Paradoks Loyalitas: Mengapa Pemimpin Inspiratif Bisa Memicu Perilaku Tidak Etis?

Ilustrasi by AI

Meskipun kepemimpinan transformasional sering dipuji karena mampu meningkatkan kinerja dan membangun semangat tim, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan ini bisa menjadi "pisau bermata dua" di dalam institusi publik. Penelitian yang dilakukan oleh Puti Lenggogeni dan Syahrizal dari Universitas Negeri Padang, yang diterbitkan pada tahun 2026, menyoroti bagaimana gaya kepemimpinan ini secara tidak sengaja dapat mendorong Unethical Pro-organizational Behavior (UPB)—yaitu tindakan yang melanggar etika atau norma sosial, namun dilakukan oleh karyawan dengan niat untuk memberikan manfaat bagi organisasi.

Studi: Dinamika di Kantor Pajak

Penelitian ini berfokus pada 234 pegawai pajak di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumatera Barat dan Jambi. Di tengah upaya nasional untuk memprioritaskan integritas, studi ini bertujuan untuk memahami mengapa beberapa kantor pelayanan pajak kesulitan mencapai target integritas mereka. Temuan menunjukkan bahwa ketika pemimpin transformasional menetapkan ekspektasi kinerja yang sangat tinggi, mereka mungkin menciptakan tekanan intens yang mendorong bawahan untuk memandang tindakan tidak etis—seperti manipulasi administratif atau menutupi informasi negatif—sebagai "strategi bertahan hidup" untuk menunjukkan loyalitas dan memenuhi target institusi.

Temuan Utama

Studi ini mengidentifikasi beberapa dinamika krusial terkait pengaruh kepemimpinan terhadap perilaku karyawan:

·         Dampak Kepemimpinan terhadap Loyalitas: Kepemimpinan transformasional secara signifikan meningkatkan identifikasi organisasi, membentuk ikatan emosional yang kuat di mana karyawan menghubungkan harga diri pribadi mereka dengan kesuksesan organisasi.

·         Efek Mediasi: Perasaan satu kesatuan ini bertindak sebagai katalis; ketika karyawan semakin kuat mengidentifikasikan diri dengan institusi, mereka cenderung merasionalisasi pelanggaran moral sebagai bentuk pengabdian kepada organisasi.

·         Gagalnya Identitas Moral sebagai Pelindung: Berlawanan dengan ekspektasi, studi ini menemukan bahwa "identitas moral" pribadi seseorang—komitmen internal terhadap kejujuran dan keadilan—gagal menghentikan karyawan untuk melakukan UPB. Dalam lingkungan dengan tekanan tinggi, keinginan untuk mencapai target organisasi dapat mengesampingkan nilai-nilai etika individu.

Implikasi Praktis

Para peneliti memperingatkan bahwa sistem manajemen kinerja saat ini yang hanya berfokus pada target pendapatan mungkin secara tidak sengaja memberikan insentif bagi jalan pintas yang tidak etis. Untuk membangun budaya integritas yang nyata, para peneliti merekomendasikan:

·         Menyeimbangkan Metrik: Evaluasi kinerja harus mengintegrasikan "indikator proses etis" di samping target pendapatan akhir, dengan memberikan bobot yang setara pada bagaimana tujuan tersebut dicapai.

·         Mendefinisikan Ulang Loyalitas: Komunikasi kepemimpinan harus bergeser untuk menekankan bahwa bentuk loyalitas organisasi yang utama adalah menjaga reputasi dan integritas jangka panjang institusi, bukan sekadar mencapai target jangka pendek melalui cara-cara yang meragukan.

Profil Penulis:

  • Puti Lenggogeni - Universitas Negeri Padang.
  • Syahrizal - Universitas Negeri Padang.

Sumber:

Lenggogeni, P., & Syahrizal. (2026). The Loyalty Paradox: Why Do Inspirational Leaders Trigger Ethical Deviance? A Study on Unethical Pro-Organizational Behavior. International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), 5(3), 859-870.

 DOI: https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i3.29

Posting Komentar

0 Komentar