Kecerdasan Buatan Terbukti Gandakan Nilai Belajar Siswa Sekolah Dasar di Daerah Minim Teknologi

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS -  Tangerang - Implementasi teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendongkrak hasil belajar siswa sekolah dasar secara signifikan, bahkan di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur teknologi.

Temuan penting ini diungkapkan dalam penelitian terbaru tahun 2026 yang dilakukan oleh Agustinus Sembiring dan Theresia Herlina, dua peneliti dari Universitas Pradita, Tangerang. Studi yang dirilis dalam Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) edisi Mei 2026 ini memberikan bukti empiris baru bahwa pemanfaatan teknologi pintar mampu memangkas ketimpangan kualitas pendidikan di daerah rural atau semi-rural, khususnya dalam pembelajaran berbasis digital seperti materi coding.

Langkah ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan dasar yang selama ini masih didominasi oleh metode konvensional akibat keterbatasan perangkat dan jaringan. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan bantuan AI mengalami lompatan nilai akademis hingga dua kali lipat dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan metode biasa tanpa sentuhan teknologi cerdas.

Kesenjangan Teknologi di Sektor Pendidikan Dasar

Selama beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi machine learning dan generative AI telah mendominasi berbagai sektor, tidak terkecuali pendidikan. Namun, implementasi teknologi ini pada jenjang sekolah dasar masih belum merata. Sebagian besar kajian akademis terdahulu hanya berfokus pada lingkungan perkotaan atau perguruan tinggi yang memiliki fasilitas gadget dan internet memadai.

Kondisi berbeda dialami oleh sekolah-sekolah dasar di daerah rural, seperti di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di wilayah ini, sebagian besar aktivitas pembelajaran masih mengandalkan cara-cara lama yang berpusat pada guru. Meskipun sejumlah tenaga pendidik mulai melirik AI secara mandiri untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) atau mengurus administrasi kelas, integrasi AI secara langsung dalam proses interaksi belajar mengajar di kelas masih sangat terbatas.

Melihat celah tersebut, Agustinus Sembiring bersama Theresia Herlina melakukan pengujian langsung untuk melihat apakah AI tetap efektif jika diterapkan pada ekosistem pendidikan yang serba terbatas. Mereka berfokus pada siswa kelas 5 SD, usia yang dinilai telah memiliki kemampuan adaptasi digital dasar untuk menerima pembelajaran interaktif.

Metodologi Sederhana yang Akurat

Guna mendapatkan data yang valid dan objektif, tim peneliti dari Universitas Pradita ini menerapkan metode eksperimen semu (quasi-experimental design). Penelitian ini melibatkan sampel sebanyak 130 siswa kelas 5 dari sekolah dasar swasta di Kabupaten Karo.

Para siswa kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar secara adil:

  1. Kelompok A (Berbasis AI): Kelompok eksperimen yang mendapatkan materi pelajaran serta evaluasi berupa kuesioner interaktif yang ditenagai oleh sistem kecerdasan buatan adaptif.
  2. Kelompok B (Non-AI): Kelompok kontrol yang mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional menggunakan metode biasa tanpa melibatkan aplikasi cerdas.

Sebelum eksperimen dimulai, kedua kelompok diberikan ujian awal (pretest) untuk mengukur kemampuan dasar mereka. Setelah periode pembelajaran selesai, kedua kelompok kembali diuji melalui ujian akhir (posttest) serta pengisian kuesioner Evaluasi Kualitas dan Output Pembelajaran (EKOP) yang mengukur persepsi siswa terhadap kinerja pengajaran, motivasi, hingga kenyamanan iklim kelas.

Lompatan Hasil Belajar: Kelompok AI Unggul Mutlak

Hasil pengolahan data statistik menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara kedua kelompok siswa tersebut. Kelompok siswa yang belajar menggunakan teknologi AI mencatatkan peningkatan nilai yang luar biasa.

Rata-rata nilai ujian kelompok AI melonjak tajam dari 56,65 saat pretest menjadi 78,85 pada saat posttest. Artinya, terjadi pertumbuhan nilai rata-rata (gain score) sebesar 22,20 poin.

Sebaliknya, kelompok konvensional tanpa AI hanya mengalami kenaikan tipis, yaitu dari nilai rata-rata awal 57,15 menjadi 67,60 pada ujian akhir, dengan pertumbuhan nilai hanya sebesar 10,45 poin. Secara matematis, pertumbuhan hasil belajar siswa yang didukung AI mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan mereka yang belajar dengan metode biasa.

Melalui uji statistik komparatif (independent sample t-test), diperoleh nilai signifikansi yang sangat kuat (t = 15,15; p < 0,001). Angka ini menegaskan bahwa keunggulan kelompok berbasis AI ini bukan terjadi karena faktor kebetulan, melainkan berkat dampak positif dari teknologi adaptif itu sendiri.

Selain unggul dalam nilai ujian, data dari kuesioner EKOP memperlihatkan bahwa kelompok AI memperoleh skor tertinggi di seluruh indikator kualitas proses dan output pembelajaran. Sebagai contoh, pada indikator kinerja pengajaran, kelompok AI meraih skor rata-rata 4,25 dari skala 5, jauh melampaui kelompok non-AI yang hanya memperoleh skor 3,34. Teknologi AI dinilai berhasil meningkatkan keterlibatan aktif siswa, memicu rasa ingin tahu, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah sejak dini.

Implikasi Luas Bagi Kebijakan Publik dan Dunia Pendidikan

Keberhasilan eksperimen di Kabupaten Karo ini membawa dampak besar bagi masa depan pendidikan. Studi ini mematahkan anggapan bahwa teknologi canggih seperti AI hanya cocok diterapkan di sekolah-sekolah elite perkotaan. Pemanfaatan AI terbukti mampu menjadi solusi instan untuk menghadirkan sistem "tutor pribadi" bagi anak-anak di daerah minim fasilitas, membantu guru memetakan kesulitan belajar siswa secara otomatis dan real-time.

Bagi pembuat kebijakan publik dan dinas pendidikan, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi kuat agar program digitalisasi sekolah tidak hanya berhenti pada pembagian laptop, melainkan harus disertai penyediaan perangkat lunak berbasis AI yang ramah anak. Guru-guru di daerah rural perlu mendapatkan pelatihan intensif agar mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam mempersonalisasi materi ajar sesuai kecepatan belajar masing-masing murid.

Profil Peneliti

Agustinus Sembiring, S.Kom., M.T. adalah dosen dan peneliti di Universitas Pradita, Tangerang. Ia memiliki keahlian di bidang Teknologi Pendidikan, Kecerdasan Buatan, dan pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi digital. Rekam jejak penelitiannya berfokus pada pemanfaatan platform adaptif untuk peningkatan literasi anak di daerah terbatas.

Theresia Herlina, S.Pd., M.Pd. adalah akademisi dari Universitas Pradita yang mendalami bidang Kurikulum, Evaluasi Pendidikan, dan Metode Pembelajaran Sekolah Dasar. Ia aktif melakukan kajian terkait optimalisasi manajemen kelas berbasis teknologi untuk mendukung pengembangan kompetensi abad ke-21.

Sumber Riset Resmi:

Judul Artikel Jurnal: The Use of AI in Education to Improve Elementary School Students' Learning Outcomes

Penulis: Agustinus Sembiring & Theresia Herlina (Universitas Pradita)
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Volume 5, Nomor 5, Tahun 2026, Halaman 733-746.
Digital Object Identifier (DOI): https://doi.org/10.55927/ijar.v5i5.16539

Posting Komentar

0 Komentar