Penggunaan
model pembelajaran konflik kognitif yang dipadukan dengan simulasi PhET
terbukti efektif mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman konsep sains
siswa sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan oleh Muhammad Ikhsan Sukaria dan
Nursalim dari Universitas Negeri Makassar pada tahun 2026 di SD Inpres 12/79
Macanang. Temuan ini menjadi solusi penting bagi tantangan pengajaran konsep
sains yang bersifat abstrak.
Mengatasi Kendala Konsep Abstrak
dalam Sains
Pembelajaran
sains sering menghadapi kendala ketika siswa kesulitan memahami konsep yang
tidak terlihat langsung, seperti gaya dan gerak. Siswa kerap membawa pemahaman
awal yang tidak selaras dengan kaidah ilmiah dari pengalaman sehari-hari, yang
jika dibiarkan dapat menjadi miskonsepsi. Penjelasan verbal atau hafalan
definisi statis sering kali gagal memperbaiki struktur kognitif siswa yang
keliru.
Metodologi Pembelajaran
Penelitian
ini menggunakan metode kuasi-eksperimen dengan desain kelompok kontrol yang
tidak setara. Siswa kelas VB menjadi kelompok eksperimen yang diajar
menggunakan model konflik kognitif berbantuan simulasi PhET, sementara kelas VA
bertindak sebagai kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional. Proses
pembelajaran dalam kelas eksperimen meliputi lima tahap: memunculkan konsepsi
awal, menyajikan situasi konflik kognitif, eksplorasi konsep melalui simulasi
PhET, diskusi dan rekonstruksi konsep, serta refleksi.
Temuan Utama
Hasil
evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok eksperimen
dibandingkan kelompok kontrol:
·
Reduksi Miskonsepsi: Tingkat
miskonsepsi pada kelas eksperimen turun drastis dari 62,50% menjadi 24,30%,
sedangkan kelas kontrol hanya turun dari 60,80% menjadi 43,70%.
·
Peningkatan Pemahaman: Skor rata-rata
pemahaman konsep kelas eksperimen meningkat dari 46,25 menjadi 81,40, dengan
skor N-Gain sebesar 0,65.
·
Keunggulan Model: Simulasi PhET memungkinkan siswa
melakukan eksperimen virtual yang aman dan visual, sehingga mampu
memperlihatkan perbedaan nyata antara prediksi awal siswa dengan bukti ilmiah
yang terjadi di simulasi.
Dampak dan Implikasi
Model
pembelajaran ini menawarkan strategi alternatif yang interaktif dan bermakna
bagi pengajaran sains. Dengan menggunakan simulasi PhET, siswa tidak lagi
sekadar menghafal, tetapi terlibat aktif dalam proses berpikir ilmiah yang
menuntut mereka mengevaluasi kembali keyakinan awal mereka. Menurut Muhammad
Ikhsan Sukaria dan Nursalim, integrasi ini membantu siswa membangun pemahaman
konsep yang lebih stabil dan sesuai dengan kaidah ilmiah melalui bukti visual
yang manipulatif.
Profil
Penulis:
Muhammad Ikhsan Sukaria dan Nursalim adalah akademisi dari Program Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Makassar, yang
berfokus pada inovasi strategi pembelajaran sains dan pemecahan miskonsepsi di
tingkat sekolah dasar.
Sumber
Penelitian:
0 Komentar