Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran lingkungan pada masyarakat, terutama generasi muda, melalui komunikasi yang efektif? Penelitian yang dilakukan oleh Antry Salikandi dan tim dari Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia pada Mei 2026 menyoroti peran strategis komunikasi lingkungan dalam program pelestarian sungai. Studi ini secara khusus membedah efektivitas program "Saturday River School" di RW 05 Lio Genteng, Bandung, sebagai model edukasi yang mampu mendorong partisipasi aktif masyarakat.
Strategi Komunikasi Berbasis Edukasi Interaktif
Masalah kebersihan sungai sering kali berakar dari rendahnya kesadaran masyarakat akan dampak sampah terhadap lingkungan. Penelitian ini menemukan bahwa pendekatan komunikasi satu arah atau sekadar imbauan formal kurang efektif dalam mengubah perilaku. Sebaliknya, program Saturday River School menggunakan strategi yang lebih menyentuh aspek emosional dan kognitif melalui:
- Storytelling (Bercerita): Menyampaikan nilai-nilai pelestarian melalui narasi yang menarik bagi anak-anak.
- Role-playing (Bermain Peran): Melibatkan siswa untuk mensimulasikan peran sebagai pelindung lingkungan.
- Aksi Lapangan (Community Clean-up): Mengajak masyarakat dan anak-anak terjun langsung dalam kegiatan bersih-bersih sungai, sehingga terjadi pengalaman belajar yang nyata.
- Media Visual Sederhana: Penggunaan alat bantu visual yang mudah dipahami untuk menjelaskan isu kebersihan dan pengelolaan sampah.
Pendekatan Kualitatif dan Studi Kasus
Peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang mendalam, mencakup wawancara, observasi partisipatif, serta dokumentasi. Melalui metode ini, peneliti tidak hanya memotret hasil akhir program, tetapi juga memahami proses perubahan perilaku masyarakat dan bagaimana strategi komunikasi yang mereka terapkan mampu diterima secara budaya oleh warga di Lio Genteng.
Temuan Utama: Efektivitas Komunikasi yang Inklusif
Penelitian ini menghasilkan beberapa poin penting mengenai faktor keberhasilan konservasi sungai:
- Penggunaan Bahasa Lokal/Kultur: Strategi komunikasi lebih efektif ketika menggunakan bahasa yang akrab secara kultural dan pendekatan edukasi yang interaktif.
- Perubahan Perilaku: Metode edukasi yang kreatif terbukti efektif meningkatkan kesadaran lingkungan anak-anak, yang kemudian berdampak pada perubahan perilaku menjaga kebersihan sungai dan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
- Pemberdayaan Partisipasi: Program ini berhasil memperkuat partisipasi masyarakat karena warga tidak hanya diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai bagian aktif dalam aksi lingkungan.
Dampak bagi Kebijakan Lingkungan
Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan upaya konservasi lingkungan tidak hanya bergantung pada regulasi pemerintah, melainkan sangat ditentukan oleh bagaimana isu lingkungan dikomunikasikan kepada masyarakat akar rumput. Bagi praktisi lingkungan dan pengambil kebijakan, temuan ini memberikan model yang dapat direplikasi: bahwa edukasi lingkungan harus dilakukan secara inklusif, berkelanjutan, dan relevan dengan realitas sosial budaya masyarakat setempat.
Profil Penulis:
- Antry Salikandi – Peneliti, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia.
- Shinta Hartini Putri – Peneliti, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia.
- Eriyanti Nurmala Dewi – Peneliti, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia.
- Anggita Lestari – Peneliti, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia.
Sumber Penelitian: Salikandi, A., Putri, S. H., Dewi, E. N., & Lestari, A. (2026). "Environmental Communication and Community Participation in River Conservation". International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), 4(5), 677-686.
0 Komentar