Kabar gembira datang bagi para petani hortikultura di Indonesia yang tengah menghadapi tantangan penurunan produktivitas tanaman pangan
Urgensi Kesuburan Tanah dan Tantangan Jagung Manis
Jagung manis merupakan salah satu komoditas sayuran yang paling populer dan digemari oleh masyarakat Indonesia karena rasanya yang lezat dan kandungan energinya yang tinggi
Untuk memulihkan serta mempertahankan stabilitas nutrisi pada lahan pertanian, para peneliti mengombinasikan dua jenis pupuk berbeda karakter, yaitu pupuk organik berupa bokashi dan pupuk anorganik NPK
Metodologi Penelitian yang Sederhana dan Terukur
Eksperimen lapangan ini diterapkan pada jenis tanah lempung berpasir menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang menguji dua faktor utama
- Faktor Pertama (Dosis Pupuk Bokashi): Diuji dalam tiga tingkat volume, yaitu 10 ton per hektar, 15 ton per hektar, dan 20 ton per hektar
. - Faktor Kedua (Dosis Pupuk NPK): Diuji dalam tiga tingkatan volume, yaitu 200 kg per hektar, 300 kg per hektar, dan 400 kg per hektar
.
Dari kedua variabel di atas, dihasilkan 9 kombinasi perlakuan berbeda untuk melihat interaksi terbaik terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, hingga bobot buah jagung saat masa panen tiba pada usia sekitar 70 hari setelah penanaman
Temuan Utama: Formula Terbaik untuk Batang Kokoh dan Buah Manis
Berdasarkan analisis data statistik yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Islam Kadiri, interaksi antara pupuk bokashi dan NPK memberikan dampak yang bervariasi pada setiap fase pertumbuhan jagung manis
- Pertumbuhan Vegetatif Maksimal (Kombinasi B2N2): Perpaduan antara pupuk bokashi dengan dosis 15 ton per hektar dan pupuk NPK dengan dosis 300 kg per hektar terbukti secara nyata menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman terbaik (mencapai rata-rata 22,72 cm pada usia awal) serta diameter batang paling kokoh berukuran 0,97 cm
. - Bobot Buah dan Kualitas Generatif (Dosis NPK 300 kg/ha): Khusus untuk fase pengisian buah, hasil panen jagung manis secara dominan dipengaruhi oleh faktor tunggal pupuk NPK
. Penggunaan NPK dengan dosis optimal 300 kg per hektar sukses memproduksi tongkol jagung paling berat, baik saat ditimbang bersama kelobotnya (mencapai rata-rata 399,6 gram) maupun tanpa kelobot (mencapai rata-rata 297,78 gram) . - Tingkat Kemanisan Tertinggi: Tak hanya unggul dari segi bobot fisik, pemberian pupuk NPK sebesar 300 kg per hektar juga menghasilkan kadar gula atau tingkat kemanisan jagung paling tinggi, yakni mencapai 10,67 Brix saat diuji menggunakan alat refractometer
.
Keberhasilan peningkatan kualitas buah dan tingkat kemanisan ini didorong oleh peran optimal unsur kalium dalam tanaman yang mempercepat proses fotosintesis dan menyalurkan cadangan karbohidrat serta gula secara sempurna langsung menuju tongkol jagung
Implikasi Luas bagi Sektor Pertanian dan Petani Lokal
Penelitian ini membawa dampak praktis yang besar bagi dunia usaha pertanian dan perumusan kebijakan budidaya hortikultura di tingkat daerah
Profil Peneliti
- Nunuk Helilusiatiningsih merupakan dosen dan peneliti senior di Universitas Islam Kadiri yang fokus pada pengembangan ilmu pertanian, kesuburan tanah, dan optimalisasi komoditas tanaman pangan di Indonesia
. - Ahmad Sholeh Habibi Ibnu Rosyid adalah akademisi dari Universitas Islam Kadiri yang aktif meneliti sistem pemupukan dan rekayasa agronomi untuk budidaya hortikultura
. - Eva Febriana merupakan peneliti bidang agroteknologi di Universitas Islam Kadiri dengan keahlian khusus pada analisis respon morfologi tanaman terhadap nutrisi organik dan anorganik
.
Sumber Informasi Ilmiah
- Judul Artikel Jurnal: Response of Sweet Corn (Zea mays saccharata Sturt) to the Addition of Bokashi and NPK Fertilizers
- Nama Penulis: Nunuk Helilusiatiningsih, Ahmad Sholeh Habibi Ibnu Rosyid, Eva Febriana
- Nama Jurnal Publikasi: Multitech Journal of Science and Technology (MJST), Vol. 3, No. 6, Tahun 2026: Halaman 713-722
- Tautan DOI Resmi:
https://doi.org/10.59890/mjst.v3i6.265 URL Resmi :https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/mjst/index
0 Komentar