Vertigo Berulang Setelah Cedera Kepala Ringan pada Ibu Rumah Tangga: Dampak Klinis, Psikososial, dan Produktivitas Harian

Illustration by Ai


FORMOSA NEWS- YOGYAKARTA

Vertigo Bisa Muncul Berbulan-Bulan Setelah Cedera Kepala Ringan, Kasus di Yogyakarta Ungkap Risikonya

Cedera kepala ringan yang sering dianggap sepele ternyata dapat memicu gangguan kesehatan jangka panjang berupa vertigo berulang yang muncul beberapa bulan setelah kejadian. Temuan ini diungkap dalam laporan kasus yang disusun oleh Mu’afi Sinergi, Fanny Deviasih Krisnawati Sidanu, Aura Tussofi Mareta Cahyatika dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Tri Wahyuliati, Wahyu Wihartono, dan Luthfan Sumaryono dari RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 tersebut menunjukkan bahwa vertigo pascatrauma tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kualitas hidup, kesehatan mental, dan produktivitas sehari-hari pasien.

Temuan ini menjadi perhatian penting karena cedera kepala ringan atau mild traumatic brain injury (mTBI) merupakan salah satu kasus trauma yang paling sering terjadi. Meski sebagian besar pasien dapat pulih tanpa komplikasi serius, sebagian lainnya mengalami gejala berkepanjangan yang dikenal sebagai post-concussion syndrome atau sindrom pascagegar otak. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah pusing dan vertigo yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah cedera.

Menurut laporan tersebut, secara global cedera otak traumatik terjadi sekitar 295 kasus per 100.000 penduduk setiap tahun. Di Indonesia, cedera kepala dilaporkan mencapai sekitar 11,9 persen dari seluruh kasus trauma, dengan mayoritas tergolong cedera ringan. Namun dampaknya tidak selalu ringan karena dapat mengganggu fungsi neurologis, kualitas hidup, dan produktivitas seseorang.

Kasus Vertigo yang Muncul Dua Bulan Setelah Cedera

Penelitian ini mengangkat kasus seorang perempuan berusia 63 tahun yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan berobat ke Klinik Saraf RS PKU Muhammadiyah Gamping pada Mei 2026. Pasien mengeluhkan pusing berputar yang muncul mendadak selama dua bulan terakhir. Keluhan terjadi setiap dua hingga tiga hari sekali dengan durasi sekitar dua menit setiap serangan. Gejala dapat muncul saat beraktivitas maupun ketika sedang beristirahat.

Empat bulan sebelumnya, pasien mengalami kecelakaan di kamar mandi yang menyebabkan benturan pada kepala dan kehilangan kesadaran selama kurang dari lima menit. Pemeriksaan CT scan saat itu menunjukkan hasil normal sehingga tidak ditemukan masalah serius. Namun dua bulan kemudian, gejala vertigo mulai muncul secara berulang.

Tim peneliti melakukan evaluasi melalui wawancara medis, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan keseimbangan, serta tes vestibular yang digunakan untuk menilai fungsi sistem keseimbangan tubuh. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya gangguan keseimbangan meskipun tidak ditemukan kelainan saraf yang berat. Berdasarkan temuan klinis, pasien didiagnosis mengalami sindrom pascagegar otak dengan dugaan Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) atau vertigo posisi akibat trauma kepala.

Gangguan yang Sering Terlambat Dikenali

Peneliti menjelaskan bahwa vertigo pascatrauma sering kali tidak terdiagnosis sejak awal karena gejalanya beragam dan tidak selalu muncul segera setelah cedera. Pada banyak kasus, dokter lebih berfokus memastikan tidak ada perdarahan atau kerusakan otak akut sehingga gangguan sistem keseimbangan dapat terlewatkan.

Dalam kasus ini, gejala baru muncul sekitar dua bulan setelah trauma. Kondisi tersebut tergolong tidak biasa karena sebagian besar kasus vertigo akibat benturan kepala biasanya muncul dalam beberapa hari hingga dua minggu pertama. Penundaan munculnya gejala dapat menyebabkan pasien maupun tenaga kesehatan tidak mengaitkan vertigo dengan cedera kepala yang pernah dialami sebelumnya.

