Surabaya – Peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat terbukti menjadi faktor paling efektif dalam menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Temuan ini dipublikasikan dalam penelitian yang dilakukan Yogi Nur Hidayat dan Syamsul Huda dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur dan diterbitkan pada tahun 2026 dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).
Penelitian tersebut membandingkan pengaruh ketimpangan pendapatan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terhadap tingkat kemiskinan di dua daerah yang memiliki karakteristik ekonomi berbeda tetapi berada dalam kawasan yang berdekatan. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap penurunan kemiskinan dibandingkan ketimpangan pendapatan.
Kemiskinan masih menjadi salah satu tantangan pembangunan terbesar di Indonesia. Masalah ini semakin terlihat selama pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan mengalami penurunan pendapatan. Di berbagai daerah, kemiskinan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan akses pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan kerja.
Kabupaten Bojonegoro dan Tuban menjadi contoh menarik untuk dikaji karena keduanya merupakan wilayah bertetangga yang sama-sama mengalami pertumbuhan ekonomi dalam satu dekade terakhir. Meski demikian, perkembangan kemiskinan di kedua daerah menunjukkan pola yang berbeda. Bojonegoro mampu menurunkan angka kemiskinan secara lebih stabil dibandingkan Tuban yang mengalami fluktuasi lebih besar dari tahun ke tahun.
Untuk memahami faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, Yogi Nur Hidayat dan Syamsul Huda menganalisis data resmi Badan Pusat Statistik selama periode 2012 hingga 2021. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan membandingkan hubungan antara tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan yang diukur melalui Indeks Gini, dan kualitas pembangunan manusia yang diukur melalui IPM.
Data menunjukkan bahwa IPM di kedua daerah terus meningkat selama periode penelitian. Di Bojonegoro, IPM naik dari 64,20 pada tahun 2012 menjadi 69,59 pada tahun 2021. Sementara itu, Tuban mengalami peningkatan dari 63,36 menjadi 68,91 pada periode yang sama. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.
Pada saat yang sama, angka kemiskinan menunjukkan tren penurunan. Di Bojonegoro, tingkat kemiskinan turun dari 16,66 persen pada tahun 2012 menjadi 13,27 persen pada tahun 2021. Di Tuban, angka kemiskinan menurun dari 17,84 persen menjadi 16,31 persen dalam kurun waktu yang sama.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di kedua kabupaten. Dengan kata lain, perubahan tingkat kesenjangan pendapatan tidak secara langsung menyebabkan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk miskin.
Sebaliknya, Indeks Pembangunan Manusia terbukti memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. Semakin tinggi kualitas pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat, semakin rendah tingkat kemiskinan yang terjadi. Hubungan tersebut ditemukan baik di Kabupaten Bojonegoro maupun Kabupaten Tuban.
Menurut Yogi Nur Hidayat dan Syamsul Huda dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, hasil ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan masyarakat. Kemiskinan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki suatu daerah. Ketika masyarakat memperoleh akses pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang memadai, serta kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, peluang keluar dari kemiskinan menjadi semakin besar.
Temuan tersebut memperkuat teori modal manusia atau human capital yang menyatakan bahwa investasi pada pendidikan dan kesehatan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat. Individu yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kondisi kesehatan yang baik akan lebih mudah memperoleh pekerjaan, beradaptasi dengan perubahan ekonomi, serta menciptakan nilai tambah dalam aktivitas produktif.
Penelitian ini juga memberikan gambaran bahwa keberhasilan pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat apabila tidak diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih efektif. Program peningkatan kualitas pendidikan, perluasan akses layanan kesehatan, pelatihan keterampilan kerja, serta penguatan perlindungan sosial dinilai lebih strategis dalam menekan angka kemiskinan dibandingkan hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan harus diukur tidak hanya dari peningkatan pendapatan daerah, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Di tengah upaya Indonesia mencapai target pembangunan berkelanjutan, temuan dari Bojonegoro dan Tuban memberikan pesan penting bahwa investasi pada manusia merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi kemiskinan secara berkelanjutan. Ketika kualitas hidup masyarakat meningkat, manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas dan bertahan dalam jangka panjang.
Profil Penulis
Yogi Nur Hidayat – Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Syamsul Huda – Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Comparison of the Influence of Human Development and Economy on Poverty Levels in Bojonegoro and Tuban Regencies
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR)
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i5.112
URL Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar