Tradisi Liat Pulagajjat di Kepulauan Mentawai bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah instrumen pendidikan karakter yang berakar pada kearifan lokal (etnopedagogi). Penelitian yang dilakukan oleh Zulfa dan tim dari Universitas PGRI Sumatera Barat serta kolaborator lainnya pada Mei 2026 ini membedah bagaimana nilai-nilai luhur diwariskan melalui simbolisme ritual ini.
Latar Belakang dan Tujuan
Di tengah arus modernisasi, kearifan lokal sering kali terancam terlupakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dimensi pendidikan karakter dalam tradisi Liat Pulagajjat. Fokus utamanya adalah memahami bagaimana struktur estetika, simbolisme gerakan, dan narasi lisan dalam ritual tersebut berfungsi sebagai media pembentukan karakter bagi masyarakat Mentawai, khususnya generasi muda.
Metode Penelitian
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi mendalam terhadap prosesi ritual dan wawancara dengan tokoh adat (Sikerei) serta anggota masyarakat. Prosesi yang diamati meliputi tahapan seperti Lia Siboitok (taddat lia), Sikebbukat sibakkat katcaila, Pasibitbit Sipitto', Lia Sikarua, hingga Iriq toitet.
Temuan Utama: Etnopedagogi dalam Ritual
Penelitian ini menemukan bahwa Liat Pulagajjat mengandung nilai-nilai edukatif yang kuat:
- Simbolisme Gerakan: Setiap gerakan dalam ritual memiliki makna mendalam terkait hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.
- Pendidikan Berbasis Narasi: Melalui narasi lisan yang disampaikan selama ritual, nilai-nilai etika, gotong royong, dan rasa hormat diajarkan secara kontekstual kepada peserta didik (generasi muda).
- Integrasi Budaya dan Karakter: Tradisi ini berfungsi sebagai pengikat identitas budaya sekaligus sarana penguatan integritas personal masyarakat Mentawai dalam menghadapi perubahan zaman.
Implikasi bagi Pendidikan dan Budaya
Penulis menegaskan bahwa tradisi lokal seperti Liat Pulagajjat merupakan kekayaan yang potensial untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Dengan memahami dan melestarikan tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan nilai-nilai karakter yang kuat tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Profil Penulis:
- Zulfa – Peneliti utama, Universitas PGRI Sumatera Barat.
- Lestariwati – Peneliti, Universitas Haloeleo Kendari.
- Yudas Sabagalet – Peneliti, Universitas Taman Siswa Padang.
- Elvawati & Juswandi – Peneliti, Universitas PGRI Sumatera Barat dan Universitas Lancang Kuning.
Sumber Penelitian: Zulfa, Lestariwati, Sabagalet, Y., Elvawati, & Juswandi. (2026). "Ritual Art: Exploring the Dimensions of Character Building in the Liat Pulagajjat Tradition of Mentawai". International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), 4(5), 701-712.
0 Komentar