UMKM Servis Elektronik di Kulon Progo Mulai Benahi Keuangan dan Stok Barang

Ilustrasi by AI

Kulon Progo, Indonesia — Di tengah pertumbuhan usaha kecil yang terus meningkat, banyak pelaku UMKM masih menjalankan bisnis tanpa pencatatan keuangan yang tertata. Kondisi ini membuat banyak usaha sulit berkembang karena pemilik tidak memiliki gambaran jelas tentang pemasukan, pengeluaran, maupun kondisi stok barang. Situasi seperti itu ditemukan pada sebuah UMKM jasa servis elektronik di Bugel, Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta, yang menjadi objek pendampingan terbaru dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Program pendampingan ini dilakukan oleh Vicka Naila Khairunnisa dan Tutut Dewi Astuti dan dipublikasikan pada 2026 dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF). Kegiatan ini menyoroti bagaimana langkah sederhana seperti pencatatan keuangan dan pengelolaan persediaan dapat menjadi fondasi penting untuk keberlangsungan usaha kecil.

UMKM servis elektronik ini telah berdiri sejak 1994 dan bertahan lebih dari 30 tahun dengan melayani berbagai perbaikan alat elektronik rumah tangga seperti televisi, radio, amplifier, kipas angin, mixer, magicom, hingga speaker aktif. Meski memiliki pengalaman panjang dan pelanggan yang loyal, sistem administrasi bisnisnya masih sangat sederhana.

Sebelum pendampingan dilakukan, pemilik usaha hanya mencatat nomor seri atau jenis barang yang masuk untuk diperbaiki. Tidak ada pencatatan rutin mengenai berapa uang yang masuk, biaya operasional yang keluar, ataupun berapa stok sparepart yang tersedia.

Kondisi ini membuat pemilik usaha kesulitan membedakan antara modal, keuntungan, dan uang pribadi.

Dalam praktik bisnis sehari-hari, hal seperti ini cukup umum terjadi di kalangan UMKM. Banyak pelaku usaha merasa bahwa bisnis tetap bisa berjalan tanpa administrasi yang rumit. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menjadi hambatan besar dalam pengembangan usaha.

Khairunnisa dan Astuti melakukan pendampingan secara langsung pada April 2026 melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan edukasi praktik sederhana. Pendekatan yang digunakan tidak bersifat formal atau rumit, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan pemilik usaha agar lebih mudah dipahami.

Hasil observasi menunjukkan bahwa salah satu masalah terbesar adalah tidak adanya pemisahan antara uang pribadi dan uang usaha. Semua pemasukan dan pengeluaran bercampur dalam satu aliran kas.

Akibatnya, pemilik usaha sering kesulitan mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya sekadar menutup biaya operasional.

Masalah lain muncul pada sisi pengelolaan sparepart. Barang masuk dan keluar tidak tercatat secara teratur, sehingga pemilik usaha kadang tidak mengetahui stok yang tersedia. Situasi ini berisiko menyebabkan kekurangan sparepart penting saat pelanggan membutuhkan servis mendesak.

Dalam pendampingan, tim peneliti memperkenalkan sistem pencatatan sederhana berupa buku kas pemasukan, buku pengeluaran, serta daftar stok barang.

Format yang diberikan dibuat praktis agar mudah diterapkan tanpa memerlukan aplikasi digital atau kemampuan akuntansi yang rumit.

Menurut Khairunnisa dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta, kebiasaan mencatat adalah langkah awal untuk membangun kesadaran bisnis yang lebih sehat.

Setelah pendampingan berlangsung, pemilik usaha mulai memahami pentingnya mencatat transaksi harian secara rutin. Pemilik juga mulai memisahkan uang usaha dan uang pribadi agar arus kas lebih jelas.

Di sisi persediaan, pencatatan stok sparepart mulai diterapkan untuk memantau barang yang tersedia dan mengetahui kapan harus melakukan pembelian ulang.

Perubahan ini dinilai penting karena stok sparepart adalah bagian vital dalam bisnis servis elektronik. Tanpa stok yang cukup, pelayanan bisa terhambat dan pelanggan berpotensi beralih ke tempat lain.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pendampingan sederhana dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam membangun kebiasaan baru yang lebih tertib.

Meski demikian, tantangan masih ada. Salah satunya adalah keterbatasan waktu pemilik usaha yang harus tetap melayani pelanggan selama proses pendampingan berlangsung. Selain itu, karena belum terbiasa mencatat secara rutin, pemilik membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Namun dengan komunikasi yang baik dan pendekatan bertahap, proses pendampingan berjalan lancar.

Menurut Astuti, administrasi usaha yang baik bukan hanya membantu mengetahui kondisi bisnis saat ini, tetapi juga menjadi dasar pengambilan keputusan untuk masa depan.

Dalam konteks UMKM nasional, temuan ini menjadi pengingat bahwa masalah utama usaha kecil sering kali bukan pada kurangnya pelanggan, tetapi lemahnya manajemen internal.

Jika pencatatan sederhana dapat diterapkan secara konsisten, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, memperoleh akses pembiayaan, dan bertahan dalam persaingan.

Bagi pelaku usaha kecil, langkah sederhana seperti mencatat pemasukan, pengeluaran, dan stok barang ternyata bisa menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Profil Penulis
Vicka Naila Khairunnisa — Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Tutut Dewi Astuti — Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Sumber Jurnal
Companion for Simple Financial Recording and Inventory Management in Electronic Service MSME
Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) (2026)

Posting Komentar

0 Komentar