Representasi Intelektual Ibn Rushd dalam Al-Massir: Dialektika Akal dan Wahyu (1126–1198)

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Menolak Mati: Bagaimana Film 'Al-Massir' Menghidupkan Kembali Pemikiran Progresif Ibnu Rushd di Era Modern. Penelitian yang dilakukan oleh Dhimas Sugian dari UIN Syarif Hidayatullah dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR),edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa sinema tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan ruang negosiasi budaya dan benteng pertahanan bagi kebebasan berpikir manusia.

Jembatan Hermeneutika: Ketika Krisis Abad ke-12 Bercermin di Abad ke-20
Ibnu Rushd, yang di dunia Barat dikenal dengan nama Averroes, merupakan puncak pemikiran peripatetik Islam di wilayah Andalusia. Sebagai seorang pakar hukum Islam (qadi), dokter, dan filsuf, ia memikul beban berat untuk menjembatani ketegangan antara hikmah (filsafat) dan syariat (agama). Namun, sejarah mencatat akhir hidupnya yang tragis: ia mengalami masa pengasingan (mihnah) dan karya-karyanya dibakar di depan umum akibat tekanan faksi tradisionalis konservatif kepada Dinasti AlmohadPenulis menjelaskan bahwa tragedi pembakaran buku ini merupakan simbol kekalahan sementara dari nalar merdeka di hadapan doktrin buta. Berabad-abad kemudian, tepatnya pada akhir abad ke-20, sutradara Youssef Chahine melihat pola penindasan intelektual yang serupa sedang melanda Timur Tengah dengan bangkitnya radikalisme dan penyensoran karya-karya progresif. Melalui film Al-Massir, Chahine menggunakan sejarah Andalusia abad ke-12 sebagai alegori politik modern untuk mengkritik lanskap sosial-politik Mesir dan dunia Arab pada dekade 1990-an. Film ini menjadi jembatan interpretasi yang menghubungkan krisis intelektual masa lalu dengan krisis identitas dunia Islam kontemporer.

Mengupas Bahasa Gambar Lewat Pendekatan Semiotika
Untuk membedah bagaimana gagasan filsafat Ibnu Rushd yang abstrak ditransformasikan ke dalam layar lebar, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pisau analisis semiotika film. Pendekatan ini memandang setiap elemen di dalam frame film mulai dari pencahayaan, tata letak ruang (mise-en-scène), kostum, hingga dialog sebagai sistem tanda yang membawa makna denotatif (literal) dan konotatif (simbolis-filosofis)Penulis menguji keabsahan datanya melalui teknik triangulasi teori, di mana temuan-temuan visual di dalam film dikonfrontasikan langsung secara intertekstual dengan teks-teks klasik asli karya Ibnu Rushd, seperti Fashl al-Maqal dan Tahafut al-Tahafut. Selain itu, data sejarah juga diverifikasi menggunakan catatan kronik kuno milik Ibn Abi Ushaybi’ah dan Al-Marrakushi guna memastikan konteks politik seputar peristiwa pembakaran buku di masa Dinasti Almohad digambarkan secara akurat.

Temuan Utama: Ruang Publik, Pertarungan Cahaya, dan Kebebasan Tafsir
Melalui pembacaan semiotika yang tajam, penelitian ini berhasil merumuskan tiga temuan utama terkait representasi intelektual Ibnu Rushd di dalam film Al-Massir:
Perpustakaan sebagai Episentrum Peradaban: Chahine mendekonstruksi citra filsuf yang biasanya digambarkan kuper di menara gading. Ibnu Rushd dihadirkan sebagai intelektual organik yang terlibat aktif dalam masyarakat sebagai hakim agung. Ruang perpustakaan dan aktivitas penyalinan manuskrip oleh para muridnya digambarkan sebagai bentuk "ibadah intelektual" dan simbol keabadian nalar universal manusia menghadapi ancaman sensor penguasa.
  • Oposisi Biner Cahaya dan Kegelapan: Secara visual, film ini memisahkan dua kekuatan ideologi yang bertarung menggunakan teknik pencahayaan yang kontras. Ibnu Rushd dan para pencari ilmu selalu ditempatkan dalam ruang terbuka yang bermandikan cahaya matahari alami sebagai simbol keterbukaan pikiran (infitah) dan pencerahan. Sebaliknya, kelompok fanatik radikal digambarkan bergerak di dalam bayang-bayang, basement pengap, atau kegelapan malam, menegaskan bahwa kebodohan selalu membutuhkan kerahasiaan untuk bertahan hidup.
  • Aktivasi Metode Ta'wil (Interpretasi Metaforis): Film ini meluruskan kesalahpahaman Barat abad pertengahan mengenai teori kebenaran ganda (Double Truth). Al-Massir menegaskan tesis Ibnu Rushd bahwa kebenaran itu satu dan tidak saling bertentangan (al-haqq la yudaddu al-haqq). Jika teks suci secara lahiriah tampak bertentangan dengan nalar sains, maka metode ta'wil (tafsir metaforis) harus diaktifkan untuk menemukan makna batin yang selaras dengan akal sehat.
Implikasi Kebijakan dan Manfaat bagi Moderasi Beragama
Penelitian ini membawa dampak penting bagi dunia pendidikan, kebijakan publik, dan strategi dakwah di dunia Islam saat ini. Studi Dhimas Sugian menunjukkan bahwa kegagalan dalam menjaga dialektika antara akal dan wahyu dapat berakibat fatal pada runtuhnya tatanan peradaban yang berujung pada fanatisme buta (at-ta'assub)Melalui visualisasi Islam yang inklusif—di mana Ibnu Rushd digambarkan tetap taat beribadah namun membuka ruang bagi seni, musik, dan kebebasan berpikir—film ini menawarkan model Islam kosmopolitan. Inklusivitas syariat ini menjadi tameng eksistensial dalam melawan narasi ekstremisme yang sering membajak teks suci demi kepentingan politik sektarian. Pesan moral terbesar film ini yang berbunyi, "Al-afkar laha ajnihah, la yumkinu harquha" (Pemikiran memiliki sayap, ia tidak bisa dibakar), menjadi pengingat bagi otoritas modern agar tidak terjebak dalam cancel culture maupun otoritarianisme digital yang berusaha memonopoli kebenaran.

Profil Penulis
Dhimas Sugian adalah seorang peneliti dan akademisi yang berafiliasi dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Memiliki fokus keahlian di bidang intelektualisme Islam, filsafat Islam, serta kajian media dan semiotika film

Sumber Penelitian
Dhimas Sugian. Ibn Rushd's Intellectual Representation in Al-Massir: The Dialectic of Reason-Revelation (1126-1198). Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR). Vol. 5, No. 1, 2026: 57-74.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajpr.v5i1.16535
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajpr

Posting Komentar

0 Komentar