Mengajar
secara luas dianggap sebagai profesi yang menuntut secara emosional, di mana
para pendidik sering menghadapi tingkat stres kerja yang tinggi dan berbagai
tantangan di lingkungan sekolah. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal
of Educational Analytics (JEDA) pada Mei 2026 oleh Nestle C. Marco dan Dr.
Edward C. Jimenez meneliti pengaruh kecerdasan emosional (EI) dan stres kerja
terhadap produktivitas guru sekolah dasar negeri di Distrik Bocaue, Filipina.
Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana faktor-faktor tersebut
berinteraksi dalam membentuk kinerja instruksional.
Konteks dan Metodologi
Guru
sekolah negeri di Filipina menghadapi stres yang signifikan akibat beban
mengajar yang berat, tugas ekstrakurikuler, dan kondisi kerja yang menantang,
yang dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan rasa pencapaian pribadi.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif-korelasional dengan analisis
regresi, yang melibatkan 261 responden guru. Studi ini bertujuan untuk
menentukan bagaimana EI dan stres kerja memengaruhi produktivitas—yang
didefinisikan melalui tugas-tugas seperti perencanaan pembelajaran, penyampaian
instruksional, dan manajemen kelas.
Temuan Utama
Para peneliti mengidentifikasi beberapa tren signifikan mengenai
kesejahteraan dan kinerja guru:
- · Kecerdasan Emosional (EI): Guru menunjukkan tingkat kecerdasan emosional keseluruhan yang tinggi, dengan kompetensi yang kuat dalam kesadaran diri (M=4.40) dan motivasi diri (M=4.23).
- · Stres Kerja: Guru melaporkan tingkat stres kerja yang moderat (M=3.94), di mana kondisi kerja (seperti tumpukan dokumen administratif dan lingkungan mengajar yang bising) menjadi pemicu stres yang paling menonjol (M=4.37) dibandingkan dengan stres terkait kurikulum atau manajemen kelas.
- · Produktivitas: Meskipun menghadapi tantangan, para guru menilai diri mereka "Sangat Produktif" dalam tugas-tugas instruksional inti mereka (M=3.69).
·
Hasil Regresi:
o EI ditemukan
memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik, namun negatif, terhadap
produktivitas (B=-0.313, p=.027),
yang menunjukkan bahwa guru dengan kecerdasan emosional tinggi mungkin
menginvestasikan energi yang cukup besar dalam dinamika sosial dan emosional
yang tidak sepenuhnya tertangkap oleh metrik produktivitas tradisional.
o Stres kerja tidak
menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap produktivitas
guru (B=-0.041, p=.098), yang
mengindikasikan tingkat ketahanan dan komitmen profesional yang tinggi yang
memungkinkan guru untuk mempertahankan kinerja bahkan di bawah tekanan.
Implikasi
Hubungan
negatif antara EI dan metrik produktivitas tradisional menunjukkan bahwa
pekerjaan mengelola hubungan interpersonal dan kebutuhan emosional siswa
merupakan aspek pengajaran yang berharga, namun sering kali tidak terukur.
Studi ini menekankan bahwa guru sangat tangguh dan mampu mempertahankan kinerja
tinggi meskipun berada dalam stres moderat. Penulis merekomendasikan agar
sekolah mendukung kontribusi holistik para pendidik dengan memperbaiki kondisi
kerja—khususnya dengan mengurangi beban administratif dan memastikan lingkungan
belajar fisik yang kondusif—untuk mendorong kemajuan pendidikan yang berkelanjutan.
Profil
Penulis:
- Nestle C. Marco: La Consolacion University Philippines.
- Dr. Edward C. Jimenez: La Consolacion University Philippines.
Sumber:
Marco, N. C., & Jimenez, E. C. (2026). Emotional Intelligence and Occupational Stress: Its Influence on Teacher's Productivity. Journal of Educational Analytics (JEDA), 5(2), 427-446.
DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i2.4
URL: https://journaljeda.my.id/index.php/jeda

0 Komentar