Waspada Penyusutan Otot Lansia: Aktivitas Fisik dan Persentase Lemak Tubuh Kunci Utama Cegah Sarkopenia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Bangka Tengah - Memasuki usia senja, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan fisiologis yang tidak dapat dihindari. Salah satu ancaman nyata yang sering luput dari perhatian adalah sarkopenia, sebuah sindrom geriatri yang ditandai dengan penurunan massa dan kekuatan otot secara progresif. Menanggapi fenomena ini, sebuah penelitian terbaru dilakukan oleh Tariqul Ardi dan Adzkia Risky Al Insyiraah dari Universitas Yarsi pada akhir tahun 2024 di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah. Hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menegaskan bahwa tingkat aktivitas fisik yang rendah dan tingginya persentase lemak tubuh memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap indikator awal (probable) sarkopenia pada kelompok lanjut usia (lansia).

Sarkopenia bukan sekadar urusan penuaan biasa, melainkan kondisi kritis yang berdampak langsung pada kualitas hidup. Ketika seseorang kehilangan massa ototnya, risiko jatuh, cedera patah tulang, keterbatasan mobilitas, hingga hilangnya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari akan meningkat tajam. Secara global, populasi lansia berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan melonjak dari 1,4 miliar pada tahun 2020 menjadi 2,1 miliar pada tahun 2050. Di Indonesia, transformasi demografis ini sudah mulai terasa, di mana delapan provinsi telah mencatatkan proporsi lansia melebihi 10 persen dari total penduduk. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemahaman mengenai faktor risiko seperti komposisi lemak dan aktivitas fisik menjadi krusial untuk mencegah beban ekonomi dan kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Metodologi Sederhana dan Pendekatan Populasi

Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan metode consecutive sampling yang melibatkan 102 partisipan berusia di atas 50 tahun di wilayah kerja Puskesmas Sungai Selan. Para peneliti mengeksklusi lansia yang mengidap penyakit kronis berat seperti stroke, PPOK, gagal jantung, gagal ginjal, dan gangguan muskuloskeletal akut untuk memastikan akurasi data.

Pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui wawancara dan pengukuran fisik menggunakan tiga instrumen standar internasional:

  1. Kuesioner SARC-F: Digunakan untuk menyaring dan mendeteksi risiko penyusutan fungsi otot secara dini melalui lima komponen evaluasi (kekuatan, bantuan berjalan, bangkit dari kursi, memanjat tangga, dan frekuensi jatuh).
  2. IPAQ Short Form (International Physical Activity Questionnaire): Digunakan untuk mencatat dan mengukur tingkat aktivitas fisik harian responden dalam satuan MET-menit/minggu.
  3. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA): Sebuah alat analisis komposisi tubuh modern yang aman dan andal untuk mengukur persentase lemak tubuh serta persentase massa otot secara riil melalui hantaran arus listrik lemah.
  4. Hand Dynamometer: Alat ukur mekanis untuk menilai kekuatan genggaman tangan secara cepat sebagai indikator kekuatan otot skeletal secara keseluruhan.

Seluruh data yang terkumpul kemudian diolah secara kuantitatif menggunakan uji korelasi bivariat pada program SPSS untuk melihat hubungan antarvariabel.

Temuan Utama: Efek Domino Lemak dan Manfaat Aktivitas Fisik

Analisis demografis menunjukkan mayoritas responden adalah perempuan (59,80%) dengan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 50–60 tahun (62,74%). Berdasarkan pengukuran lapangan, para peneliti menemukan beberapa fakta penting:

  • Tingginya Aktivitas Fisik Pola Tradisional: Sebanyak 75,49% lansia di Sungai Selan memiliki tingkat aktivitas fisik yang tergolong berat dengan rata-rata 7138,3 MET-menit/minggu. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang mata pencaharian mayoritas masyarakat setempat yang bekerja sebagai petani dan buruh pabrik kelapa sawit.
  • Korelasi Negatif Lemak dan Otot: Uki statistik menunjukkan adanya hubungan negatif yang sangat signifikan antara persentase lemak tubuh dengan persentase massa otot (p < 0,001). Artinya, semakin tinggi kadar lemak yang menumpuk di dalam tubuh lansia, maka persentase massa otot mereka akan semakin menurun drastis. Penumpukan lemak ini kerap menyusup ke dalam jaringan otot skeletal (fatty infiltration) yang dipicu oleh faktor penuaan dan resistensi insulin.
  • Kekuatan Genggaman dan Skor SARC-F: Terdapat hubungan yang signifikan dengan arah korelasi negatif antara kekuatan otot genggaman tangan dengan skor SARC-F (p < 0,001). Lansia yang memiliki kekuatan genggaman normal terbukti memiliki skor risiko sarkopenia yang jauh lebih rendah, menandakan fungsi fisik yang lebih prima.
  • Deteksi Probable Sarkopenia: Berdasarkan indikator kekuatan otot saja, terdapat 80,39% responden yang menunjukkan gejala awal (probable) sarkopenia. Sementara itu melalui instrumen penapisan SARC-F, tercatat sebanyak 8,82% lansia yang terkonfirmasi masuk dalam kategori probable sarkopenia.

Meskipun aktivitas fisik berat secara umum tinggi di wilayah ini, peneliti mencatat bahwa aktivitas fisik yang bersifat menetap (sedentary) atau kurangnya latihan kekuatan spesifik (seperti latihan beban) tetap menyumbang risiko penurunan kualitas otot.

Implikasi Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Hasil studi ini membawa implikasi besar bagi sektor kesehatan masyarakat dan penataan kebijakan preventif di Indonesia. Hubungan nyata antara akumulasi lemak tubuh dan penurunan fungsi otot menegaskan bahwa intervensi pemeliharaan kesehatan lansia tidak boleh hanya berfokus pada kecukupan nutrisi makro, melainkan harus menyasar pada manajemen komposisi tubuh yang seimbang.

Bagi dunia medis dan layanan kesehatan primer seperti Puskesmas, studi ini membuktikan pentingnya pengadaan alat deteksi dini yang aplikatif. Para peneliti menyarankan agar parameter dari Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS 2019) dapat diadaptasi dan diimplementasikan secara luas di Indonesia guna menghindari subjektivitas penyaringan. Di sisi lain, bagi masyarakat umum dan dunia usaha (khususnya industri kebugaran dan perawatan lansia), program latihan fisik harian harus mulai diarahkan pada latihan ketahanan dan kekuatan otot (resistance training), bukan sekadar aktivitas fisik rutin, guna merangsang fungsi anabolik otot dan menekan akumulasi lemak jahat.

Profil Penulis

Tariqul Ardi, S.Ked. – Peneliti utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Memiliki fokus keahlian di bidang analisis kesehatan geriatri, kedokteran komunitas, dan manajemen penapisan penyakit degeneratif pada lansia.

Adzkia Risky Al Insyiraah – Peneliti pendamping dari Universitas Yarsi. Berpengalaman dalam pengolahan data epidemiologi, analisis komposisi tubuh berbasis bioimpedansi, serta kajian aktivitas fisik pada kelompok populasi rentan.

Sumber Riset Utama

Judul Artikel Jurnal: The Relationship between Physical Activity and Fat Percentage Towards Probable Indicators of Sarcopenia in the Elderly in the Working Area of the Sungai Selan District Public Health Center

Nama Jurnal: Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 5, No. 1, Halaman 297-308)
DOI Resmi: https://doi.org/10.55927/ajha.v5i1.16079

Posting Komentar

0 Komentar