Madiun – Ketergantungan petani padi terhadap tengkulak ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh keterbatasan modal, tetapi juga oleh kemudahan transaksi, hubungan kemitraan yang telah terjalin, serta terbatasnya akses ke pasar alternatif. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Silviana Siska Permatasari dan Mohammad Wahed dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur, yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Hasil penelitian ini penting karena memberikan gambaran mengapa praktik penjualan hasil panen kepada tengkulak masih menjadi pilihan utama petani, meskipun sering kali harga yang diterima lebih rendah dibandingkan jalur pemasaran lainnya.
Fenomena ketergantungan terhadap tengkulak masih menjadi tantangan di banyak daerah sentra produksi padi di Indonesia. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, keberadaan tengkulak tidak hanya berfungsi sebagai pembeli gabah, tetapi juga sebagai penyedia pinjaman modal, pemberi pembayaran cepat setelah panen, hingga penghubung petani dengan pasar. Kondisi tersebut membuat banyak petani tetap menjual hasil panennya kepada tengkulak karena dianggap lebih praktis dan mampu memenuhi kebutuhan mereka secara langsung.
Silviana Siska Permatasari dan Mohammad Wahed menjelaskan bahwa ketergantungan petani tidak dapat dipandang hanya sebagai akibat rendahnya pengetahuan atau kebiasaan lama. Bagi sebagian besar petani skala kecil, menjual hasil panen kepada tengkulak merupakan keputusan yang rasional. Keterbatasan modal usaha, biaya transportasi, kurangnya informasi harga, lemahnya posisi tawar, hingga hubungan sosial yang telah berlangsung lama menjadi faktor yang saling berkaitan dalam menentukan keputusan pemasaran hasil panen.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, penelitian dilakukan menggunakan survei terhadap 90 petani padi di Desa Sukorejo. Para responden diminta mengisi kuesioner mengenai akses modal, efisiensi transaksi, kemitraan dengan tengkulak, akses pasar, serta tingkat ketergantungan mereka terhadap tengkulak. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda sehingga dapat diketahui pengaruh masing-masing faktor terhadap tingkat ketergantungan petani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut sama-sama memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap ketergantungan petani kepada tengkulak. Namun, efisiensi transaksi menjadi faktor yang paling dominan. Petani menilai proses penjualan melalui tengkulak jauh lebih sederhana karena hasil panen dapat langsung diambil di lahan, proses negosiasi lebih singkat, biaya tambahan lebih kecil, dan pembayaran diterima lebih cepat. Kemudahan tersebut membuat petani lebih memilih jalur pemasaran yang dianggap praktis dibandingkan harus mencari pembeli lain yang menawarkan harga lebih tinggi tetapi membutuhkan biaya dan waktu lebih besar.
Selain efisiensi transaksi, akses terhadap modal juga berperan besar dalam membentuk ketergantungan. Banyak petani mengalami kesulitan memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan formal karena persyaratan administrasi, agunan, maupun proses pencairan yang relatif rumit. Dalam situasi tersebut, tengkulak hadir sebagai penyedia modal yang lebih cepat dan fleksibel. Namun, bantuan tersebut umumnya diikuti dengan kewajiban tidak tertulis bagi petani untuk menjual hasil panennya kepada pemberi modal. Kondisi ini membuat hubungan ekonomi antara petani dan tengkulak semakin kuat.
Hubungan kemitraan juga terbukti memperkuat ketergantungan. Penelitian menemukan bahwa rasa saling percaya, kedekatan personal, pengalaman bekerja sama dalam jangka panjang, dan bantuan yang diberikan tengkulak ketika petani menghadapi kesulitan menciptakan hubungan sosial yang sulit diputuskan. Walaupun hubungan tersebut memberikan rasa aman bagi petani, di sisi lain hubungan tersebut dapat mengurangi keinginan petani untuk mencari alternatif pembeli lain yang mungkin menawarkan harga lebih menguntungkan.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah terbatasnya akses pasar. Banyak petani masih mengalami kesulitan memperoleh informasi harga secara langsung, menjangkau penggilingan padi atau pembeli besar, maupun membangun jaringan pemasaran baru. Akibatnya, tengkulak menjadi pilihan yang paling mudah dijangkau. Penelitian menunjukkan bahwa semakin terbatas akses pasar yang dimiliki petani, semakin tinggi pula tingkat ketergantungan mereka terhadap tengkulak.
Analisis penelitian juga memperlihatkan bahwa kombinasi keempat faktor tersebut mampu menjelaskan sekitar 76,1 persen variasi tingkat ketergantungan petani terhadap tengkulak. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan harga jual gabah. Solusi yang lebih efektif adalah menghadirkan lembaga alternatif yang mampu memberikan layanan sepraktis tengkulak, mulai dari pembiayaan musiman, pembelian hasil panen secara langsung, informasi harga yang transparan, hingga akses pemasaran yang lebih luas.
Menurut Silviana Siska Permatasari dan Mohammad Wahed, penguatan kelompok tani, koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta kerja sama dengan penggilingan padi dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak tanpa menghilangkan fungsi penting yang selama ini mereka jalankan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan posisi tawar petani sekaligus menciptakan sistem pemasaran hasil pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keberadaan tengkulak sebenarnya masih dibutuhkan oleh petani karena mampu menyediakan layanan yang belum sepenuhnya dapat diberikan oleh lembaga formal. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesejahteraan petani sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengurangan peran tengkulak, tetapi juga pada penyediaan alternatif yang menawarkan kemudahan transaksi, akses pembiayaan, serta jaringan pemasaran yang setara atau bahkan lebih baik.
Profil Penulis
Silviana Siska Permatasari – Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
Mohammad Wahed – Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur.
Sumber Penelitian
Judul: The Influence of Access to Capital, Transaction Efficiency, Partnerships, and Limited Market Access on Farmers' Dependency on Middlemen in Rice Farming
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 7, 2026.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.67
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar