Proses Pemaafan Jadi Kunci Pemulihan Psikologis Penyintas Kekerasan Seksual dalam Pacaran

Ilustrasi by AI

Proses pemaafan pada penyintas kekerasan seksual dalam hubungan pacaran merupakan langkah kompleks yang krusial untuk pemulihan kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan oleh Yosy Verahtania dan Amanda Pasca Rini dari Magister Psikologi Universitas 17 Agustus Surabaya pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa memaafkan bukanlah tindakan melupakan kejadian, melainkan upaya membebaskan diri dari beban emosi negatif.

Latar Belakang Masalah

Kekerasan dalam hubungan pacaran, terutama kekerasan seksual, menjadi masalah mendesak karena dampak traumatisnya yang mendalam bagi korban. Perempuan sering kali menjadi kelompok paling rentan dalam kasus ini, di mana trauma yang dialami dapat memengaruhi kesejahteraan mental, emosional, dan sosial mereka dalam jangka panjang. Banyak penyintas terjebak dalam rasa marah, malu, dan bersalah, sehingga membutuhkan mekanisme pemulihan yang adaptif agar dapat kembali menjalani kehidupan dengan tenang.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif para penyintas. Peneliti melakukan wawancara mendalam dengan lima perempuan berusia 20 hingga 30 tahun yang pernah mengalami kekerasan seksual dalam hubungan pacaran dan telah menjalani proses pemaafan. Data diperkuat melalui analisis dokumen dan observasi guna memperoleh gambaran utuh mengenai dinamika psikologis yang terjadi.

Temuan Utama

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemaafan yang dilalui penyintas melibatkan beberapa tahapan penting:

  • ·         Penerimaan Diri (Self-Acceptance): Penyintas mulai mengakui bahwa kejadian kekerasan telah terjadi dan tidak dapat diubah.
  • ·         Pemrosesan Emosional: Mengelola emosi negatif melalui terapi, aktivitas pribadi, atau dukungan sosial.
  • ·         Rekonstruksi Identitas: Membangun kembali kepercayaan diri dan menetapkan tujuan hidup baru.
  • ·         Peran Dukungan Sosial: Dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga profesional terbukti sangat membantu penyintas dalam bangkit dan menyadari bahwa mereka tetap sosok yang berharga.

Implikasi dan Dampak

Penelitian ini menegaskan bahwa pemaafan adalah bentuk benevolence motivation, yakni niat baik untuk berdamai dengan masa lalu demi kebaikan diri sendiri, bukan untuk membenarkan tindakan pelaku. Dengan memaafkan, penyintas dapat melepaskan keinginan untuk membalas dendam dan beralih fokus pada kesejahteraan psikologis pribadinya. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan intervensi psikologis yang lebih efektif bagi para penyintas kekerasan seksual, dengan menekankan pentingnya lingkungan pendukung dalam proses pemulihan identitas diri.

Profil Penulis:

  • Yosy VerahtaniaUniversitas 17 Agustus Surabaya
  • Amanda Pasca Rini- Universitas 17 Agustus Surabaya

Sumber Penelitian

Verahtania, Y., & Rini, A. P. (2026). "Dynamics of Forgiveness in Female Survivors of Sexual Violence and Dating Victims". International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), 4(5), 248-253.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i5.3.

URL: https://journalijist.my.id/index.php/ijist


Posting Komentar

0 Komentar