![]() |
| Illustration by Ai |
Model Green Port Terintegrasi Dinilai Kunci Pelabuhan Berkelanjutan di Indonesia
Pelabuhan Indonesia membutuhkan tata kelola yang lebih terintegrasi agar mampu meningkatkan efisiensi logistik sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Temuan tersebut disampaikan dalam penelitian yang dilakukan Taufik Akbar, Dedi Purwana, dan Herlitah dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang dipublikasikan pada tahun 2026. Studi ini merumuskan Model Green Port Terintegrasi sebagai kerangka pengelolaan pelabuhan berkelanjutan yang menggabungkan infrastruktur ramah lingkungan, digitalisasi operasional, dan tata kelola kolaboratif.
Hasil penelitian menjadi penting karena pelabuhan merupakan tulang punggung sistem logistik nasional. Di Indonesia, lebih dari 17.000 pulau bergantung pada konektivitas maritim untuk mendukung distribusi barang, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, aktivitas pelabuhan juga menghasilkan emisi, limbah, pencemaran udara, serta tekanan terhadap ekosistem pesisir.
Menurut para peneliti, pengembangan Green Port tidak dapat hanya berfokus pada satu aspek seperti pengurangan emisi atau digitalisasi dokumen. Dibutuhkan pendekatan yang menyatukan seluruh elemen pelabuhan agar pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pelabuhan Indonesia Masih Menghadapi Tantangan Besar
Penelitian mencatat biaya logistik nasional masih berada pada kisaran 23 hingga 27 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN yang berada di sekitar 15 persen.
Tingginya biaya logistik dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- Efisiensi operasional yang belum optimal
- Infrastruktur pendukung yang belum merata
- Proses birokrasi yang kompleks
- Digitalisasi yang belum sepenuhnya terintegrasi
- Koordinasi antarlembaga yang masih terbatas
Di saat yang sama, tuntutan global terhadap pelabuhan yang lebih ramah lingkungan terus meningkat seiring upaya dunia menghadapi perubahan iklim dan target pengurangan emisi karbon.
Sejumlah pelabuhan internasional telah membuktikan bahwa konsep Green Port mampu meningkatkan daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Pelabuhan Rotterdam di Belanda misalnya berhasil mengintegrasikan energi bersih, digitalisasi, dan tata kelola transparan. Sementara Pelabuhan Los Angeles dikenal melalui program pengendalian emisi dan keterlibatan masyarakat sekitar.
Indonesia juga mulai menerapkan berbagai inisiatif Green Port, namun implementasinya masih bersifat parsial dan belum menjadi standar nasional yang terukur.
Mengkaji Dua Pelabuhan dengan Karakter Berbeda
Untuk menyusun model yang sesuai dengan kondisi Indonesia, tim peneliti melakukan kajian di dua lokasi yang memiliki karakteristik berbeda.
Lokasi pertama adalah Pelabuhan Benoa di Bali yang dikelola PT Pelindo Regional 3 dan berfungsi sebagai pelabuhan komersial sekaligus destinasi kapal wisata.
Lokasi kedua adalah Tanjung Batu Shore Base di Balikpapan yang dikelola Pertamina Transkontinental sebagai basis logistik industri energi dan migas.
Penelitian melibatkan 60 responden yang terdiri atas pengelola pelabuhan, regulator, operator logistik, pejabat pemerintah, akademisi, hingga praktisi maritim. Data diperoleh melalui wawancara, observasi lapangan, kuesioner, serta analisis dokumen kebijakan.
Para peneliti kemudian menguji hubungan antara tiga dimensi utama Green Port, yaitu:
- Infrastruktur berkelanjutan
- Efisiensi operasional dan digitalisasi
- Tata kelola kolaboratif
Infrastruktur Hijau Menjadi Fondasi Utama
Hasil penelitian menunjukkan kedua pelabuhan telah memulai berbagai program ramah lingkungan meskipun tingkat kematangannya berbeda.
Di Pelabuhan Benoa, sejumlah langkah yang telah diterapkan meliputi:
- Penggunaan lampu hemat energi
- Pemanfaatan panel surya di area administrasi
- Sistem pemilahan sampah
Namun pelabuhan ini masih belum memiliki fasilitas Onshore Power Supply (OPS) yang memungkinkan kapal memperoleh pasokan listrik dari daratan saat bersandar sehingga dapat mengurangi emisi mesin kapal.
