Dramaturgi Tubuh dalam Ritual Turuk Laggai Mentawai: Antara Spiritualitas dan Pengetahuan Ekologis

Ilustrasi by AI

Ritual Turuk Laggai dari komunitas Mentawai bukan sekadar tarian tradisional, melainkan praktik performatif kompleks yang menghubungkan manusia dengan leluhur dan alam. Penelitian yang dilakukan oleh Dian Permata Sari, Zulfardi Darussalam, Afifuddin, Rasyidin, dan Haria Nanda Pratama dari Institut Seni Budaya Indonesia Aceh serta Universitas Pamulang pada Februari 2026 ini mengungkap bagaimana tubuh Sikerei (dukun Mentawai) berfungsi sebagai media simbolis dalam ritual Pabetei.

Pergeseran Fungsi Ritual di Era Modern

Selama ini, Turuk Laggai sering dipandang hanya dari sudut pandang antropologi budaya atau kepercayaan Arat Sabulungan. Namun, perkembangan industri pariwisata budaya telah menggeser fungsi ritual ini dari praktik sakral menjadi sekadar tontonan wisata. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan memosisikan Turuk Laggai sebagai dramaturgi tubuh yang mengintegrasikan gerak, musik Gajeuma, dan pengalaman spiritual dalam satu kesatuan estetika pertunjukan.

Metodologi Pendekatan Performatif

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi performa (performance studies). Data dikumpulkan melalui studi literatur dan dokumentasi audiovisual mengenai praktik ritual Pabetei. Peneliti melakukan analisis deskriptif-interpretatif terhadap pola gerak tubuh Sikerei, struktur ritual, serta hubungan simbolis antara manusia dan alam yang terkandung dalam setiap gerak tubuh.

Temuan Utama: Tubuh sebagai Arsip Budaya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Turuk Laggai memiliki dimensi performatif yang mendalam:

  • ·         Tubuh sebagai Media Spiritual: Tubuh Sikerei bertransformasi dari biologis menjadi performatif, berfungsi sebagai medium komunikasi dengan roh leluhur melalui ritme tubuh yang repetitif dan kondisi trance.
  • ·         Mimesis sebagai Pengetahuan Ekologis: Gerak tubuh meniru perilaku hewan seperti monyet dan burung bukan sekadar imitasi, melainkan representasi pengalaman ekologis masyarakat Mentawai terhadap hutan.
  • ·         Total Performance: Ritual ini merupakan pertunjukan total yang menyatukan elemen visual, auditori (Gajeuma), dan emosional dalam ruang sakral uma (rumah adat).
  • ·         Tubuh sebagai Arsip: Gerak tubuh dalam Turuk Laggai menyimpan memori kolektif dan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi melalui praktik performatif.

Pentingnya Pelestarian Pengetahuan Lokal

Penelitian ini menegaskan bahwa Turuk Laggai adalah instrumen krusial bagi identitas sosial masyarakat Mentawai. Dengan memahami ritual ini sebagai praktik performatif, masyarakat dan pemangku kebijakan diharapkan tidak hanya melihatnya sebagai komoditas wisata, tetapi sebagai mekanisme budaya yang menjaga hubungan harmonis antara manusia, spiritualitas, dan lingkungan. Studi ini berkontribusi pada pengembangan ilmu seni pertunjukan ritual yang memandang tubuh sebagai ruang produksi makna dan memori budaya.

Profil Penulis:

  • Dian Permata Sari, S.Sn., M.Sn. –  Institut Seni Budaya Indonesia Aceh; bidang keahlian: Studi Performa dan Teater Ritual.
  • Zulfardi Darussalam – Universitas Pamulang; bidang keahlian: Sastra dan Budaya.
  • Afifuddin, Rasyidin, Haria Nanda Pratama – Institut Seni Budaya Indonesia Aceh; bidang keahlian: Seni Pertunjukan dan Dramaturgi.

Sumber Penelitian:

Sari, D. P., Darussalam, Z., Afifuddin, Rasyidin, & Pratama, H. N. (2026). "Ritual Body Dramaturgy in Turuk Laggai in the Pabetei Ritual of the Mentawai Community". Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), 5(1), 57-70. 

DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i1.16610

URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/jldl

 


Posting Komentar

0 Komentar