Respon Tanaman Jagung (Zea mays L.) Terhadap Aplikasi Pupuk Organik Cair Nanoteknologi

Illustration by AI


FORMOSA NEWS- Kalimantan

Pupuk Organik Cair Nanoteknologi Tingkatkan Hasil Jagung hingga 31 Persen di Kalimantan Timur

Penggunaan pupuk organik cair berbasis nanoteknologi terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman jagung di lahan tropis yang memiliki tingkat kesuburan rendah. Temuan ini dipublikasikan oleh Alvera Prihatini Dewi Nazari, Eliyani, dan David Christian Balan dari Universitas Mulawarman, berdasarkan penelitian lapangan yang dilakukan sepanjang Januari–November 2023 di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Penelitian tersebut menjadi penting karena produktivitas jagung di berbagai wilayah Indonesia masih menghadapi tantangan akibat kondisi tanah yang masam, kandungan bahan organik yang rendah, serta keterbatasan ketersediaan unsur hara. Di Kalimantan Timur, kondisi tersebut sering menjadi penghambat utama peningkatan hasil panen jagung.

Para peneliti menemukan bahwa aplikasi pupuk organik cair nanoteknologi merek Pornas mampu meningkatkan berbagai komponen pertumbuhan dan hasil tanaman jagung secara signifikan. Konsentrasi terbaik ditemukan pada dosis 1,5 mL per liter air, yang menghasilkan produktivitas hingga 5,07 ton per hektare.

Tantangan Produksi Jagung di Lahan Marginal

Jagung merupakan salah satu komoditas strategis yang digunakan sebagai bahan pangan, pakan ternak, hingga bahan baku industri. Namun, peningkatan produktivitas jagung tidak hanya bergantung pada varietas unggul, tetapi juga pada pengelolaan unsur hara yang tepat.

Banyak lahan pertanian di Kalimantan Timur memiliki tingkat keasaman tinggi dan kandungan nutrisi yang rendah. Kondisi ini menyebabkan tanaman sulit menyerap unsur hara secara optimal sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi terbatas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti mengevaluasi penggunaan pupuk organik cair berbasis nanoteknologi. Teknologi nano memungkinkan unsur hara dilepaskan secara bertahap sehingga dapat diserap tanaman lebih efisien dan mengurangi kehilangan nutrisi akibat pencucian atau penguapan.

Menurut tim peneliti dari Universitas Mulawarman, pendekatan ini berpotensi menjadi solusi pertanian berkelanjutan yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia konvensional.

Pengujian pada Lima Tingkat Konsentrasi

Penelitian dilakukan menggunakan varietas jagung hibrida Bisi 321. Pupuk organik cair nanoteknologi diaplikasikan dengan lima tingkat konsentrasi berbeda, yaitu:

  • 0 mL/L (kontrol)
  • 0,5 mL/L
  • 1,0 mL/L
  • 1,5 mL/L
  • 2,0 mL/L

Penyemprotan dilakukan sebanyak enam kali selama fase pertumbuhan tanaman. Para peneliti kemudian mengamati berbagai parameter, mulai dari tinggi tanaman, diameter batang, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah biji, hingga hasil panen per hektare.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode statistik untuk memastikan perbedaan antarperlakuan benar-benar signifikan.

Pertumbuhan Tanaman Meningkat Signifikan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi pupuk nanoteknologi memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman jagung.

Pada umur 45 hari setelah tanam, tinggi tanaman pada perlakuan tertinggi mencapai 163,20 cm, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mencapai 121,50 cm.

Diameter batang juga meningkat seiring bertambahnya dosis pupuk. Batang yang lebih besar menunjukkan tanaman memiliki struktur yang lebih kuat dan kemampuan lebih baik dalam mendukung pembentukan tongkol.

Menariknya, jumlah daun tidak mengalami perbedaan yang signifikan. Peneliti menjelaskan bahwa jumlah daun pada jagung lebih banyak ditentukan oleh faktor genetik dibandingkan perlakuan pemupukan.

Produksi Jagung Naik hingga Lebih dari 30 Persen

Peningkatan paling menonjol terlihat pada komponen hasil panen.

Beberapa temuan utama penelitian meliputi:

  • Panjang tongkol meningkat dari 10,91 cm pada kontrol menjadi 13,00 cm pada dosis tertinggi.
  • Diameter tongkol meningkat dari 35,98 mm menjadi 42,65 mm.
  • Berat biji per tongkol naik dari 47,53 gram menjadi 64,88 gram.
  • Berat 100 biji meningkat dari 15,40 gram menjadi 19,63 gram.
  • Produktivitas meningkat dari 3,91 ton per hektare menjadi 5,15 ton per hektare.

Secara keseluruhan, hasil panen meningkat sekitar 31 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi pupuk nanoteknologi.

Meski demikian, para peneliti menemukan bahwa produktivitas pada dosis 1,5 mL/L dan 2,0 mL/L tidak berbeda secara nyata. Dosis 1,5 mL/L menghasilkan 5,07 ton per hektare, sedangkan dosis 2,0 mL/L menghasilkan 5,15 ton per hektare.

Karena selisih hasilnya sangat kecil, dosis 1,5 mL/L dinilai lebih efisien secara agronomis maupun ekonomis.

Efisiensi Nutrisi Jadi Kunci

Menurut Eliyani dan tim peneliti, keberhasilan pupuk nanoteknologi berasal dari kemampuannya meningkatkan efisiensi penggunaan unsur hara.

Partikel berukuran nano membantu unsur nitrogen, fosfor, dan kalium lebih mudah diserap tanaman. Nutrisi juga tersedia lebih lama karena dilepaskan secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman.

Kondisi tersebut sangat menguntungkan pada tanah tropis yang masam, karena unsur hara tidak mudah terikat oleh tanah dan tetap tersedia selama fase pembentukan biji.

Peneliti menjelaskan bahwa kecukupan unsur hara selama fase reproduktif berperan penting dalam pembentukan tongkol, pengisian biji, dan peningkatan bobot panen.

Potensi untuk Pertanian Berkelanjutan

Temuan ini membuka peluang baru bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di Indonesia, terutama pada lahan marginal yang selama ini memiliki produktivitas rendah.

Penggunaan pupuk organik cair berbasis nanoteknologi tidak hanya berpotensi meningkatkan hasil panen, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dalam jumlah besar.

Meski demikian, para peneliti menilai produktivitas yang diperoleh masih berada di bawah potensi genetik varietas Bisi 321 yang dapat mencapai lebih dari 11 ton per hektare. Oleh karena itu, penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan mengombinasikan pupuk nanoteknologi, pupuk dasar NPK, dan bahan organik lainnya untuk memperoleh hasil yang lebih optimal.

Profil Penulis

Alvera Prihatini Dewi Nazari merupakan peneliti di bidang budidaya tanaman dari Universitas Mulawarman.

Eliyani, S.P., M.P. adalah akademisi dan peneliti Universitas Mulawarman yang memiliki fokus kajian pada agronomi, kesuburan tanah, dan teknologi budidaya tanaman.

David Christian Balan merupakan peneliti dari Universitas Mulawarman yang aktif dalam penelitian pertanian dan peningkatan produktivitas tanaman pangan.

Sumber Penelitian

Judul: Response of Corn (Zea mays L.) to Nanotechnology Liquid Organic Fertilizer Application
Penulis: Alvera Prihatini Dewi Nazari, Eliyani, David Christian Balan
Afiliasi: Universitas Mulawarman, Indonesia
Volume: 6 Nomor 5 (Mei 2026)
Halaman: 523–527

Posting Komentar

0 Komentar