Temuan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan reformasi birokrasi dan pelayanan publik yang semakin cepat. Banyak lembaga pemerintah menghadapi tantangan menjaga konsistensi kinerja, termasuk tekanan untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi, kebijakan, serta kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Penelitian ini berangkat dari kondisi BPPK yang mengalami tren penurunan performa organisasi pada periode 2022–2024. Menurut penulis, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan sistem kerja, tetapi juga bagaimana pengetahuan dimiliki, disimpan, dibagikan, dan digunakan oleh pegawai dalam aktivitas sehari-hari.
Mandon Febriyanto dan Nidya Dudija menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan aset strategis organisasi. Ketika informasi, pengalaman, dan keahlian pegawai dapat diakses serta dibagikan secara sistematis, lembaga memiliki kemampuan lebih baik untuk mengambil keputusan, mengurangi pekerjaan yang berulang, dan mempercepat penyelesaian tugas.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 276 pegawai BPPK dari unit Eselon II dan Eselon III. Data dikumpulkan melalui survei digital menggunakan 47 pertanyaan tertutup berbasis skala Likert dan dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengukur hubungan antara manajemen pengetahuan, organisasi pembelajar, dan kinerja organisasi secara simultan.
Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara ketiga variabel tersebut.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Manajemen pengetahuan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja organisasi.
- Manajemen pengetahuan juga secara kuat mendorong terbentuknya organisasi pembelajar.
- Budaya organisasi pembelajar terbukti meningkatkan performa lembaga.
- Organisasi pembelajar berperan sebagai mediator penting yang memperkuat dampak manajemen pengetahuan terhadap kinerja.
Secara statistik, pengaruh manajemen pengetahuan terhadap organisasi pembelajar tercatat sangat tinggi dengan koefisien 0,833. Pengaruh langsung manajemen pengetahuan terhadap kinerja organisasi mencapai 0,594, sedangkan pengaruh organisasi pembelajar terhadap kinerja berada pada angka 0,304. Selain itu, efek mediasi organisasi pembelajar menunjukkan nilai signifikan sebesar 0,253.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sistem manajemen pengetahuan saja belum cukup menghasilkan kinerja optimal. Pengetahuan yang tersimpan di dalam organisasi memerlukan budaya belajar yang aktif agar dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan pelayanan publik yang lebih efektif.
Penelitian juga memperlihatkan bahwa model analisis yang digunakan memiliki kekuatan prediksi tinggi. Nilai R-square mencapai 0,694 untuk organisasi pembelajar dan 0,746 untuk kinerja organisasi. Artinya, sebagian besar variasi kinerja BPPK dapat dijelaskan oleh kombinasi manajemen pengetahuan dan budaya belajar organisasi.
Mandon Febriyanto dan Telkom University menekankan bahwa organisasi pembelajar berfungsi sebagai jembatan perilaku yang mengubah pengetahuan menjadi performa institusional. Dalam konteks birokrasi pemerintah, pengetahuan tidak otomatis menghasilkan pelayanan yang lebih baik apabila tidak disertai ruang dialog, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan.
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi lembaga pemerintah maupun organisasi publik lainnya di Indonesia. Institusi tidak cukup hanya membangun database atau sistem dokumentasi digital, tetapi juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendorong pegawai berdiskusi, berbagi pengalaman, dan belajar bersama.
Penulis merekomendasikan pengembangan repositori digital terintegrasi, protokol dokumentasi yang standar, serta pelaksanaan evaluasi pasca-kegiatan dan dialog lintas unit secara rutin. Langkah tersebut dinilai dapat mempercepat transformasi birokrasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagi pembuat kebijakan, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa reformasi birokrasi tidak hanya berbicara mengenai regulasi dan teknologi, tetapi juga investasi pada budaya belajar organisasi.
Profil Penulis
Mandon Febriyanto merupakan peneliti dari School of Economics and Business, Telkom University, Bandung, dengan fokus kajian pada manajemen pengetahuan, organisasi pembelajar, dan kinerja organisasi sektor publik.
Dr. Nidya Dudija, S.Psi., M.A. adalah akademisi di School of Economics and Business, Telkom University, yang memiliki keahlian pada bidang manajemen sumber daya manusia strategis dan perilaku organisasi.
0 Komentar