Kecelakaan
kerja di lingkungan laboratorium pendidikan bukanlah risiko teoritis semata,
melainkan ancaman nyata yang menuntut perbaikan sistem keselamatan yang
sistematis. Penelitian yang dilakukan oleh Novie Trisyani dan tim dari
Universitas Sam Ratulangi di Poltekkes Kemenkes Manado pada Desember 2025
hingga Februari 2026 ini mengungkapkan bahwa faktor perilaku dan kondisi
lingkungan kerja menjadi penentu utama keselamatan mahasiswa. Hasil penelitian
ini menegaskan perlunya pergeseran paradigma dari sekadar meningkatkan
pengetahuan individu menuju penguatan manajemen keselamatan berbasis sistem.
Latar Belakang dan Metodologi
Laboratorium
kesehatan merupakan lingkungan dengan risiko bahaya tinggi, mulai dari paparan
bahan kimia hingga benda tajam. Meskipun fungsi utamanya adalah untuk
pembelajaran, kurangnya standar keamanan yang diterapkan seringkali memicu
kecelakaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional
dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 111
mahasiswa tingkat II sebagai responden. Peneliti mengevaluasi pengaruh
kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan ketersediaan infrastruktur
keselamatan kerja terhadap angka kecelakaan kerja selama enam bulan terakhir.
Temuan Utama
Data
menunjukkan bahwa sebanyak 33,3% responden pernah mengalami kecelakaan kerja
selama praktikum, dengan jenis kecelakaan yang paling dominan adalah paparan inhalasi
bahan kimia (51,4%), disusul oleh terpeleset (29,7%) dan tersengat listrik
(24,3%). Temuan signifikan lainnya meliputi:
·
Faktor Perilaku: Rendahnya kepatuhan penggunaan APD
meningkatkan risiko kecelakaan kerja hingga 1,4 kali lipat ($p=0,036$).
·
Faktor Lingkungan: Ketersediaan
fasilitas Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang tidak memadai juga
berkontribusi meningkatkan risiko kecelakaan hingga 1,4 kali lipat ($p=0,018$).
Implikasi dan Dampak
Penelitian
ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap yang baik saja tidak cukup untuk
mencegah kecelakaan jika tidak didukung oleh lingkungan kerja yang aman. Novie
Trisyani dan tim menekankan bahwa laboratorium pendidikan harus segera
menerapkan sistem "tanpa APD, tanpa akses lab" (no PPE, no lab
access) untuk menjamin disiplin mahasiswa. Selain itu, pihak institusi
perlu melakukan audit keselamatan berkala dan menstandarisasi fasilitas K3
sesuai praktik terbaik internasional. Pendekatan berbasis sistem ini tidak
hanya bertujuan mengurangi risiko cedera, tetapi juga membentuk kompetensi
keselamatan kerja yang krusial bagi calon tenaga kesehatan sejak masa
pendidikan.
Profil
Penulis:
- Novie
Trisyani - Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi
- Jehosua
Samratson Victor Sinolungan- Universitas Sam Ratulangi
- Oksfriani
Jufri Sumampouw- Universitas Sam Ratulangi
- Alexander
Sam Leonard Bolang- Universitas Sam Ratulangi
- Margaretha
Rosalinda Sapulete- Universitas Sam Ratulangi
Sumber Penelitian
Trisyani, N., Sinolungun, J. S. V., Sumampouw, O. J., Bolang, A. S. L., &
Sapulete, M. R. (2026). "The Work Accidents in Educational Laboratories:
An Analysis of Behavioral and Environmental Factors in the Safety Triad
Perspective". International Journal of Integrated Science and
Technology (IJIST), 4(4), 221-233.
DOI:
https://doi.org/10.59890/ijist.v4i5.1.
URL: https://journalijist.my.id/index.php/ijist

0 Komentar