Para peneliti menjelaskan bahwa benturan kepala dapat menyebabkan partikel kecil pada organ keseimbangan telinga bagian dalam terlepas dan berpindah ke lokasi yang tidak semestinya. Perubahan tersebut mengganggu sistem keseimbangan tubuh dan memicu sensasi berputar ketika posisi kepala berubah. Selain itu, cedera kepala ringan juga dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang berperan dalam mengolah informasi keseimbangan.

Dampak Tidak Hanya Fisik

Salah satu temuan paling menarik dalam laporan kasus ini adalah dampak vertigo terhadap kehidupan sehari-hari pasien.

Akibat takut mengalami serangan vertigo berulang, pasien mulai mengurangi berbagai aktivitas rumah tangga seperti:

  • Menyapu dan mengepel lantai
  • Mencuci pakaian
  • Memasak dalam waktu lama
  • Membungkuk atau mengubah posisi kepala secara cepat
  • Beraktivitas di luar rumah tanpa pendamping

Pasien juga lebih sering meminta bantuan anggota keluarga untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang sebelumnya dapat dilakukan sendiri. Secara psikologis, ia mengaku merasa cemas dan takut terjatuh kembali ketika berada sendirian di rumah.

Temuan ini memperlihatkan bahwa vertigo pascatrauma tidak hanya menimbulkan rasa pusing, tetapi juga memengaruhi rasa aman, kemandirian, dan produktivitas seseorang. Pada kelompok lanjut usia, dampaknya bahkan dapat lebih besar karena gangguan keseimbangan meningkatkan risiko jatuh dan cedera ulang.

Terapi Memberikan Perbaikan, Tetapi Pemulihan Belum Sepenuhnya Tuntas

Untuk menangani kondisi pasien, tim medis memberikan kombinasi terapi berupa tiga kali manuver reposisi kanal atau Epley Maneuver, pemberian obat betahistine, serta edukasi mengenai modifikasi aktivitas sehari-hari. Terapi ini bertujuan mengembalikan fungsi sistem keseimbangan dan mengurangi frekuensi serangan vertigo.

Hasil evaluasi satu bulan kemudian menunjukkan perkembangan positif. Keluhan vertigo dilaporkan membaik sekitar 60 persen. Namun pasien masih merasa khawatir mengalami kekambuhan sehingga tetap membatasi aktivitas fisiknya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan vertigo tidak hanya membutuhkan terapi medis, tetapi juga dukungan psikologis dan rehabilitasi yang berkelanjutan.

Menurut Mu’afi Sinergi dan rekan-rekannya, kasus ini menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap gangguan keseimbangan setelah cedera kepala ringan. Pasien dengan keluhan pusing atau gangguan keseimbangan yang menetap perlu menjalani evaluasi vestibular secara lebih menyeluruh agar diagnosis tidak terlambat.

Implikasi bagi Pelayanan Kesehatan

Penelitian ini memberikan pesan penting bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. Cedera kepala ringan tidak selalu berakhir setelah hasil CT scan dinyatakan normal. Gejala dapat muncul berbulan-bulan kemudian dan memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Para peneliti merekomendasikan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter saraf, rehabilitasi medik, fisioterapi vestibular, serta dukungan psikososial untuk membantu pasien kembali beraktivitas secara optimal. Deteksi dini dan edukasi pasien dinilai menjadi kunci untuk mencegah keterlambatan diagnosis serta mengurangi risiko gangguan jangka panjang.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Recurrent Vertigo Following a Mild Head Injury in a Housewife: Clinical, Psychosocial, and Daily Productivity Impacts
Penulis: Mu’afi Sinergi, Fanny Deviasih Krisnawati Sidanu, Aura Tussofi Mareta Cahyatika, Tri Wahyuliati, Wahyu Wihartono, dan Luthfan Sumaryono
Afiliasi: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping – Teaching Hospital
Volume dan Nomor: Vol. 6 No. 5
Tahun Publikasi: 2026
Halaman: 593–601

Posting Komentar

0 Komentar