Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI) Volume 4 Nomor 3 Tahun 2026 ini dilakukan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kinerja aparatur sipil negara (ASN) bidang kesehatan di delapan puskesmas Kota Tegal. Temuan ini menjadi penting karena masih terdapat sejumlah indikator pelayanan kesehatan yang belum mencapai target nasional.
Cakupan Skrining Obesitas Masih Sangat Rendah
Data Dinas Kesehatan Kota Tegal tahun 2025 menunjukkan adanya kesenjangan capaian pelayanan kesehatan. Program skrining diabetes melitus telah mencapai 96,77 persen dan skrining hipertensi mencapai 83,46 persen, melampaui target yang ditetapkan. Namun, capaian skrining obesitas hanya mencapai 9,55 persen, jauh di bawah target nasional.
Selain itu, tingkat kepatuhan pengobatan penderita hipertensi di Kota Tegal baru mencapai 45 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan preventif dan promotif di tingkat puskesmas.
Menurut para peneliti, capaian yang belum optimal tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga berkaitan dengan kondisi internal organisasi, termasuk kualitas sumber daya manusia, budaya kerja, dan kepemimpinan.
Melibatkan Seluruh ASN Puskesmas Kota Tegal
Penelitian ini melibatkan seluruh ASN yang bekerja di delapan puskesmas Kota Tegal. Total sebanyak 200 tenaga kesehatan dijadikan responden melalui metode sensus sehingga seluruh populasi penelitian terwakili.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur persepsi responden terhadap kepemimpinan transformasional, kompetensi kerja, budaya organisasi, kepuasan kerja, dan kinerja. Hasilnya kemudian dianalisis untuk mengetahui hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat faktor mana yang paling kuat memengaruhi kinerja tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kompetensi Menjadi Faktor Paling Dominan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi tenaga kesehatan memiliki pengaruh paling besar terhadap peningkatan kinerja.
Tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan teknis, pengetahuan medis, dan keterampilan kerja yang baik cenderung mampu menjalankan prosedur pelayanan dengan lebih akurat, aman, dan efektif.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Kompetensi tenaga kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.
- Budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.
- Kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja tenaga kesehatan.
- Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja.
- Kompetensi tenaga kesehatan meningkatkan kepuasan kerja.
- Budaya organisasi meningkatkan kepuasan kerja.
- Kepuasan kerja memediasi hubungan antara kepemimpinan transformasional dan kinerja.
- Kepuasan kerja juga memediasi pengaruh kompetensi terhadap kinerja.
- Kepuasan kerja memediasi pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja.
- Kepemimpinan transformasional tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja tenaga kesehatan.
Dari seluruh variabel yang diteliti, kompetensi tenaga kesehatan menjadi faktor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan kinerja pelayanan kesehatan.
Kepemimpinan Tidak Langsung Mengubah Kinerja
Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah bahwa kepemimpinan transformasional tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja tenaga kesehatan.
Menurut Dinda Nia Susanti dan tim peneliti dari Universitas Pancasakti Tegal, tenaga kesehatan pada dasarnya memiliki standar profesional dan tanggung jawab moral yang tinggi terhadap pasien. Karena itu, perubahan gaya kepemimpinan tidak secara otomatis meningkatkan kualitas pelayanan klinis.
Namun demikian, kepemimpinan tetap memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung. Pemimpin yang mampu memberikan motivasi, perhatian, penghargaan, dan peluang pengembangan karier dapat meningkatkan kepuasan kerja pegawai.
Ketika tenaga kesehatan merasa dihargai dan didukung, mereka menjadi lebih termotivasi untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Budaya Organisasi Menciptakan Lingkungan Kerja yang Sehat
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya budaya organisasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Budaya kerja yang menekankan kolaborasi, saling mendukung, komunikasi terbuka, dan orientasi pelayanan publik mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan lebih fokus menjalankan tugasnya dan mengurangi risiko kesalahan pelayanan.
Para peneliti menjelaskan bahwa dalam lingkungan kerja yang positif, tenaga kesehatan tidak merasa bekerja sendirian. Dukungan antarprofesi dan kerja sama tim menjadi modal penting untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan di puskesmas.
Kepuasan Kerja Menjadi Penghubung Utama
Temuan penting lainnya adalah peran strategis kepuasan kerja sebagai jembatan antara berbagai faktor organisasi dengan kinerja pegawai.
Kepuasan kerja terbukti menjadi variabel yang menghubungkan kepemimpinan, kompetensi, dan budaya organisasi dengan peningkatan kinerja tenaga kesehatan.
Artinya, investasi pada pelatihan, pengembangan kompetensi, budaya kerja yang sehat, dan kepemimpinan yang suportif akan memberikan dampak lebih besar apabila diikuti dengan peningkatan kepuasan kerja pegawai.
Dalam konteks pelayanan kesehatan masyarakat, kepuasan kerja yang tinggi dapat mendorong tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih ramah, lebih teliti, dan lebih berorientasi pada keselamatan pasien.
Implikasi bagi Pelayanan Kesehatan Publik
Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi pemerintah daerah dan pengelola fasilitas kesehatan.
Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan berkelanjutan perlu menjadi prioritas utama karena terbukti memberikan dampak langsung terhadap kinerja pelayanan.
Selain itu, kepala puskesmas dan pimpinan organisasi kesehatan perlu membangun budaya kerja yang positif serta menerapkan pola kepemimpinan yang mampu meningkatkan kepuasan kerja pegawai.
Jika langkah tersebut dilakukan secara konsisten, kualitas pelayanan kesehatan masyarakat berpotensi meningkat dan membantu pencapaian target nasional, termasuk peningkatan cakupan skrining penyakit tidak menular dan kepatuhan pengobatan pasien.
Profil Penulis
Dinda Nia Susanti, S.K.M. merupakan peneliti dari Universitas Pancasakti Tegal yang memiliki minat penelitian pada bidang manajemen sumber daya manusia kesehatan, kinerja organisasi kesehatan, dan pengembangan pelayanan publik.
Penelitian ini dilakukan bersama:
- Dr. Ahmad Hanfan, S.E., M.M., Universitas Pancasakti Tegal, bidang Manajemen dan Perilaku Organisasi.
- Abdulloh Mubarok, S.E., M.M., Universitas Pancasakti Tegal, bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Pengembangan Organisasi.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Influence of Transformational Leadership, Health Worker Competence, and Organizational Culture on Health Worker Performance Through Job Satisfaction in All Community Health Centers in Tegal City
Penulis: Dinda Nia Susanti, Ahmad Hanfan, Abdulloh Mubarok
Afiliasi: Universitas Pancasakti Tegal
Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJBMI)
Volume dan Nomor: Vol. 4 No. 3 Tahun 2026
Halaman: 449–464
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i3.5
URL Jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi
Artikel ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas medis, tetapi juga pada kompetensi tenaga kesehatan, budaya organisasi yang sehat, dan kepuasan kerja yang mampu mendorong kinerja pelayanan secara berkelanjutan.
0 Komentar