Soft Skill Radiologi Tingkatkan Kualitas Layanan dan Kepuasan Pasien di Padang

Ilustrasi by AI

Padang — Kualitas pelayanan radiologi di rumah sakit tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat seperti CT-Scan dan MRI, tetapi juga pada kemampuan tenaga medis dalam berkomunikasi dengan pasien. Temuan ini menjadi fokus utama artikel ilmiah yang ditulis oleh Santa Mareta, Oktavia Puspita Sari, Yori Rahmadianti, dan Livia Ade Nansih dari Universitas Baiturrahmah, Indonesia. Dipublikasikan pada tahun 2026 di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), artikel ini menyoroti bagaimana pelatihan soft skill di Instalasi Radiologi RSI Siti Rahmah Padang mampu meningkatkan kualitas interaksi petugas dengan pasien dan memperkuat budaya pelayanan yang lebih humanis.

Kegiatan sosialisasi berlangsung pada 28 Juli 2025 di RSI Siti Rahmah Padang dengan melibatkan 11 peserta, terdiri dari 10 radiografer dan satu petugas administrasi. Program ini muncul dari persoalan nyata di lapangan, yaitu masih adanya keluhan pasien tentang kurangnya informasi prosedur pemeriksaan, sikap petugas yang terkesan tergesa-gesa, dan minimnya empati saat pasien dalam kondisi cemas atau kesakitan. Situasi ini berdampak langsung pada kualitas hasil pemeriksaan, bahkan meningkatkan risiko pengulangan foto radiologi akibat pasien tidak memahami instruksi dengan baik.

Dalam dunia radiologi, komunikasi efektif menjadi elemen penting yang sering kali terabaikan. Santa Mareta dan tim dari Universitas Baiturrahmah menegaskan bahwa kesalahan komunikasi sederhana, seperti tidak memperkenalkan diri atau menggunakan istilah teknis yang sulit dipahami pasien, dapat memperburuk pengalaman pasien dan mengganggu proses pemeriksaan. Bahkan, penelitian sebelumnya di RSUP Dr. M. Djamil Padang menunjukkan bahwa komunikasi radiografer yang kurang baik berkontribusi pada rendahnya kepuasan pasien.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti merancang pelatihan berbasis pendekatan partisipatif. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, studi kasus, diskusi kelompok, dan simulasi role-play. Metode ini dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan cara berkomunikasi yang lebih baik dalam situasi nyata. Kasus-kasus yang digunakan dalam simulasi disesuaikan dengan kondisi lapangan, seperti menghadapi pasien lansia dengan gangguan pendengaran, pasien anak yang menangis, hingga pasien dengan tingkat kecemasan tinggi.

Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sebelum pelatihan, rata-rata pemahaman peserta tentang soft skill hanya berada di angka 41 persen. Setelah pelatihan selesai, skor itu melonjak menjadi 88 persen. Peningkatan paling besar terjadi pada aspek komunikasi efektif dengan pasien, yang naik dari 38 persen menjadi 86 persen. Sementara aspek empati dan caring meningkat dari 45 persen menjadi 90 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan singkat namun terstruktur mampu memberikan dampak nyata pada kualitas pelayanan radiologi.

Tidak hanya dari sisi pengetahuan, kemampuan praktik peserta juga berubah. Sebelum pelatihan, 82 persen peserta masih melakukan kesalahan komunikasi, seperti tidak memvalidasi pemahaman pasien setelah memberi instruksi. Setelah role-play dan evaluasi, sebanyak 91 persen peserta sudah mampu menjalankan komunikasi yang sesuai standar patient-centered care. Perubahan ini menunjukkan bahwa soft skill dapat dipelajari dan dilatih secara sistematis, sama pentingnya dengan hard skill teknis radiologi.

Dalam sesi diskusi, para peserta mengakui bahwa sebelumnya mereka lebih fokus pada hasil teknis gambar radiologi dan kurang memperhatikan kondisi psikologis pasien. Setelah pelatihan, perspektif itu mulai berubah. Mereka memahami bahwa hasil radiologi yang baik juga sangat dipengaruhi oleh kerja sama pasien, dan kerja sama itu hanya bisa dibangun melalui komunikasi yang jelas dan empatik. Pemahaman ini menjadi titik penting dalam transformasi budaya kerja radiologi di rumah sakit.

Implikasi penelitian ini sangat luas. Bagi rumah sakit, peningkatan soft skill tenaga radiologi dapat mengurangi risiko kesalahan prosedur, menekan angka pengulangan pemeriksaan, dan meningkatkan kepuasan pasien. Bagi dunia pendidikan kesehatan, hasil ini menunjukkan bahwa kurikulum radiologi perlu memberi ruang lebih besar pada pembelajaran soft skill. Sementara bagi kebijakan rumah sakit, pelatihan berkala setiap enam bulan dapat menjadi strategi efektif untuk menjaga kualitas pelayanan.

Santa Mareta dan tim dari Universitas Baiturrahmah menilai bahwa masa depan layanan kesehatan bukan hanya tentang teknologi yang lebih canggih, tetapi juga tentang bagaimana tenaga kesehatan membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan pasien. Dalam konteks radiologi, komunikasi yang baik terbukti bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian inti dari keselamatan pasien dan mutu pelayanan.

Profil Penulis
Santa Mareta — Universitas Baiturrahmah
Oktavia Puspita Sari — Universitas Baiturrahmah
Yori Rahmadianti — Universitas Baiturrahmah
Livia Ade Nansih — Universitas Baiturrahmah

Sumber Penelitian
Socialization of Human Resources (HR) Soft Skills at the Radiology Installation of RSI Siti Rahmah Padang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 3, 2026

Posting Komentar

0 Komentar