Penilaian Jalan Deandels Probolinggo Ungkap Titik Kerusakan Berat dan Kebutuhan Perbaikan Rp937 Juta
FORMOSA NEWS – Kondisi perkerasan Jalan Deandels di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sebagian besar masih berada dalam kategori baik. Namun, hasil penelitian terbaru menemukan satu segmen jalan yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan rekonstruksi penuh dengan biaya perbaikan yang signifikan. Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Rizky Yudha Hardiansyah, Hanie Teki Tjendani, dan Sajiyo dari Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya pada tahun 2026. Penelitian tersebut menilai kondisi perkerasan lentur (aspal) sepanjang 4,5 kilometer di Jalan Deandels, Kabupaten Probolinggo, menggunakan metode Surface Distress Index (SDI). Metode ini merupakan standar yang digunakan Direktorat Jenderal Bina Marga untuk menilai kondisi jalan melalui survei visual yang sistematis. Hasil penelitian menjadi penting karena dapat membantu pemerintah daerah menentukan prioritas pemeliharaan jalan secara lebih efektif dan efisien.
Jalan Strategis yang Rentan Mengalami Kerusakan
Jalan Deandels merupakan salah satu koridor penting yang menghubungkan kawasan perkotaan dan pinggiran kota di Kabupaten Probolinggo. Ruas jalan ini setiap hari dilalui kendaraan pribadi, sepeda motor, hingga truk angkutan barang dengan beban berat. Menurut peneliti, tingginya volume lalu lintas, terutama kendaraan berat, ditambah sistem drainase yang kurang optimal dan faktor kualitas konstruksi, menjadi penyebab utama percepatan kerusakan jalan di berbagai daerah di Indonesia. Jika kerusakan ringan tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kerusakan struktural yang memerlukan biaya perbaikan jauh lebih besar. Sebelum penelitian ini dilakukan, belum tersedia data kuantitatif yang menggambarkan kondisi struktural Jalan Deandels secara menyeluruh. Karena itu, penelitian dilakukan untuk memberikan dasar ilmiah bagi perencanaan pemeliharaan jalan oleh pemerintah daerah.
Survei Dilakukan pada 45 Segmen Jalan
Tim peneliti membagi ruas jalan sepanjang 4.500 meter menjadi 45 segmen, masing-masing sepanjang 100 meter. Pada setiap segmen dilakukan pengamatan visual terhadap empat indikator utama kerusakan jalan, yaitu:
-Luas area retak pada permukaan jalan.
-Lebar retakan.
-Jumlah lubang jalan.
-Kedalaman alur roda atau rutting.
Nilai dari keempat parameter tersebut kemudian diolah menjadi skor SDI yang menunjukkan tingkat kerusakan setiap segmen jalan. Semakin tinggi nilai SDI, semakin buruk kondisi jalan dan semakin besar kebutuhan penanganannya.
Mayoritas Jalan Masih Dalam Kondisi Baik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ruas Jalan Deandels masih memiliki kondisi struktural yang memadai. Distribusi kondisi jalan berdasarkan hasil SDI adalah sebagai berikut:
-66,7 persen atau 30 segmen berada dalam kondisi baik.
-8,9 persen atau 4 segmen berada dalam kondisi sedang (fair).
-22,2 persen atau 10 segmen mengalami kerusakan ringan.
-2,2 persen atau 1 segmen mengalami kerusakan berat.
Temuan ini menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga ruas jalan masih dapat berfungsi dengan baik. Namun, sejumlah segmen yang masuk kategori kerusakan ringan hingga berat memerlukan penanganan segera agar tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih mahal untuk diperbaiki.
Segmen STA 2+900–3+000 Menjadi Titik Paling Kritis
Penelitian mengidentifikasi satu titik paling bermasalah pada ruas STA 2+900 hingga STA 3+000. Segmen sepanjang 100 meter ini memperoleh nilai SDI sebesar 155, yang termasuk kategori kerusakan berat. Kerusakan di lokasi tersebut ditandai oleh kombinasi beberapa masalah sekaligus, yaitu:
-Area retak lebih dari 10 persen permukaan jalan.
-Retakan lebar lebih dari 3 milimeter.
-Terdapat 13 lubang dalam setiap 100 meter.
-Kedalaman alur roda mencapai 40 milimeter.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kerusakan tidak lagi berada pada lapisan permukaan saja, tetapi telah memengaruhi struktur jalan secara keseluruhan sehingga memerlukan rekonstruksi total.
Biaya Pemeliharaan Diperkirakan Mencapai Rp937 Juta
Berdasarkan klasifikasi kerusakan yang ditemukan, peneliti menyusun prioritas pemeliharaan beserta estimasi biayanya. Rincian kebutuhan biaya meliputi:
-Pemeliharaan rutin: Rp102,3 juta
-Pemeliharaan berkala: Rp113,7 juta
-Rehabilitasi: Rp92,1 juta
-Rekonstruksi: Rp629,2 juta
Total kebutuhan anggaran mencapai Rp937,28 juta. Menariknya, biaya rekonstruksi untuk satu segmen yang rusak berat tersebut menyerap sekitar 67,1 persen dari total anggaran pemeliharaan seluruh ruas jalan. Temuan ini memperlihatkan pentingnya pemeliharaan preventif sejak dini agar kerusakan ringan tidak berkembang menjadi kerusakan berat yang jauh lebih mahal untuk ditangani.
Metode SDI Dinilai Efektif dan Ekonomis
Penelitian juga menunjukkan bahwa metode SDI dapat menjadi solusi praktis bagi pemerintah daerah yang memiliki keterbatasan anggaran dan peralatan. Karena hanya mengandalkan survei visual tanpa instrumen khusus yang mahal, metode ini dapat diterapkan oleh petugas lapangan dengan pelatihan standar. Dengan demikian, pemantauan kondisi jalan dapat dilakukan secara berkala dan lebih terjangkau dibandingkan metode yang memerlukan peralatan canggih. Rizky Yudha Hardiansyah dan tim peneliti menilai bahwa penerapan SDI secara rutin dapat membantu pemerintah daerah dalam menyusun prioritas pemeliharaan berbasis data sehingga penggunaan anggaran menjadi lebih efektif. Mereka juga merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Probolinggo segera melakukan rekonstruksi pada segmen STA 2+900–3+000 serta menerapkan pemeliharaan preventif pada ruas yang masih berada dalam kondisi baik.
Profil Penulis
Rizky Yudha Hardiansyah merupakan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus penelitian pada manajemen infrastruktur jalan dan evaluasi kondisi perkerasan.
Dr. Hanie Teki Tjendani adalah akademisi dan peneliti di bidang teknik sipil yang memiliki keahlian pada evaluasi kondisi jalan, perkerasan jalan, serta manajemen aset transportasi.
Sajiyo merupakan dosen dan peneliti di Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang berfokus pada bidang konstruksi dan infrastruktur transportasi.
Sumber Penelitian
Judul Jurnal: Surface Distress Index-Based Pavement Condition Assessment Using Visual Survey Method: A Case Study of Flexible Pavement on Deandels Road, East Java, Indonesia
Penulis: Rizky Yudha Hardiansyah, Hanie Teki Tjendani, Sajiyo
Jurnal: International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Volume 4 Nomor 6, Tahun 2026
DOI: 10.59890/ijatss.v4i6.245

0 Komentar