Anomali Hujan di Musim Tanam Padi Indramayu Tingkatkan Risiko Gagal Panen

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jayapura - Perubahan pola hujan di Kabupaten Indramayu ternyata tidak lagi mengikuti pola musim yang selama ini menjadi acuan petani. Penelitian yang dilakukan Marthin Abednego Gultom dan Rafael Buwana dari Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih, bersama Chrisostommi Wirayudha Tuhumena dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, mengungkap bahwa kekeringan ekstrem justru terjadi pada puncak musim hujan selama periode 2014–2024. Temuan ini menjadi peringatan penting karena berpotensi mengganggu musim tanam padi utama di salah satu lumbung pangan nasional.

Kabupaten Indramayu selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Sistem pertaniannya sangat bergantung pada ketersediaan air hujan, terutama saat musim tanam rendeng yang biasanya berlangsung antara Desember hingga Maret. Namun, perubahan iklim dan pengaruh fenomena El Niño menyebabkan distribusi curah hujan menjadi semakin tidak menentu.

Selama ini, petani umumnya menganggap musim hujan sebagai periode yang aman untuk memulai penanaman padi. Penelitian ini menunjukkan kenyataan yang berbeda. Walaupun curah hujan masih terlihat cukup tinggi, jumlahnya ternyata jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata historis sehingga secara statistik tetap dikategorikan sebagai kondisi kekeringan meteorologis. Kondisi seperti ini sering tidak terdeteksi jika hanya melihat besarnya curah hujan tanpa membandingkannya dengan pola iklim jangka panjang.

Untuk mengidentifikasi fenomena tersebut, para peneliti memanfaatkan data satelit Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station (CHIRPS) yang merekam curah hujan bulanan dengan resolusi spasial sekitar lima kilometer. Data dikumpulkan sepanjang Januari 2014 hingga Desember 2024 dan dianalisis menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI-1), yaitu indeks yang mengukur penyimpangan curah hujan terhadap kondisi normal setiap bulan.

Metode ini memungkinkan peneliti mendeteksi kekeringan tersembunyi yang sering luput dari pengamatan konvensional. Berbeda dengan pengamatan berdasarkan curah hujan absolut, SPI mampu menunjukkan apakah suatu bulan mengalami defisit hujan dibandingkan pola historisnya, meskipun secara kasat mata masih tampak sebagai musim hujan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian kekeringan paling ekstrem justru terjadi pada Desember 2023, dengan nilai SPI -2,48, yang masuk kategori Extremely Dry. Padahal, bulan tersebut masih mencatat curah hujan sekitar 110,97 milimeter. Secara statistik, jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata hujan Desember selama bertahun-tahun sehingga tetap dikategorikan sebagai kekeringan ekstrem.

Temuan mengejutkan lainnya terjadi pada Februari 2024. Walaupun curah hujan mencapai 222,85 milimeter, analisis SPI menghasilkan nilai -1,81, yang termasuk kategori Severely Dry. Artinya, hujan yang turun belum cukup memenuhi kebutuhan air tanaman padi pada fase pertumbuhan yang sangat penting.

Penelitian juga mencatat lima periode kekeringan paling parah selama sebelas tahun pengamatan, yaitu:

  • Desember 2023: SPI -2,48 (Extremely Dry)
  • April 2021: SPI -2,19 (Extremely Dry)
  • Juni 2015: SPI -2,10 (Extremely Dry)
  • Februari 2024: SPI -1,81 (Severely Dry)
  • April 2018: SPI -1,78 (Severely Dry)

Menariknya, empat dari lima kejadian tersebut berlangsung ketika curah hujan masih berada di atas 100 milimeter. Fakta ini menunjukkan bahwa besarnya curah hujan saja tidak cukup menjadi indikator ketersediaan air bagi pertanian.

Menurut para penulis, kondisi tersebut sangat berbahaya bagi budidaya padi karena terjadi tepat pada fase awal musim tanam rendeng. Pada periode ini, petani membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mengolah lahan, membuat persemaian, serta mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. Ketika hujan lebih sedikit dari kondisi normal, jadwal tanam menjadi mundur, kebutuhan irigasi meningkat, biaya produksi membengkak, bahkan risiko gagal panen ikut bertambah.

Penelitian juga menghubungkan fenomena tersebut dengan kejadian El Niño yang berlangsung pada akhir 2023 hingga awal 2024. Kekurangan air memaksa sebagian petani menggunakan pompa untuk mengambil air dari saluran irigasi maupun sungai sehingga biaya operasional meningkat secara signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produktivitas pertanian, tetapi juga terhadap kondisi ekonomi petani.

Selain musim tanam pertama, penelitian menemukan bahwa masa transisi menuju musim tanam kedua juga semakin rentan terhadap kekeringan. Kekurangan air pada bulan April dapat mengganggu pertumbuhan tanaman yang baru ditanam sehingga keberhasilan panen berikutnya semakin bergantung pada pengelolaan waduk dan jaringan irigasi.

Berdasarkan hasil tersebut, para peneliti menilai pendekatan kalender tanam yang bersifat tetap sudah tidak lagi memadai menghadapi perubahan iklim saat ini. Mereka mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan di sektor pertanian untuk menerapkan kalender tanam dinamis yang disesuaikan dengan prediksi iklim berbasis probabilitas.

Selain itu, pengelolaan bendungan dan jaringan irigasi juga perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kekeringan pada musim hujan, bukan hanya menyiapkan cadangan air saat musim kemarau. Penelitian selanjutnya disarankan mengombinasikan analisis SPI dengan citra vegetasi satelit seperti Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) agar dampak kekeringan terhadap kondisi lahan pertanian dapat dipetakan secara lebih akurat.

Marthin Abednego Gultom dan tim menyimpulkan bahwa perubahan karakteristik kekeringan akibat perubahan iklim menuntut strategi adaptasi baru di sektor pertanian. Pemanfaatan data satelit dan analisis probabilitas iklim dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih tepat untuk menjaga ketahanan pangan nasional, terutama di daerah sentra produksi beras seperti Indramayu.

Profil Penulis

Marthin Abednego Gultom merupakan peneliti dari Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Cenderawasih dengan fokus kajian pada geologi lingkungan, analisis iklim, dan pemanfaatan data spasial.

Rafael Buwana adalah dosen dan peneliti di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Cenderawasih, yang meneliti bidang geologi, lingkungan, serta analisis data geospasial.

Chrisostommi Wirayudha Tuhumena merupakan akademisi dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, dengan minat penelitian pada manajemen dan pembangunan ekonomi.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Characteristics of Rainfall Deficit Anomalies During the Main Rice Planting Season in Indramayu Regency Based on the Standardized Precipitation Index (SPI) 2014–2024

Penulis: Marthin Abednego Gultom, Rafael Buwana, Chrisostommi Wirayudha Tuhumena

Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)

Volume: 5, Nomor 2

Tahun: 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/ijaea.v5i2.16780

Posting Komentar

0 Komentar