![]() |
| Illustration by Ai |
Teknologi IoT Bantu Pantau Rumah Pasien TBC di Muaro Jambi Secara Real-Time
Peneliti dari Poltekkes Kemenkes Jambi berhasil mengembangkan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi lingkungan rumah pasien tuberkulosis (TBC) secara real-time. Teknologi ini mampu mengukur tingkat kelembapan, pencahayaan, dan suhu ruangan yang selama ini diketahui berperan penting dalam penyebaran penyakit TBC di lingkungan rumah tangga.
Penelitian ini dilakukan oleh Zunidra dan Emilia Chandra dari Poltekkes Kemenkes Jambi dan dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Applied and Scientific Research (IJASR). Pengembangan teknologi ini dinilai penting karena kasus TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia, termasuk di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
TBC merupakan penyakit menular yang menyebar melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Selain faktor kesehatan individu, kondisi lingkungan rumah seperti ventilasi yang buruk, pencahayaan yang kurang, kelembapan tinggi, dan suhu ruangan yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit tersebut.
Menurut para peneliti, upaya pengendalian TBC selama ini lebih banyak berfokus pada pengobatan pasien. Padahal, pengawasan terhadap kondisi lingkungan rumah juga memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan.
Lingkungan Rumah Masih Menjadi Tantangan
Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Penyengat Olak, Kabupaten Muaro Jambi. Tim peneliti melakukan observasi, wawancara, serta pengukuran kondisi fisik rumah pasien TBC untuk mengetahui faktor lingkungan yang berpotensi mendukung penyebaran penyakit.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah pasien masih memiliki kondisi lingkungan yang belum memenuhi standar kesehatan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- 60% rumah pasien memiliki pencahayaan yang tidak memenuhi standar kesehatan.
- 73,34% rumah memiliki ventilasi kurang dari 10% luas lantai rumah.
- 60% rumah memiliki tingkat kelembapan yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
- 60% rumah memiliki suhu ruangan yang tidak sesuai standar kesehatan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa banyak pasien TBC tinggal di lingkungan yang berpotensi mendukung bertahannya bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab utama penyakit TBC.
Kurangnya sinar matahari yang masuk ke dalam rumah dapat mengurangi efek alami sinar ultraviolet dalam membunuh bakteri. Sementara itu, ventilasi yang buruk membuat sirkulasi udara tidak berjalan optimal sehingga bakteri dapat bertahan lebih lama di dalam ruangan.
Kelembapan yang tinggi dan suhu ruangan yang tidak ideal juga dapat memperburuk kualitas udara dalam rumah dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pernapasan.
Mengembangkan Sistem Pemantauan Berbasis IoT
Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti mengembangkan sebuah prototipe sistem pemantauan lingkungan berbasis IoT.
Perangkat ini menggunakan sensor DHT22 untuk mengukur suhu dan kelembapan udara serta sensor LDR (Light Dependent Resistor) untuk mengukur intensitas pencahayaan. Semua data yang diperoleh sensor kemudian dikirim secara otomatis ke platform berbasis web sehingga dapat dipantau secara real-time.
Melalui sistem ini, petugas kesehatan maupun keluarga pasien dapat mengetahui kondisi lingkungan rumah kapan saja tanpa harus melakukan pengukuran secara manual.
Keunggulan lain dari sistem yang dikembangkan adalah adanya fitur notifikasi otomatis. Sistem akan memberikan peringatan ketika suhu, kelembapan, atau pencahayaan berada di luar batas aman yang telah ditentukan.
Selain itu, data lingkungan juga tersimpan secara historis sehingga dapat digunakan untuk menganalisis pola kondisi rumah dari waktu ke waktu.
Dinyatakan Sangat Layak Digunakan
Sebelum diterapkan, prototipe tersebut terlebih dahulu melalui proses validasi oleh para ahli kesehatan, teknologi informasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Validator yang terlibat antara lain:
- Dr. Toto Sudargo, M.Kes. dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
- Ahmad Fadhil N., B.Sc.IT., M.Sc., Ph.D.(c) dari STIKes Keluarga Bunda Jambi.
- Dr. Hendriyanto, S.K.M., S.IP., M.Kes. sebagai praktisi pemberdayaan masyarakat.
Hasil validasi menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan dinilai layak digunakan untuk memantau kondisi lingkungan rumah pasien TBC.
Pada tahap uji coba pengguna, perangkat memperoleh skor kelayakan sebesar 93,85 persen, yang masuk dalam kategori "sangat layak". Hasil ini menunjukkan bahwa pengguna dapat memahami dan mengoperasikan perangkat dengan baik.
Menurut peneliti, integrasi teknologi IoT dengan pemantauan lingkungan rumah berpotensi memperkuat sistem surveilans kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan angka kasus TBC yang masih tinggi.
Potensi Mendukung Pencegahan TBC
Penggunaan teknologi IoT dalam bidang kesehatan terus berkembang di berbagai negara. Namun, penerapannya untuk pemantauan lingkungan rumah pasien TBC masih relatif terbatas, khususnya di negara berkembang.
Melalui penelitian ini, Zunidra dan Emilia Chandra menunjukkan bahwa teknologi sederhana dan terjangkau dapat dimanfaatkan untuk membantu pencegahan penyakit menular.
Sistem yang dikembangkan tidak hanya membantu petugas kesehatan memperoleh data secara cepat, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan rumah.
Peneliti menilai bahwa pemantauan kondisi fisik rumah secara berkelanjutan dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan TBC yang lebih komprehensif. Dengan mengetahui kondisi kelembapan, suhu, dan pencahayaan secara real-time, tindakan perbaikan lingkungan dapat dilakukan lebih cepat sebelum risiko penularan meningkat.
Ke depan, tim peneliti merekomendasikan pengembangan sistem dengan menambahkan aplikasi seluler, fitur notifikasi yang lebih canggih, serta integrasi parameter lingkungan lainnya agar manfaat teknologi semakin luas.

0 Komentar