Aklan, Filipina — Sistem Identitas Nasional atau National ID di Filipina terbukti mendapat tingkat kepuasan tinggi dari masyarakat, khususnya di Provinsi Aklan. Temuan ini diungkap dalam penelitian terbaru yang ditulis Niña Faye Culajara dan Jonna Torres dari Aklan State University dan dipublikasikan pada 2026. Studi ini menjadi penting karena National ID kini menjadi tulang punggung transaksi publik, layanan pemerintah, hingga akses ke sistem keuangan digital di Filipina.
National ID atau Philippine Identification System (PhilSys) dirancang sebagai identitas tunggal resmi bagi seluruh warga Filipina dan penduduk asing yang tinggal di negara tersebut. Sistem ini diharapkan mampu mempermudah akses layanan pemerintah, mempercepat proses administrasi, dan mendukung transformasi digital nasional menuju layanan tanpa kertas dan tanpa tatap muka.
Namun, implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai keluhan muncul, mulai dari keterlambatan distribusi kartu, kesalahan data pribadi, kualitas cetak kartu yang buruk, hingga kekhawatiran soal keamanan data pribadi. Di wilayah seperti Aklan, tantangan geografis juga membuat akses layanan menjadi lebih sulit.
Penelitian yang dilakukan Culajara dan Torres mencoba mengukur bagaimana warga benar-benar merasakan sistem ini dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian melibatkan 495 pengguna National ID yang tersebar di 17 kota dan kabupaten di Aklan, serta 20 informan tambahan dari kalangan pengguna dan lembaga yang menggunakan National ID sebagai alat verifikasi identitas. Pendekatan kuantitatif dan wawancara mendalam digunakan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh.
Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas warga merasa sangat puas terhadap sistem National ID. Tingkat kepuasan keseluruhan mencapai skor rata-rata 4,53 dari skala 5. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat menilai sistem ini sangat bermanfaat, cukup mudah digunakan, dan relatif aman.
Dalam aspek kegunaan, National ID dinilai efektif mempercepat transaksi di instansi pemerintah seperti bantuan sosial, layanan kesehatan, dan dokumen administrasi lainnya. Banyak warga merasa bahwa penggunaan satu kartu identitas membuat proses lebih praktis dan mengurangi biaya transportasi serta waktu antre.
Dari sisi kemudahan penggunaan, responden menilai pemerintah cukup berhasil dalam memberikan edukasi tentang manfaat National ID. Proses pendaftaran dianggap tertata, jelas, dan mudah dipahami. Banyak peserta penelitian menggambarkan pengalaman registrasi sebagai cepat dan terorganisir.
Meski begitu, penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan yang masih perlu diperbaiki. Gangguan sistem, koneksi internet yang lambat, keterlambatan pencetakan kartu, dan kesalahan data masih menjadi masalah utama. Kondisi ini lebih terasa di daerah terpencil yang akses infrastrukturnya terbatas.
Niña Faye Culajara dari Aklan State University menilai bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada penerimaan masyarakat, melainkan pada konsistensi kualitas layanan. Menurutnya, kepercayaan publik terhadap National ID akan semakin kuat jika pemerintah mampu menjaga akurasi data dan meningkatkan keamanan sistem.
Studi ini juga menemukan bahwa lembaga pengguna seperti bank, kantor pemerintah, koperasi, dan sektor swasta merasakan manfaat besar dari National ID karena mempercepat proses verifikasi identitas. Namun, mereka juga menyoroti pentingnya pelatihan staf agar proses verifikasi berjalan lebih lancar.
Temuan ini membawa dampak besar bagi kebijakan publik. Peneliti merekomendasikan penguatan integrasi digital antarinstansi, layanan pembaruan data bergerak untuk daerah terpencil, peningkatan kapasitas produksi kartu, serta kampanye edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Bagi Filipina, keberhasilan National ID tidak hanya soal administrasi, tetapi juga soal memperluas inklusi digital dan memperkuat kepercayaan publik terhadap layanan pemerintah. Studi ini menunjukkan bahwa sistem identitas nasional dapat menjadi fondasi penting dalam membangun pemerintahan digital yang lebih cepat, aman, dan inklusif.
0 Komentar