Krisis Lingkungan di Indonesia dalam Perspektif Islam: Studi Tentang Kerusakan Ekologis dan Tanggung Jawab Khalifah

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Palembang - Ekoteologi Islam Tawarkan Solusi Radikal Atasi Krisis Lingkungan dan Kehancuran Ekologis di Indonesia. Penelitian ini diungkapkan dalam riset Budi  Muhamama Yani, Aldo, Anisatul Mardiah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 5 Tahun 2026 menyoroti bahwa krisis lingkungan yang melanda Indonesia saat ini berakar dari krisis moral dan spiritual manusia, bukan sekadar kegagalan teknis atau ekonomi.

Penelitian ini diungkapkan dalam riset Budi  Muhamama Yani, Aldo, Anisatul Mardiah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menyoroti bahwa 
menawarkan pendekatan baru berupa ekoteologi Islam sebagai landasan etis dan solusi aplikatif untuk menghentikan kehancuran ekosistem di Indonesia.

Latar Belakang: Ketika Alam Hanya Dianggap Komoditas Ekonomi
Sebagai negara kepulauan, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari hutan hujan tropis yang luas hingga keanekaragaman hayati yang melimpah. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, orientasi pembangunan yang terlalu menekankan pertumbuhan ekonomi, ekspansi industri, dan eksploitasi besar-besaran telah memicu kerusakan lingkungan secara sistematisParadigma materialistik dan antroposentris ini membuat manusia memandang alam hanya sebagai objek pemenuhan kebutuhan ekonomi jangka pendek. Akibatnya, dimensi etika dan spiritual dalam menjaga alam dikesampingkan, memicu rentetan bencana ekologis seperti banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim yang kini menjadi realitas sehari-hari di berbagai wilayah Indonesia.

Metodologi: Menganalisis Data Riil Melalui Lensa Teologi
Untuk memetakan masalah ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Sumber data primer diambil langsung dari Al-Qur'an dan Hadis, yang kemudian diintegrasikan dengan data sekunder berupa literatur ilmiah, jurnal, dan laporan kasus kerusakan lingkungan terkini di IndonesiaMelalui pendekatan normatif-teologis dan analitis, tim peneliti mengkaji hubungan mendasar antara aktivitas perusakan alam dengan lima konsep utama dalam teologi Islam: khalifah (pemimpin/penjaga), amanah (tanggung jawab), mizan (keseimbangan), fasad (kerusakan), dan al-intifa' (pemanfaatan bijak).

Temuan Utama: Lima Akar Spiritual di Balik Kerusakan Ekologis
Analisis para peneliti menunjukkan bahwa krisis ekologi multidimensional di Indonesia didorong oleh lima faktor spiritual dan moral yang saling berkaitan erat:
  • Krisis Spiritual Akibat Sekularisasi Kosmos: Proses modernisasi yang materialistik telah mencabut dimensi sakral dari alam. Alam tidak lagi dipandang sebagai ayat (tanda kebesaran Tuhan), melainkan sekadar benda mati yang bebas diperas habis tanpa rasa tanggung jawab.
  • Penyimpangan Fungsi Khalifah: Manusia modern salah mengartikan statusnya sebagai khalifah fil ardh (wakil Allah di bumi) sebagai legitimasi untuk menguasai dan mendominasi alam secara mutlak, padahal mandat aslinya adalah untuk merawat, memakmurkan, dan menjaga keserasian lingkungan.
  • Pengabaian Amanah Lingkungan: Manusia mengkhianati tanggung jawab eksistensial untuk melestarikan bumi. Tindakan korporasi yang membabat hutan demi sawit atau menambang tanpa melakukan reklamasi nyata merupakan bentuk pengabaian amanah yang dilakukan demi keserakahan jangka pendek.
  • Pelanggaran Prinsip Mizan (Keseimbangan Universal): Allah menciptakan alam semesta dalam tatanan kosmik yang seimbang. Aktivitas emisi berlebih, pembakaran hutan, dan pencemaran air secara langsung melanggar prinsip mizan, yang secara otomatis memicu hukum alam berupa bencana hidrometeorologi.
  • Lemahnya Internalisasi Nilai Agama: Meskipun mayoritas masyarakat memahami ajaran moral agama secara teori (kognitif), terdapat jarak yang besar dalam implementasi nyata (konatif). Sistem pendidikan yang terlalu fokus pada ritual tekstual membuat etika lingkungan Islam kehilangan relevansi emosionalnya dalam kehidupan sehari-hari.
Implikasi dan Dampak Nyata bagi Kebijakan Publik
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa regulasi hukum dan inovasi teknologi hijau saja tidak akan pernah cukup untuk mengatasi krisis lingkungan jika tidak dibarengi dengan perubahan paradigma berpikir manusia. Kebijakan lingkungan di Indonesia harus mulai mengintegrasikan pendekatan keagamaan sebagai rem moralSecara praktis, konsep ekoteologi ini dapat diimplementasikan dalam sistem pendidikan nasional berbasis nilai lingkungan, kampanye dakwah ekologis oleh para ulama, serta penyusunan amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) yang memasukkan instrumen tanggung jawab spiritual. Ketika menjaga alam diposisikan sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan, maka kepatuhan publik terhadap kelestarian lingkungan akan jauh lebih kuat dan berkelanjutan.

Profil Penulis
Budi Muhamama Yani, S.Th.I., M.Ag. adalah peneliti dan akademisi di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. Ia memiliki keahlian di bidang Ekoteologi Islam, studi Al-Qur'an dan sains, serta etika lingkungan kontemporer.
Aldo, M.Ag. adalah staf pengajar dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang berfokus pada kajian filsafat Islam, etika sosial, dan dampak krisis ekologis terhadap masyarakat.
Anisatul Mardiah, Ph.D. adalah dosen senior di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dengan spesialisasi keahlian di bidang sosiologi agama, teologi lingkungan, dan pengembangan masyarakat berkelanjutan.

Sumber Penelitian
Budi Muhamama Yani, Aldo, 
Anisatul Mardiah (2026). Krisis Lingkungan di Indonesia dalam Perspektif Islam: Studi Tentang Kerusakan Ekologis dan Tanggung Jawab Khalifah. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol. 5, No. 5 2026, Halaman 1261-1278.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i5.64
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar