Cerita Rakyat dan Metode 5W1H Terbukti Tingkatkan Kemampuan Siswa SD Menceritakan Kembali Bacaan


Gambar ini dibuat oleh AI

Kemampuan siswa sekolah dasar untuk menceritakan kembali isi bacaan dapat meningkat secara signifikan ketika pembelajaran memadukan cerita rakyat berbasis kearifan lokal dengan kerangka berpikir 5W1H (What, Who, Where, When, Why, How). Temuan tersebut dilaporkan oleh Nurnaningsih, Veronika Unun Pratiwi, dan Arin Arianti dari Universitas Veteran Bangun Nusantara  Sukoharjo dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Applied Educational Research (IJAER).

Hasil penelitian ini dinilai penting karena kemampuan menceritakan kembali tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga menjadi indikator pemahaman membaca, penguasaan kosakata, serta kemampuan berpikir logis siswa. Di tengah tantangan rendahnya literasi membaca di Indonesia, pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual menjadi salah satu solusi yang semakin dibutuhkan.

Para peneliti menjelaskan bahwa banyak siswa sekolah dasar masih kesulitan menyampaikan kembali isi cerita secara runtut. Mereka sering melewatkan informasi penting, menggunakan kosakata yang terbatas, dan cenderung menghafal alur cerita dibandingkan benar-benar memahami hubungan antarperistiwa. Kondisi tersebut ditemukan pada siswa kelas IV SDN Jombor 02 Sukoharjo sebelum penelitian dimulai.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti menggabungkan dua pendekatan. Pertama, siswa belajar menggunakan cerita berbasis kearifan lokal sehingga isi bacaan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kedua, mereka menggunakan kerangka 5W1H agar mampu mengidentifikasi unsur penting dalam cerita secara sistematis, mulai dari siapa tokohnya, apa yang terjadi, kapan, di mana, mengapa peristiwa berlangsung, hingga bagaimana alurnya berkembang. Pendekatan ini menjadi kebaruan penelitian karena kedua metode sebelumnya lebih sering dikaji secara terpisah.

Penelitian melibatkan 27 siswa kelas IV SDN Jombor 02 Sukoharjo yang mengikuti rangkaian pembelajaran menggunakan cerita asal-usul Sukoharjo. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa mengikuti tes awal untuk mengetahui kemampuan mereka. Selanjutnya guru memperkenalkan konsep storytelling dan 5W1H, membimbing siswa mengidentifikasi unsur cerita, kemudian melatih mereka menceritakan kembali isi cerita secara berpasangan maupun individu. Setelah seluruh rangkaian selesai, siswa mengikuti tes akhir menggunakan cerita lain dengan tingkat kesulitan yang setara.

Hasilnya menunjukkan peningkatan yang sangat jelas.

  • Nilai rata-rata kemampuan menceritakan kembali meningkat dari 1,89 menjadi 3,21.
  • Terjadi kenaikan sebesar 1,32 poin atau sekitar 69,8 persen dibandingkan kondisi awal.
  • Uji statistik menunjukkan peningkatan tersebut sangat signifikan dengan t = 10,43 dan p < 0,001.
  • Besarnya pengaruh pembelajaran juga tergolong sangat kuat dengan Cohen's d = 2,01, jauh di atas batas yang umumnya dikategorikan sebagai efek besar.

Perubahan juga terlihat pada distribusi kemampuan siswa. Sebelum pembelajaran, hampir setengah siswa masih berada pada kategori "cukup", sementara tidak ada satu pun yang mencapai kategori "sangat baik". Setelah mengikuti pembelajaran, jumlah siswa dengan kemampuan baik dan sangat baik meningkat menjadi lebih dari 70 persen, sedangkan kategori kemampuan rendah menurun secara drastis.

Analisis yang lebih rinci menunjukkan bahwa peningkatan terbesar terjadi pada penguasaan kosakata lokal, yang meningkat lebih dari 103 persen dibandingkan nilai awal. Kemampuan memahami isi cerita juga mengalami peningkatan sangat tinggi, sedangkan aspek penggunaan bahasa masih berkembang meski peningkatannya tidak sebesar indikator lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat tidak hanya membantu siswa memahami alur cerita, tetapi juga memperkaya kosakata yang berasal dari lingkungan budaya mereka sendiri.

Sementara itu, pada penerapan kerangka 5W1H, unsur "Why" (mengapa) memperoleh skor tertinggi. Hal tersebut menunjukkan siswa semakin mampu memahami hubungan sebab-akibat dalam sebuah cerita, bukan sekadar mengingat urutan peristiwa. Kemampuan berpikir seperti ini merupakan bagian penting dari keterampilan literasi tingkat tinggi yang diperlukan dalam proses pembelajaran.

Menurut Nurnaningsih dan tim peneliti dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, keberhasilan pendekatan ini berasal dari perpaduan antara konteks budaya yang dekat dengan kehidupan siswa dan kerangka berpikir yang membantu mereka mengorganisasi informasi secara sistematis. Dengan demikian, siswa tidak lagi hanya menghafal cerita, melainkan benar-benar memahami isi bacaan sebelum menyampaikannya kembali menggunakan bahasa mereka sendiri.

Temuan tersebut memberikan implikasi yang luas bagi dunia pendidikan. Guru sekolah dasar dapat memanfaatkan cerita rakyat daerah sebagai media pembelajaran literasi yang lebih menarik sekaligus melestarikan budaya lokal. Di sisi lain, penggunaan kerangka 5W1H dapat diterapkan pada berbagai materi membaca untuk membantu siswa berpikir lebih kritis, menyusun informasi secara runtut, serta meningkatkan kemampuan komunikasi lisan.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan satu sekolah dengan jumlah peserta yang relatif sedikit. Oleh sebab itu, penelitian lanjutan dengan jumlah sekolah yang lebih banyak dan desain eksperimen yang lebih luas diperlukan agar hasilnya dapat digeneralisasikan ke berbagai jenjang pendidikan.

Profil Penulis

Nurnaningsih merupakan akademisi di Universitas Veteran Bangun Nusantara  Sukoharjo yang menekuni bidang pendidikan bahasa Indonesia, literasi sekolah dasar, storytelling, dan pembelajaran berbasis kearifan lokal.

Veronika Unun Pratiwi adalah dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo dengan fokus kajian pada pendidikan dasar, pembelajaran bahasa, dan pengembangan literasi.

Arin Arianti merupakan akademisi Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo yang memiliki minat penelitian pada inovasi pembelajaran, pendidikan dasar, serta penguatan literasi berbasis budaya lokal.

Sumber Penelitian

Nurnaningsih, Veronika Unun Pratiwi, & Arin Ariant. "Improving Retelling Abilities Through the Integration of Local Storytelling and The 5W1H Framework in Elementary School Students." International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 3, 2026, hlm. 233–250. DOI: 10.59890/ijaer.v4i3.9

Posting Komentar

0 Komentar