organisasi. Karyawan yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi umumnya menunjukkan semangat bekerja, dedikasi, konsentrasi, produktivitas, serta loyalitas yang lebih baik. Sebaliknya, keterlibatan kerja yang rendah sering dikaitkan dengan meningkatnya keinginan untuk pindah kerja (turnover intention).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hanya sekitar sepertiga pekerja Generasi Z yang benar-benar merasa terlibat penuh dalam pekerjaannya. Banyak di antara mereka memandang pekerjaan hanya sebagai sumber pendapatan, bukan sebagai bagian dari pengembangan diri maupun identitas pribadi. Situasi tersebut semakin menantang setelah perubahan pola kerja pascapandemi yang menghadirkan sistem kerja fleksibel, digitalisasi, dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh, Mahatma Elok Nurani dan Suhadianto melakukan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA 2020. Penelitian ini menelusuri berbagai publikasi ilmiah dari Google Scholar, Scopus, ScienceDirect, Emerald Insight, SpringerLink, Taylor & Francis Online, Wiley Online Library, serta Garuda.

Dari proses penyaringan yang dilakukan secara sistematis, peneliti berhasil memilih 20 artikel empiris yang diterbitkan selama periode 2020–2026. Seluruh penelitian tersebut membahas keterlibatan kerja karyawan Generasi Z di berbagai negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Malaysia, India, dan Filipina.

Hasil sintesis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi work engagement Generasi Z dapat dikelompokkan menjadi empat kategori besar, yaitu faktor organisasi, kepemimpinan, karakteristik pekerjaan, serta faktor psikologis individu.

Beberapa faktor yang paling konsisten meningkatkan keterlibatan kerja meliputi:

  • Dukungan organisasi (Perceived Organizational Support)
  • Kepemimpinan yang memberdayakan (Empowering Leadership)
  • Lingkungan kerja yang positif
  • Pekerjaan yang bermakna (Work Meaningfulness)
  • Keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (Work-Life Balance)

Selain itu, penelitian juga menemukan faktor lain yang berkontribusi positif, seperti:

  • Komitmen organisasi
  • Dukungan atasan
  • Fleksibilitas kerja
  • Ketersediaan sumber daya kerja
  • Self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri
  • Kesejahteraan psikologis (well-being)
  • Penilaian diri yang positif (core self-evaluation)

Sebaliknya, stres kerja menjadi faktor utama yang secara konsisten menurunkan keterlibatan kerja pada karyawan Generasi Z. Tekanan pekerjaan yang berlebihan dapat mengurangi motivasi, meningkatkan kelelahan emosional, hingga membuat karyawan kurang bersemangat menjalankan tugasnya.

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa persepsi terhadap dukungan organisasi merupakan faktor yang paling dominan. Ketika karyawan merasa perusahaan menghargai kontribusi mereka, memberikan perhatian terhadap kesejahteraan, menyediakan kesempatan berkembang, serta memberikan pengakuan atas pencapaian, mereka cenderung memiliki komitmen dan keterlibatan kerja yang lebih tinggi.

Menurut Mahatma Elok Nurani dan Suhadianto dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, karakteristik Generasi Z membuat mereka lebih responsif terhadap lingkungan kerja yang suportif dibandingkan sekadar imbalan finansial. Mereka menginginkan tempat kerja yang memberi ruang berkembang, hubungan kerja yang sehat, serta pemimpin yang terbuka terhadap masukan dan memberikan kepercayaan kepada bawahannya.

Kepemimpinan juga terbukti memiliki peran yang sangat penting. Gaya kepemimpinan yang memberikan otonomi, kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, umpan balik yang rutin, dan dukungan terhadap pengembangan kompetensi mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus keterlibatan kerja karyawan muda.

Selain kepemimpinan, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi perhatian utama Generasi Z. Penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam mengatur waktu maupun lokasi kerja membantu mereka menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kepuasan terhadap pekerjaan. Lingkungan kerja yang kolaboratif serta hubungan yang baik dengan rekan kerja juga memperkuat keterikatan mereka terhadap organisasi.

Temuan lainnya menunjukkan bahwa pekerjaan yang memiliki tujuan dan makna memberikan dampak besar terhadap motivasi intrinsik. Generasi Z tidak hanya ingin bekerja untuk memperoleh penghasilan, tetapi juga ingin merasakan bahwa pekerjaan mereka memberikan kontribusi yang berarti bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Bagi dunia usaha, hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa strategi mempertahankan talenta muda perlu difokuskan pada penciptaan budaya organisasi yang mendukung, kepemimpinan yang memberdayakan, pengembangan karier yang jelas, lingkungan kerja yang sehat, serta kebijakan kerja yang lebih fleksibel. Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi tingkat perpindahan karyawan.

Sementara bagi pengambil kebijakan dan praktisi sumber daya manusia, penelitian ini menjadi referensi penting dalam merancang kebijakan ketenagakerjaan yang lebih sesuai dengan karakteristik Generasi Z yang kini semakin mendominasi pasar tenaga kerja.

Profil Penulis

Mahatma Elok Nurani merupakan peneliti dari Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dengan bidang kajian psikologi industri dan organisasi, khususnya mengenai work engagement, perilaku organisasi, dan manajemen sumber daya manusia.

Suhadianto merupakan dosen di Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang memiliki fokus penelitian pada psikologi organisasi, perilaku kerja, serta pengembangan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Factors Influencing Work Engagement among Generation Z Employees: A Systematic Literature Review

Penulis: Mahatma Elok Nurani, Suhadianto

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 7 (2026)

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i7.138

URL: https://journalfjmr.my.id/index.php/fjmr

Posting Komentar

0 Komentar