Ketahanan Energi Dinilai Jadi Kunci Memperkuat Stabilitas Nasional Indonesia di Era Global

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Indonesia - Ketahanan energi menjadi salah satu faktor strategis yang menentukan stabilitas nasional Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perubahan sistem energi dunia. Temuan ini disampaikan Surya Iman Wahyudi, Priyanto, dan Afrizal Hendra dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia dalam artikel yang terbit pada 2026. Kajian tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi energi, pengembangan energi baru dan terbarukan, efisiensi energi, serta tata kelola yang kuat dapat memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi gangguan pasokan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan keamanan nasional.

Energi Bukan Lagi Sekadar Komoditas

Perubahan geopolitik global membuat energi semakin sulit dipandang hanya sebagai komoditas ekonomi. Pandemi COVID-19, konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, perubahan harga energi, dan gangguan rantai pasok internasional menunjukkan bahwa gangguan energi dapat berdampak jauh melampaui sektor energi.

Kenaikan harga minyak, gas, atau batu bara dapat meningkatkan biaya produksi industri, mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan membebani kondisi fiskal negara. Karena itu, kemampuan menyediakan energi secara aman, terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.

Bagi Indonesia, tantangannya semakin besar karena kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan industri, transportasi, manufaktur, dan pembangunan infrastruktur. Artikel tersebut mencatat bahwa bauran energi primer Indonesia pada 2024 masih didominasi batu bara sebesar 40,37 persen, minyak bumi 28,82 persen, dan gas alam 16,17 persen. Sementara itu, energi baru dan terbarukan menyumbang sekitar 14,65 persen.

Kondisi tersebut membuat Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap energi fosil. Penurunan produksi minyak domestik sementara konsumsi terus meningkat juga menyebabkan kebutuhan impor minyak menjadi salah satu sumber kerentanan terhadap perubahan harga dunia, nilai tukar, dan gangguan rantai pasok internasional.

Kajian Menganalisis 22 Publikasi dan Dokumen

Wahyudi, Priyanto, dan Hendra menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka naratif. Mereka menganalisis 22 publikasi ilmiah dan laporan resmi yang terbit pada periode 2020–2026.

Sumber yang digunakan mencakup artikel jurnal, buku akademik, serta dokumen dari International Energy Agency (IEA), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dewan Energi Nasional (DEN), Badan Pusat Statistik (BPS), dan World Energy Council. Literatur dikumpulkan melalui sejumlah basis data akademik, kemudian dikelompokkan berdasarkan tema dan dibandingkan untuk menemukan hubungan antara ketahanan energi dan stabilitas nasional.

Dari proses tersebut, para penulis menemukan tiga tema utama: ketahanan energi sebagai fondasi stabilitas nasional, tantangan ketahanan energi Indonesia di era global, serta strategi untuk memperkuat ketahanan energi.

Tiga Temuan Utama

Sistem energi yang kuat memperkuat stabilitas nasional

Kajian menunjukkan bahwa energi berperan dalam hampir seluruh aktivitas strategis, mulai dari industri, transportasi, pelayanan publik, pertahanan hingga kesejahteraan masyarakat. Negara dengan sistem energi yang tangguh dinilai lebih mampu menghadapi gejolak harga, gangguan rantai pasok, dan tekanan geopolitik.

Sebaliknya, ketergantungan tinggi terhadap impor energi dapat meningkatkan kerentanan ekonomi ketika terjadi perubahan harga atau gangguan pasokan global.

Indonesia menghadapi sejumlah kerentanan energi

Para penulis mengidentifikasi beberapa tantangan utama, antara lain ketergantungan impor minyak, dominasi energi fosil, belum optimalnya pemanfaatan energi terbarukan, ketidakmerataan infrastruktur energi, serta dinamika geopolitik internasional.

Transisi energi juga menghadirkan tantangan tersendiri. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar, tetapi pengembangannya masih menghadapi hambatan berupa investasi, teknologi, kepastian regulasi, dan infrastruktur.

Diversifikasi energi menjadi strategi penting

Kajian menemukan bahwa diversifikasi sumber energi merupakan salah satu strategi yang paling konsisten direkomendasikan dalam literatur. Pengembangan tenaga surya, panas bumi, biomassa, tenaga air, dan angin dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis energi sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem energi nasional.

Para penulis juga menekankan pentingnya efisiensi energi, pembangunan infrastruktur, digitalisasi sistem energi, serta tata kelola yang lebih kuat.

Transisi Energi Berpotensi Membuka Peluang Ekonomi

Percepatan energi baru dan terbarukan tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi emisi. Menurut kajian tersebut, transisi menuju energi bersih juga dapat membuka peluang ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan teknologi, inovasi, dan pertumbuhan industri hijau.

Namun, keberhasilan transisi tidak cukup bergantung pada ketersediaan sumber daya alam. Kebijakan yang konsisten, koordinasi antarlembaga, kepastian regulasi, investasi jangka panjang, serta kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat juga diperlukan.

Para penulis menyarankan agar Indonesia mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada security of supply, tetapi juga pada energy resilience. Artinya, sistem energi harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, beradaptasi, dan pulih ketika menghadapi gangguan.

Dampaknya bagi Ekonomi dan Masyarakat

Ketahanan energi yang lebih kuat dapat memberikan dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Pasokan energi yang stabil membantu menjaga kegiatan industri, transportasi, layanan publik, dan aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, diversifikasi energi dapat mengurangi risiko yang muncul ketika harga energi internasional mengalami gejolak.

Bagi dunia usaha, sistem energi yang lebih tangguh dapat membantu menciptakan kepastian pasokan dan mengurangi risiko biaya akibat ketergantungan terhadap energi tertentu. Bagi pemerintah, penguatan ketahanan energi dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi risiko geopolitik sekaligus mendukung pembangunan rendah karbon.

Kajian tersebut juga menempatkan ketahanan energi sebagai bagian dari keamanan nasional. Gangguan energi berpotensi memengaruhi produktivitas, inflasi, investasi, dan kondisi sosial sehingga kebijakan energi perlu dipandang sebagai bagian dari strategi pembangunan dan ketahanan negara.

Profil Penulis

Surya Iman Wahyudi: penulis korespondensi, Universitas Pertahanan Republik Indonesia. Bidang kajian artikel berfokus pada ketahanan energi, stabilitas nasional, transisi energi, dan ketahanan nasional.

Priyanto: Universitas Pertahanan Republik Indonesia, turut menjadi penulis artikel mengenai hubungan ketahanan energi dan stabilitas nasional.

Afrizal Hendra: Universitas Pertahanan Republik Indonesia, turut berkontribusi dalam kajian mengenai ketahanan energi dalam perspektif stabilitas dan keamanan nasional.

Sumber Penelitian

Judul: The Urgency of Energy Security for Strengthening National Stability in the Global Era
Penulis: Surya Iman Wahyudi, Priyanto, Afrizal Hendra
Afiliasi: Universitas Pertahanan Republik Indonesia
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 1541–1560

Posting Komentar

0 Komentar