Sementara itu, Tanjung Batu Shore Base telah memiliki:
- Instalasi pengolahan limbah cair
- Sistem penanganan tumpahan minyak
- Penerapan standar Health, Safety, Security, and Environment (HSSE)
Meski demikian, penggunaan energi terbarukan dan elektrifikasi peralatan pelabuhan masih berada dalam tahap pengembangan.
Peneliti menemukan bahwa investasi pada infrastruktur berkelanjutan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan efisiensi operasional dan daya saing pelabuhan.
Digitalisasi Mempercepat Efisiensi Operasional
Pada aspek operasional, kedua pelabuhan menunjukkan kemajuan melalui pemanfaatan teknologi digital.
Pelabuhan Benoa telah menggunakan sistem INAPORTNET untuk pelayanan dokumen dan perizinan elektronik. Namun sejumlah prosedur masih dilakukan secara manual sehingga proses koordinasi belum sepenuhnya efisien.
Di Tanjung Batu Shore Base, digitalisasi telah diterapkan pada pemantauan armada dan penjadwalan logistik secara real-time. Tingkat kematangan digital di lokasi ini dinilai lebih tinggi dibandingkan Benoa.
Analisis statistik menunjukkan bahwa adopsi teknologi memberikan manfaat nyata berupa:
- Pengurangan waktu pelayanan
- Peningkatan transparansi
- Efisiensi penggunaan sumber daya
- Percepatan koordinasi antarunit kerja
Menurut Taufik Akbar dan tim peneliti dari Universitas Negeri Jakarta, keberhasilan digitalisasi sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen serta kemampuan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi baru.
Tata Kelola Kolaboratif Jadi Faktor Penentu
Penelitian juga menemukan bahwa keberhasilan Green Port tidak hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur.
Tata kelola yang melibatkan pemerintah, operator pelabuhan, sektor swasta, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program.
Di Pelabuhan Benoa, koordinasi melibatkan pemerintah daerah, Pelindo, operator kapal pesiar, serta berbagai instansi terkait. Namun masih ditemukan tantangan berupa tumpang tindih regulasi dan koordinasi antarotoritas.
Sementara di Tanjung Batu Shore Base, tata kelola lebih terpusat melalui sistem korporasi Pertamina. Model ini memberikan efisiensi pengambilan keputusan, tetapi partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan eksternal masih perlu diperkuat.
Hasil pengujian model menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara ketiga dimensi tersebut.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Infrastruktur berkelanjutan meningkatkan efisiensi operasional.
- Efisiensi operasional memperkuat kualitas tata kelola.
- Tata kelola yang baik mendukung keberlanjutan pelabuhan secara keseluruhan.
- Digitalisasi berperan sebagai penghubung utama antar seluruh dimensi.
Mendukung Target Net Zero Emission 2060
Penelitian ini menghasilkan Model Green Port Terintegrasi yang telah divalidasi bersama perwakilan Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, PT Pelindo, Pertamina Transkontinental, serta akademisi bidang maritim.
Model tersebut direkomendasikan sebagai acuan dalam penyusunan standar nasional Green Port di Indonesia.
Para peneliti menilai pemerintah perlu mempercepat penyusunan indikator Green Port nasional, memperluas penggunaan energi bersih, memperkuat integrasi sistem digital antarinstansi, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor kepelabuhanan.
Menurut tim peneliti Universitas Negeri Jakarta, pelabuhan hijau bukan sekadar tuntutan global, melainkan strategi nasional untuk membangun sektor maritim yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.
Apabila diterapkan secara konsisten, model ini berpotensi membantu Indonesia mencapai target Net Zero Emission 2060, sekaligus meningkatkan daya saing pelabuhan nasional di tingkat regional maupun global.
Penulis
Dedi Purwana
Herlitah
Sumber Penelitian
Penulis: Taufik Akbar, Dedi Purwana, dan Herlitah
Afiliasi: Universitas Negeri Jakarta
Jurnal: Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Volume dan Nomor: Vol. 6 No. 5
Tahun Publikasi: 2026
Halaman: 563–574
DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i5.46

0 Komentar