Memperkuat Keterampilan Pemecahan Masalah Ekologis Siswa melalui Manajemen Pembelajaran E-Modul Pro-STEM ESD Berbasis Mangrove

Ilustrasi by AI


FORMOSA NEWS

Di tengah tuntutan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable education), literasi lingkungan menjadi kompetensi krusial yang harus dimiliki siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Edi Syahputra dan Sabar Nurrohman dari Universitas Negeri Yogyakarta pada Juni 2026 ini mengeksplorasi bagaimana ekosistem mangrove dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran yang efektif untuk melatih keterampilan pemecahan masalah ekologis melalui pendekatan Pro-STEM ESD (Education for Sustainable Development).

Latar Belakang dan Tujuan

Kurikulum pendidikan modern dituntut untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual. Ekosistem mangrove dipilih sebagai fokus penelitian karena memuat isu-isu kompleks seperti konservasi, biodiversitas, dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis bukti empiris mengenai pembelajaran ekologis, pemanfaatan e-module, serta pendekatan STEM/STEAM dan ESD untuk merancang model manajemen pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah lingkungan.

Metode Kajian Sistematis

Peneliti menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui basis data Scopus (publikasi tahun 2021-2026) yang berfokus pada integrasi STEM dan ESD dalam pembelajaran berbasis konteks lingkungan.

Temuan Utama: Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor kunci keberhasilan integrasi pembelajaran ini:

  • Ekosistem Mangrove sebagai Laboratorium Hidup: Mangrove menyediakan konteks nyata yang memungkinkan siswa menerapkan keterampilan pemecahan masalah ekologis secara langsung.

  • Integrasi Pro-STEM dan ESD: Pendekatan Pro-STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang dipadukan dengan prinsip Education for Sustainable Development (ESD) membantu siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menciptakan solusi inovatif terhadap tantangan keberlanjutan.

  • Peran E-Module: E-module berfungsi sebagai media pembelajaran mandiri yang interaktif, yang memungkinkan siswa mengeksplorasi isu lingkungan sesuai dengan kecepatan belajar mereka sendiri.

  • Keterampilan Pemecahan Masalah Ekologis: Pendekatan ini terbukti efektif dalam melatih siswa berpikir kritis untuk merumuskan, menganalisis, dan mencari solusi atas masalah-masalah ekologis di lingkungan sekitar mereka.

Implikasi bagi Praktik Pendidikan

Penulis menyarankan beberapa langkah strategis bagi guru dan pengembang kurikulum:

  1. Pengembangan E-Module Interaktif: Guru perlu dilatih untuk menyusun e-module yang memadukan konten sains dengan isu lingkungan nyata di daerah masing-masing.

  2. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Mendorong siswa untuk terjun langsung atau mensimulasikan pemecahan masalah nyata pada ekosistem lokal (seperti mangrove).

  3. Penguatan Literasi Ekologis: Pendidikan tidak boleh terbatas pada teks di kelas, tetapi harus menekankan pada pengembangan kepekaan siswa terhadap isu keberlanjutan global dan lokal.

Profil Penulis:

  • Edi Syahputra – Peneliti, Universitas Negeri Yogyakarta.

  • Sabar Nurrohman – Peneliti, Universitas Negeri Yogyakarta.

Sumber Penelitian: Syahputra, E., & Nurrohman, S. (2026). "Strengthening Students' Ecological Problem-Solving Skills through Mangrove-Based Pro-STEM ESD E-Module Learning Management". International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), 4(6), 743-752.

DOI: 

https://doi.org/10.59890/ijels.v4i6.20

Posting Komentar

0 Komentar