Palu, Indonesia — Kelapa yang selama ini hanya dianggap bahan dapur ternyata bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi perempuan. Temuan ini muncul dari program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Sitti Rahmawati dari Universitas Tadulako, yang memperkenalkan peluang usaha Virgin Coconut Oil (VCO) tradisional kepada kelompok perempuan Majelis Ta’lim di Pondok Pesantren Ummul Khaerat, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) tahun 2026 dan menyoroti bagaimana keterampilan sederhana mengolah minyak kelapa murni dapat menjadi jalan alternatif untuk meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus mendukung kesehatan masyarakat.
Di Sulawesi Tengah, kelapa merupakan salah satu komoditas unggulan dengan luas lahan lebih dari 208 ribu hektare dan produksi mencapai lebih dari 163 juta kilogram per tahun. Namun, potensi besar ini dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal, terutama dalam bentuk produk turunan bernilai tinggi.
Padahal, dibanding minyak kelapa biasa, VCO memiliki nilai jual lebih tinggi, masa simpan lebih lama, dan manfaat kesehatan yang lebih luas. Produk ini dikenal mengandung asam laurat tinggi yang berfungsi sebagai antibakteri, antivirus, dan antioksidan.
Melihat potensi itu, Sitti Rahmawati bersama tim pengabdian masyarakat memilih memberdayakan perempuan di lingkungan pesantren sebagai target utama pelatihan.
Sebanyak 25 santri perempuan mengikuti pelatihan yang berlangsung selama satu hari, dengan rangkaian persiapan dan pendampingan selama dua bulan, dari Juli hingga Agustus.
Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan cara membuat VCO, tetapi juga memperkenalkan analisis biaya usaha, strategi pemasaran, dan peluang bisnis rumahan berbasis produk kesehatan.
Proses pembuatan VCO yang diajarkan tergolong sederhana dan masih menggunakan alat-alat rumah tangga biasa. Kelapa tua diparut, diperas menjadi santan, didiamkan beberapa jam untuk memisahkan lapisan krim, lalu difermentasi hingga menghasilkan minyak murni.
Dalam praktiknya, 15 butir kelapa dapat menghasilkan sekitar lima botol VCO siap jual.
Menurut Rahmawati, kesederhanaan proses ini menjadi salah satu keunggulan utama. Bahan baku mudah didapat, biaya produksi rendah, dan teknologi yang dibutuhkan tidak rumit.
Hal ini membuat usaha VCO dinilai cocok dikembangkan sebagai bisnis rumahan, terutama bagi perempuan di pedesaan atau kawasan dengan akses kerja terbatas.
Hasil pelatihan menunjukkan para peserta mampu memahami seluruh tahapan produksi dan mempraktikkannya secara langsung. Antusiasme peserta juga terlihat tinggi, terutama ketika mengetahui bahwa VCO dapat dijual sebagai produk kesehatan, kosmetik, maupun suplemen makanan.
Selain nilai ekonomi, VCO juga diperkenalkan sebagai produk yang memiliki manfaat kesehatan seperti membantu meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan infeksi kulit, mengatasi batuk, serta mendukung pengobatan alternatif.
Dalam artikel ini juga disebutkan bahwa VCO telah banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik di berbagai negara karena sifat antiinflamasi dan antimikrobanya.
Bagi masyarakat Palu, program ini memiliki dampak ganda. Di satu sisi, perempuan memperoleh keterampilan baru yang berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga. Di sisi lain, pemanfaatan kelapa lokal dapat memperkuat ekonomi desa melalui produk bernilai tambah.
Rahmawati menilai pemberdayaan perempuan melalui jalur ekonomi kreatif seperti ini dapat menjadi strategi efektif untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Dengan keterampilan produksi yang sederhana dan pasar kesehatan alami yang terus tumbuh, peluang bisnis VCO dinilai cukup menjanjikan, terutama di era meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk herbal dan organik.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya bisa menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya perempuan muda.
Jika model pelatihan seperti ini diperluas ke wilayah lain, potensi ekonomi berbasis kelapa di Indonesia bisa berkembang lebih besar dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat akar rumput.
0 Komentar