Alat Tanam Tugal Tingkatkan Pendapatan Petani Kacang Tanah di Pangkep

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sulawesi Selatan - Penggunaan alat tanam tugal terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani kacang tanah di Desa Lanne, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Temuan tersebut dipublikasikan oleh Azzahratul Faisya, Reni Fatmasari Syafruddin, Hasriani, Muh. Arifin Fattah, dan Isnam Junais dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar dalam penelitian yang terbit pada Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA) Volume 5 Nomor 2 Tahun 2026. Hasil penelitian ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa penerapan teknologi pertanian sederhana dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus menambah keuntungan petani.

Kacang tanah merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di lahan kering maupun tadah hujan. Di Kabupaten Pangkep, komoditas ini menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga petani. Namun, hingga kini sebagian petani masih menggunakan metode tanam tradisional yang membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dan waktu tanam yang lebih lama dibandingkan penggunaan alat tanam modern.

Melihat kondisi tersebut, tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Makassar membandingkan secara langsung dua metode penanaman kacang tanah, yaitu metode tanam tradisional dan metode menggunakan alat tanam tugal. Fokus penelitian tidak hanya melihat hasil panen, tetapi juga menghitung biaya produksi, penerimaan, hingga pendapatan yang diperoleh petani selama satu musim tanam.

Penelitian dilakukan di Desa Lanne dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei. Sebanyak 40 petani dipilih sebagai responden melalui teknik purposive sampling. Responden terdiri atas 20 petani yang menggunakan metode tanam tradisional dan 20 petani yang menggunakan alat tanam tugal. Data yang dikumpulkan meliputi biaya tetap, biaya variabel, hasil produksi, harga jual, penerimaan, dan pendapatan petani, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik independent sample t-test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat tanam tugal memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar dibandingkan metode tradisional. Walaupun biaya tetap pada metode tugal sedikit lebih tinggi karena adanya investasi alat, biaya produksi secara keseluruhan justru lebih rendah akibat berkurangnya kebutuhan tenaga kerja.

Beberapa temuan utama penelitian antara lain:

  • Pendapatan metode tradisional: Rp24.119.084 per musim tanam.
  • Pendapatan metode tugal: Rp25.456.051 per musim tanam.
  • Biaya produksi tradisional: Rp7.505.916 per musim tanam.
  • Biaya produksi metode tugal: Rp6.293.949 per musim tanam.
  • Penerimaan metode tradisional: Rp31.625.000.
  • Penerimaan metode tugal: Rp31.750.000.

Perbedaan tersebut terutama dipengaruhi oleh efisiensi penggunaan tenaga kerja. Pada metode tanam tradisional, proses penanaman masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan lebih banyak pekerja. Sebaliknya, alat tanam tugal memungkinkan benih ditanam dengan lebih cepat, lebih seragam, serta mengurangi kebutuhan tenaga kerja tanpa menurunkan hasil produksi.

Penelitian juga menemukan bahwa produktivitas lahan dengan metode tugal sedikit lebih tinggi dibandingkan metode tradisional. Produksi rata-rata mencapai 1.270 kilogram per hektare, sedangkan metode tradisional menghasilkan 1.265 kilogram per hektare dengan harga jual yang sama, yaitu Rp25.000 per kilogram. Walaupun selisih produksi relatif kecil, efisiensi biaya menjadikan keuntungan petani pengguna alat tugal lebih besar.

Untuk memastikan bahwa perbedaan tersebut bukan terjadi secara kebetulan, peneliti melakukan uji statistik menggunakan independent sample t-test. Hasil analisis menunjukkan nilai t-hitung sebesar 26,678, jauh lebih besar dibandingkan t-tabel 1,669 pada tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai signifikansi juga berada di bawah 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pendapatan yang signifikan antara petani yang menggunakan metode tradisional dan petani yang menggunakan alat tanam tugal.

Menurut tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Makassar, peningkatan pendapatan bukan hanya disebabkan oleh hasil panen yang sedikit lebih tinggi, tetapi juga karena efisiensi biaya produksi, khususnya pada komponen tenaga kerja. Dengan kata lain, teknologi sederhana seperti alat tanam tugal mampu meningkatkan keuntungan tanpa harus meningkatkan biaya operasional secara keseluruhan.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan sektor pertanian Indonesia, terutama di daerah yang masih mengandalkan sistem tanam manual. Penggunaan alat tanam tugal dapat menjadi solusi praktis untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani. Selain memberikan manfaat ekonomi bagi petani, penerapan teknologi sederhana juga berpotensi mempercepat proses tanam, meningkatkan keseragaman pertumbuhan tanaman, dan mendukung produktivitas pertanian yang lebih baik.

Bagi pemerintah daerah dan instansi pertanian, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun program penyuluhan, pelatihan, maupun bantuan alat pertanian kepada kelompok tani. Dukungan terhadap adopsi teknologi tepat guna di tingkat petani diperkirakan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Profil Singkat Penulis

Azzahratul Faisya merupakan penulis korespondensi dari Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar dengan bidang kajian ekonomi pertanian dan usahatani. Penelitian ini disusun bersama Reni Fatmasari Syafruddin, Hasriani, Muh. Arifin Fattah, dan Isnam Junais, yang juga berasal dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar dan memiliki fokus penelitian pada ekonomi pertanian, pengembangan usahatani, serta teknologi budidaya tanaman.

Sumber Penelitian

Judul: Comparative Analysis of Peanut Farming Income Using Traditional Methods and Tugal in Tondong Tallasa Subdistrict, Pangkep Regency

Penulis: Azzahratul Faisya, Reni Fatmasari Syafruddin, Hasriani, Muh. Arifin Fattah, Isnam Junais

Jurnal: Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA)

Volume: 5, Nomor 2

Tahun: 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/ijaea.v5i2.16234

Posting Komentar

0 Komentar