Upaya Pelestarian Situs Sejarah "Kubur Tujuh" di Kao Tingkatkan Kesadaran Budaya Masyarakat

Ilustrasi by AI

Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Khairun Ternate melakukan sosialisasi pelestarian situs sejarah "Kubur Tujuh" di Desa Kao, Maluku Utara, pada tahun 2026. Situs ini merupakan peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan Perang Kao tahun 1904 melawan kolonial Belanda. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya menjaga warisan sejarah lokal di tengah ancaman modernisasi.

Latar Belakang Masalah

Meskipun situs "Kubur Tujuh" memiliki nilai sejarah dan simbolis yang tinggi bagi masyarakat setempat, pemahaman publik mengenai pelestariannya masih tergolong rendah. Minimnya pendokumentasian sejarah dan kurangnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga situs membuat keberadaan situs ini rentan terhadap degradasi. Kondisi ini diperburuk oleh arus modernisasi dan urbanisasi yang sering kali mengabaikan aspek konservasi cagar budaya.

Metodologi

Program ini menerapkan pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan edukasi dan keterlibatan komunitas. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi:

·         Penilaian awal: Identifikasi kondisi fisik situs dan tingkat kesadaran masyarakat melalui observasi serta wawancara.

·         Sosialisasi partisipatif: Penggunaan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion), dan lokakarya.

·         Pendekatan edukatif: Penyampaian materi sejarah Perang Kao 1904 yang disesuaikan dengan kearifan lokal agar lebih relevan bagi masyarakat.

·         Pemberdayaan: Pembentukan kelompok kesadaran sejarah yang melibatkan pemuda dan tokoh masyarakat untuk menjaga kelangsungan pelestarian situs.

Temuan Utama

Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan di kalangan masyarakat Desa Kao. Masyarakat kini menunjukkan sikap positif terhadap upaya pelestarian, yang tercermin dari inisiatif mandiri untuk membersihkan situs, melindungi area sekitar, serta keinginan untuk menjadikannya sebagai sumber edukasi sejarah dan potensi wisata budaya.

Implikasi dan Dampak

Pelestarian situs sejarah bukan sekadar menjaga fisik bangunan, melainkan bagian dari strategi budaya untuk memperkuat identitas nasional. Menurut Abd. Rahman dari Universitas Khairun, keterlibatan aktif masyarakat sebagai subjek pelestarian adalah kunci keberlanjutan warisan budaya. Penamaan fasilitas publik dengan nama tokoh pahlawan dari situs tersebut juga diusulkan sebagai upaya simbolis untuk memperkuat memori kolektif masyarakat. Kedepannya, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan agar situs ini tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Profil Penulis:

  •  Abd. Rahman-  Universitas Khairun
  •  Junaib Umar-  Universitas Khairun

Sumber Penelitian

Rahman, A., & Umar, J. (2026). "Community Engagement for Preserving the 'Kubur Tujuh' Site of the Kao War 1904, as One of the Historical Traces in Kao District in North Halmahera". Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), 5(5), 399-414. 

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i5.28.

URL: https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

 

 

Posting Komentar

0 Komentar