Terumbu Karang Davao Oriental Tertekan, Studi Ungkap Mayoritas Lokasi dalam Kondisi Buruk

Ilustrasi by Ai

Davao Oriental, Filipina — Kondisi terumbu karang di pesisir Davao Oriental, Filipina, masih menghadapi tekanan serius. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research tahun 2026 menemukan sebagian besar kawasan terumbu karang di wilayah itu berada dalam kondisi buruk, dengan tutupan karang hidup yang rendah dan dominasi alga yang semakin meningkat.

Riset ini dilakukan oleh Jefferson Centro, Ariel Eballe, France Guillian Rapiz, dan Emily Antonio dari Davao Oriental State University. Penelitian ini penting karena terumbu karang menjadi fondasi utama ekosistem laut, menopang keanekaragaman hayati, sumber perikanan, sekaligus penghidupan masyarakat pesisir. Temuan ini juga menjadi alarm bagi pengelolaan kawasan konservasi laut di Filipina.

Terumbu karang dikenal sebagai salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Meski hanya menutupi kurang dari satu persen dasar laut, ekosistem ini menjadi rumah bagi sekitar 25 persen organisme laut. Namun, tekanan akibat aktivitas manusia seperti penangkapan ikan berlebih, sedimentasi, pencemaran, hingga perubahan iklim membuat banyak kawasan karang terus mengalami penurunan kualitas.

Dalam studi ini, tim peneliti meninjau tujuh lokasi terumbu karang di Davao Oriental, yaitu Banaybanay, Lupon, San Isidro, Baganga-Kinablangan, Baganga-Sauquegui, Cateel, dan Bobon. Tiga di antaranya merupakan kawasan Marine Protected Area (MPA) atau kawasan konservasi laut.

Penelitian dilakukan menggunakan metode dokumentasi bawah air berbasis transek sepanjang 50 meter untuk mengukur tutupan bentik, termasuk karang keras, karang lunak, lamun, alga, dan substrat mati. Sementara itu, populasi ikan karang dihitung melalui pengamatan visual langsung di bawah air.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antar lokasi. Tutupan karang keras hidup tercatat hanya berkisar antara 3,8 persen hingga 60,3 persen. Lokasi Baganga-Sauquegui menjadi kawasan dengan kondisi terbaik dengan tutupan karang hidup mencapai 60,3 persen dan masuk kategori “baik”. Sebaliknya, Cateel menjadi lokasi dengan kondisi terburuk, hanya memiliki 3,8 persen tutupan karang hidup.

Di banyak lokasi lain, peneliti menemukan dominasi alga dan karang mati yang telah ditumbuhi alga. Kondisi ini biasanya menjadi indikator bahwa terumbu karang sedang mengalami degradasi atau kesulitan untuk pulih. Lupon, misalnya, mencatat substrat abiotik tertinggi sebesar 55,6 persen, menandakan berkurangnya kompleksitas habitat alami.

Tak hanya kondisi karang, struktur komunitas ikan karang juga menunjukkan variasi yang tajam. Banaybanay mencatat jumlah ikan tertinggi dengan 1.964 individu per 500 meter persegi, sekaligus biomassa tertinggi sebesar 45,04 kilogram per 500 meter persegi. Sementara Baganga-Kinablangan memiliki biomassa ikan terendah, hanya 10,17 kilogram.

Menariknya, Baganga-Sauquegui yang memiliki tutupan karang terbaik justru mencatat jumlah ikan yang relatif lebih rendah dibanding lokasi lain. Menurut peneliti, hal ini bisa menjadi tanda adanya tekanan penangkapan ikan secara selektif terhadap spesies bernilai ekonomi tinggi.

Jefferson Centro dan tim menjelaskan bahwa hubungan antara kondisi terumbu dan populasi ikan tidak selalu linier. Faktor lain seperti intensitas penangkapan ikan, ketersediaan makanan, dan kualitas habitat juga sangat menentukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan kawasan konservasi laut belum tentu otomatis menjamin pemulihan ekosistem jika tidak diikuti dengan pengawasan ketat dan partisipasi masyarakat. Banyak MPA di Filipina masih menghadapi tantangan seperti lemahnya penegakan aturan, tekanan eksploitasi, dan dampak perubahan iklim.

Bagi masyarakat pesisir, kondisi ini membawa dampak langsung terhadap keberlanjutan sumber pangan dan ekonomi. Menurunnya kualitas terumbu karang bisa berarti berkurangnya stok ikan, meningkatnya kerentanan terhadap abrasi pantai, serta menurunnya potensi wisata bahari.

Penelitian ini memberikan data dasar penting bagi pemerintah daerah, pengelola sumber daya laut, dan komunitas pesisir dalam merancang kebijakan konservasi yang lebih efektif. Peneliti merekomendasikan penguatan pengawasan kawasan konservasi, rehabilitasi habitat yang rusak, pengendalian sedimentasi, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.

Dalam jangka panjang, studi ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan terumbu karang bukan hanya soal melindungi laut, tetapi juga memastikan masa depan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat pesisir tetap terjaga.

Profil Penulis
Jefferson Centro — Davao Oriental State University
Ariel Eballe — Davao Oriental State University
France Guillian Rapiz — Davao Oriental State University
Emily Antonio — Davao Oriental State University

Sumber Penelitian:
Benthic Cover Composition and Fish Community Structure in Coral Reef Communities of Davao Oriental, Southeastern Mindanao, Philippines
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (2026)

Posting Komentar

0 Komentar